Posted by: Muhammad Wildan | 20 March 2017

Aksi Damai 411-212, Kesalehan Populer, & Identitas Muslim Perkotaan Indonesia

Aksi Damai 411-212, Kesalehan Populer, & Identitas Muslim Perkotaan Indonesia
Muhammad Wildan
(Dimuat di Jurnal MAARIF, Vol. 11, No. 2 Desember 2016)

Pendahuluan
Demonstrasi kolosal yang lebih dikenal dengan Aksi Damai 411 dan 212 menyisakan banyak hal menarik. Selain karena aksi itu diikuti oleh jutaan orang yang datang dari berbagai daerah dengan berbagai moda transportasi, aksi itu juga diikuti oleh berbagai elemen masyarakat. Genderang yang ditabuh oleh Habieb Rizieq sebagai imam besar Front Pembela Islam (FPI) diikuti dan diamini oleh hampir semua organisasi Islam baik secara individu maupun organisasi. Di luar tuntutan politis untuk segera menghukum Ahok yang diduga menistakan agama (#PenjarakanAhok), aksi damai ini bisa dilihat dari beberapa perspektif diantaranya adalah dari budaya popular.
Di tengah maraknya Islamisasi Indonesia dan juga penetrasi Islam trans-nasional, Islam perkotaan mulai menjamur dan menampakkan eksistensinya. Secara umum bisa ditengarai bahwa aksi bela Islam I hingga III lebih banyak diwarnai oleh kelompok Muslim perkotaan. Di tengah memudarnya batasan-batasan Islam tradisional, gugus Muslim moderat perkotaan mulai terbentuk seiring dengan munculnya banyak program keagamaan di televisi dan ustaz seleb. Isu politik saja mungkin tidak akan cukup untuk menarik jutaan orang ke Jakarta, tapi karena dibarengi isu etnis dan agama. Oleh karena itulah, aksi damai yang berawal dari isu pemilihan gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta bisa menjadi isu nasional yang bisa jadi terus berkembang dan bahkan melebar ke isu yang lain.

Secara umum banyak pihak yang menengarai bahwa Aksi Bela Islam 411 dan 212 ini merupakan puncak dari konservatisme Islam Indonesia. Walaupun Islam Indonesia sudah banyak dikenal sebagai Islam yang telah mengalami pribumisasi sehingga ramah dan toleran, sejak akhir 1990-an bisa ditengarai bahwa Islam Indonesia telah mengalami banyak perubahan. Beberapa kasus intoleransi, konflik antar agama-etnis, hingga kekerasan (violence) atas nama agama (Islam) telah merubah wajah Islam Indonesia. Di sisi lain, Indonesia memang sedang mengalami proses demokratisasi dimana intoleransi dan konflik bisa jadi merupakan bagian dari dinamikanya, yaitu pencarian kembali identitas negara-bangsa Indonesia. Jika demikian, masa depan Islam Indonesia menarik untuk dikaji khususnya dari perspektif gugus baru Muslim Indonesia.

Re-Islamisasi, Konservatisme, & Gaya Hidup Beragama
Sejak awal 1980-an, re-Islamisasi sudah mulai marak dan berkembang. Depolitisasi Islam sejak tahun 1970-an telah mendorong Muslim Indonesia untuk lebih mengedepankan kesalehan pribadi daripada aktif di ranah politik. Sejak itulah gugus Muslim perkotaan yang jauh dari hingar-bingar politik mulai terbentuk. Proses re-islamisasi mulai menyeruak masuk Indonesia tahun 1980-an ketika Saudi Arabia melalui Rabithah ‘Alam Islami (RAI) mengintensifkan dakwah di Indonesia melalui Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII)-nya Mohammad Natsir (m.1993). Reformasi di akhir abad ke-20 telah menghantarkan Muslim Indonesia untuk lebih terlihat di ranah politik dan juga publik. Hal ini juga didorong oleh globalisasi dan modernisasi dimana Islam trans-nasional semakin mempengaruhi corak Islam nusantara. Dalam perspektif budaya populer, modernisasi, globalisasi, dan re-islamisasi saling berkelit-berkelindan membentuk pola baru beragama dimana seorang Muslim bisa menjadi modern dan taqwa pada saat yang sama.
Euforia reformasi telah membuka katub-katub demokratisasi. Di ranah politik, menjamurnya partai Islam pada pemilu 1999 hingga 2009 telah membuktikan “kerinduan” mendalam umat Islam akan politik. Organisasi-organisasi sosial keagamaan juga tumbuh dan berkembang seiring dengan keinginan umat Islam untuk dapat terlibat dalam pembentukan kembali negara-bangsa Indonesia di tengah euforia demokratisasi.
Di ruang publik, Muslim Indonesia juga semakin menampakkan eksistensinya. Pertumbuhan spirit Islam yang sangat signifikan tidak hanya di bilik-bilik privat seperti di masjid dan fesyen Islami, tapi sudah muncul di ruang publik seperti program TV, bank Syari’ah, hotel Syari’ah, sekolah Islami, rumah sakit Islami, sertifikasi halal di gerai-gerai fastfood asing, wisata Islami dan lain-lain. Terlepas dari diskursus bahwa itu semua merupakan bagian dari komodifikasi dan komersialisasi agama, fenomena di atas menandakan semakin meningkatnya kesadaran relijius masyarakat Indonesia.
Di sisi lain, fenomena Islamisasi di berbagai ranah kehidupan juga bukan ‘pepesan kosong’ karena seberapapun dangkalnya artikulasi dan makna Islam tersebut tetap berpengaruh terhadap pemaknaan agama dan spiritualitas di beberapa segmen masyarakat, khususnya semakin kuatnya gugus Muslim perkotaan. Bagaimanapun, pertumbuhan kesadaran keagamaan dan segala bentuk kesalehan publik tersebut di atas tetap akan mempunyai pengaruh secara dinamis di level politik, sebagaimana disinyalir oleh Saba Mahmoud terjadi di Mesir. Di tengah maraknya islamisasi ini, kontestasi dan dinamika Islam juga terus bergerak seiring dengan maraknya penggunaan internet dan media sosial. Penulis meyakini bahwa gugus Muslim perkotaan terus mengalami dinamika yang diperebutkan oleh banyak kutub-kutub Islam. Bahkan, ketaatan beragama dan kesalehan sosial menjadi ikon yang diperebutkan dan bahkan dikomersialkan.
Globalisasi dan modernisasi sebagai media transformasi sosial dan budaya telah merubah perilaku keagamaan masyarakat perkotaan secara dramatis hingga terguncangnya identitas keagamaan mereka. Transformasi sosial-budaya secara global mengarahkan masyarakat modern untuk beragama secara ekletik dan bahkan hybrid. Di tengah memudarnya ikatan-ikatan Islam tradisonal, pengaruh Islam global dan trans-nasional semakin menguat. Forum-forum majelis taklim sudah digantikan dengan grup-grup online di media sosial yang sarat akan pengetahuan dan dogma-dogma keagamaan. Walhasil, otoritas keagamaan juga mengalami perubahan signifikan. Dahulu, kyai atau ulama di level lokal merupakan tokoh yang paling otoritatif dalam hal agama. Saat ini, modernisasi agama telah merubah website, blog, dan ustaz seleb sebagai entitas yang dianggap paling otoritatif dalam agama.
Seiring dengan merebaknya dakwah Salafisme, literalisme yang merupakan salah satu karakter utamanya menjadi tantangan baru Islam Indonesia. Interpretasi agama yang cenderung monolitik ini sedang “mewabah” pada masyarakat Islam Indonesia dan beberapa kasus telah mengakibatkan berkembangnya ekstremisme dan radikalisme. Dikuatirkan, wabah konservatisme dan literalisme juga akan menggerogoti identitas Islam Indonesia sebagaimana telah terjadi pada beberapa agama negara seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Namun demikian, pada masyarakat modern seperti saat ini, perbedaan (diferensiasi) tetap merupakan tanda yang paling signifikan, termasuk dalam hal beragama. Dengan kata lain bahwa identitas Muslim khususnya perkotaan tetap sangat beragam. Oleh karena itu, agama bukan hanya merupakan sumber nilai dalam kehidupan, tapi lebih merupakan instrumen bagi gaya hidup beragama. Naik haji, sebagai suatu ibadah yang sangat sakral misalnya, telah dianggap oleh masyarakat Muslim modern sebagai bentuk cultural strategy of self definition. Demikian pula ibadah-ibadah atau perilaku keagamaan lain, bisa jadi tidak hanya dipahami karena memiliki nilai etis-spiritual, tapi juga estetis.

Demonstrasi & Kesalehan Populer
Aksi Damai 411 dan 212 memang merupakan sebuah fenomena yang spektakuler. Sudah bisa dipastikan bahwa peserta aksi yang mencapai jutaan orang itu terdiri dari berbagai kelompok dan elemen masyarakat. Front Pembela Islam (FPI) yang semula sering dijuluki oleh sebagian orang sebagai organisasi ‘preman berjubah’ karena perilaku anarkisnya sontak menjadi heroik dan dikagumi banyak pihak. Tidak mengherankan bila Habieb Rizieq yang selama ini dikenal sebagai tokoh agama “pinggiran” tiba-tiba menjadi tokoh agama sentral. Bahkan akhir-akhir ini beberapa tokoh agama mengangkatnya sebagai ulama dan bahkan imam besar umat Islam. Penulis melihat bahwa kasus ini bukan siapa yang mengusung isu (Habieb Rizieq), tapi lebih pada isu yang diusungnya itu telah menyentuh dan bahkan menantang identitas Muslim (penistaan agama).
Sejauh penulis amati dari aksi damai itu, ada beberapa hal menarik untuk dilihat dan dipelajari. Pertama, tidak sedikit peserta aksi damai itu yang tidak memahami substansi permasalahan. Didorong oleh dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagaimana didakwakan oleh MUI lewat “Pendapat dan Sikap Keagamaan MUI” (bukan fatwa) serta Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) ribuan bahkan mungkin jutaan umat Islam berbondong-bondong datang ke Jakarta. Memang bisa dipahami bahwa mayoritas peserta aksi tidak mempunyai kapasitas keagamaan yang memadai untuk mengatakan penyataan Ahok itu menistakan atau tidak. Partisipasi demikian banyak Muslim dalam aksi damai, menurut penulis, lebih banyak dipengarui sentimen agama. Agama itu masalah yang sangat prinsip dan bahkan sakral dalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu, walaupun keikutsertaan dalam aksi damai tidak bisa secara sederhana menjadi parameter dalamnya iman dan taqwa seseorang, tapi secara umum orang yang terlibat dalam aksi dianggap mempunyai komitmen Islam yang lebih tinggi. Jadi, keterlibatan dalam aksi damai 411 atau 212 berkaitan dengan identitas Muslim.
Kedua, walaupun tidak sedikit organisasi sosial keagamaan yang terlibat dalam aksi, namun hanya beberapa organisasi Islam moderat yang secara resmi mendukung aksi tersebut. Sejauh penulis menengarai, Muhammadiyah dan NU tidak mendukung aksi tersebut secara resmi, bahkan cenderung tidak setuju dan melarang anggotanya membawa atribut organisasi. Dengan kata lain bahwa pro-kontra seputar aksi damai 212 juga cukup signifikan. Hal ini menyiratkan bahwa organisasi-organisasi Islam tersebut lebih menyakini mekanisme demokrasi yang lain untuk menyampaikan aspirasi mereka untuk tetap memproses kasus hukum Ahok. Berbeda dengan Muhammadiyah dan NU, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sekaligus organisasi dakwah ini secara resmi mendukung aksi bela Islam jilid III (212) dan juga agenda GNPF MUI untuk mengusut kasus Ahok hingga tuntas.
Ketiga, aksi damai 411 dan 212 diikuti oleh beberapa ustaz seleb seperti Abdullah Gymnastiar, Yusuf Mansur, Subkhi Al-Bughury, dan Felix Siauw. Sebagai ustaz yang sedang popular di masyarakat khususnya kelas menengah, mereka mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi massa khususnya untuk terlibat dalam aksi damai jilid II dan III itu. Di lain pihak, secara umum Muslim Indonesia kelas menengah sangat dekat dengan figur-figur ustaz seleb di atas. Keterlibatan beberapa ustaz popular tersebut secara langsung merupakan magnet bagi Muslim menengah untuk datang dan berpartisipasi di event yang sangat fenomenal tersebut, sekaligus bergabung bersama ustaz tokoh figur mereka. Selfie-selfie sesama peserta atau bersama dengan ustaz juga menegaskan fenomena budaya popular dalam aksi bela Islam tersebut dilakukan secara santai dan penuh kegembiraan.
Keempat, tidak sedikit saksi dan reportase yang menengarai bahwa aksi damai 212 mirip sebagai festival milik umat Islam atau lebih tepat disebut sebagai sebuah selebrasi. Di tengah kekecewaan sebagian umat Islam terhadap politik yang dimainkan Presiden Jokowi yang cenderung ke kiri, umat Islam mendapatkan momentumnya untuk bersatu bersama mengekspresikan aspirasi mereka dalam bentuk aksi damai. Ini juga bisa dianggap sebagai sebuah selebrasi kemenangan umat Islam. Jumlah peserta demonstrasi yang fantastis ini sangat membanggakan bagi peserta aksi dan juga romantisme 212 terus dilakukan oleh para peserta untuk aksi yang lain atau untuk mengkontruksi wacana publik. Ariel Heryanto mendefiniskan bahwa keramaian publik, parade, atau festival bisa dianggap sebagai bentuk budaya populer yang tidak ada hubungannya dengan industrialisasi atau suatu komoditas tertentu sebagaimana budaya populer yang lain.
Aksi bela Islam III (212) menandakan kekuatan publik dan absennya hegemoni negara. Walaupun sempat ada upaya-upaya “negara” untuk membatalkan aksi ini, namun resistensi masyarakat justru semakin banyak mengundang massa. Menurut psikologi massa, lautan manusia yang demikian banyak dalam aksi sangat rentan untuk berbuat kekerasan dan anarkis. Walaupun ada beberapa kasus kecil bentrok dengan aparat, media massa atau provokator, aksi ini terlaksana dengan super damai. Ini semua menandakan bahwa kekuatan non-negara sangat dominan. Ini bisa menjadi parameter keberhasilan demokratisasi (bukan otoritarian) karena kelas menengah Muslim (bukan aristokrat) hadir dan menjadi mediator antara negara (birokrat) dan rakyat kecil (grassroot).

Identitas Muslim dan Demokratisasi Ruang Publik
Walaupun sebagian kelompok konservatif masih sibuk tarik-ulur apakah demokrasi kompatibel dengan Islam, aksi damai 411 dan 212 bisa ditengarai sebagai bagian dari euforia demokratisasi. Kegagalan Islam politik pada era Orde Lama dan Orde Baru direspon secara positif oleh umat Islam dan melahirkan pola perjuangan kultural yang akomodatif terhadap pemerintah mulai akhir Orde Baru. Lebih-lebiih era reformasi telah membuka lebih banyak katub-katub demokrasi.
Era reformasi merupakan struktur kesempatan politik (political opportunity structure) bagi umat Islam Indonesia untuk terlibat aktif dalam pembentukan kembali negara-bangsa Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan oleh beberapa kelompok umat Islam untuk mendapatkan eksistensinya seperti wacana syari’ah Islam, khilafah, hingga maraknya perda syari’ah di berbagai daerah. Sejauh itu diperjuangkan di ranah publik, menurut hemat penulis itu sah-sah saja sebagai mekanisme dan dinamika demokrasi. Penulis juga berpendapat bahwa intoleransi, konflik, bahkan radikalisme yang terjadi di Indonesia sejak era reformasi merupakan bagian dari proses demokratisasi. Secara metafor Sindhunata menggambarkan bahwa Indonesia di era reformasi ini bagaikan seorang ibu yang sedang hamil besar dan akan segera melahirnya “bayi besar”, negara-bangsa Indonesia baru. Konflik dan kekerasan merupakan proses “sakit” bagi ibu yang sedang akan melaahirkan bayi tersebut.
Di era kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, wacana dan narasi publik dikontestasikan baik di ruang publik maupun dunia maya. Walaupun demikian, seiring re-islamisasi yang sedang marak di dunia secara global tidak diragukan bahwa ada indikasi dominasi Islam konservatif di ranah dunia maya dan media sosial. Sejauh bisa ditengarai, situs (website) dan konten media sosial dari kelompok Islam konservatif jauh lebih banyak dan intens daripada milik kelompok Islam moderat dan progresif. Penulis meyakini bahwa dalam konteks ini juga proses demokratisasi sedang berjalan; proses pencarian identitas Muslim Indonesia juga belum sepenuhnya selesai. Nilai-nilai agama yang interpretatif juga merupakan kontestasi yang idealnya bukan otoritas suatu kelompok tertentu. Inilah demokratisasi di ruang publik.
Walaupun demikian, tidak diragukan bahwa kelompok Islam moderat dan progresif juga cukup signifikan di negeri ini. Penulis menyakini bahwa kontestasi di ruang publik akhir-akhir ini kurang seimbang sehingga nampaknya kelompok konservatif dan Islamis jauh lebih dominan. Itu semua itu merupakan proses reproduksi nilai-nilai budaya (termasuk agama) dalam rangka pembentukan identitas Muslim Indonesia yang baru. Maraknya perda Syari’ah di beberapa daerah dan bahkan munculnya dewan Syari’ah di sebuah kota tidak bisa secara simplistik bisa dikatakan bahwa kelompok Islamis telah memenangkan kontestasi narasi publik.
Aksi damai 212 dan tuntutan untuk memenjarakan Ahok sejauh penulis amati masih dalam koridor demokratisasi (di ruang publik). Ketika katub-katub demokrasi tidak berjalan dengan baik, maka aksi massal turun ke jalan merupakan cara yang paling sederhana untuk menekan para pengambil kebijakan dalam penegakan hukum. Di negara-negara yang paling demokratis sekalipun seperti di Amerika utara atau di Eropa Barat misalnya, aksi turun ke jalan secara massal masih sering digunakan untuk menunjukkan kekuatan massa dan aspirasi rakyat banyak. Sejauh demonstrasi dilakukan tidak anarkis dan tuntutan juga sesuai dengan konstitusi, itu masih dalam koridor demokrasi. Semakin besarnya massa demo mungkin bisa menguatkan pressure terhadap pengambil kebijakan, tapi tidak bisa menjadi indikator kebenaran.

Kesalehan Populer dan Muslim Perkotaan
Re-Islamisasi di Indonesia sejak pertengahan Orde Baru telah berhasil menjadikan Muslim Indonesia lebih saleh (pious). Dua fenomena yang bisa menjelaskan proses transisi ini, yaitu kesalehan popular dan gugus Muslim perkotaan. Modernisasi khususnya dalam teknologi informasi telah merubah dengan cepat wajah Muslim Indonesia. Dulu pada paruh pertama Orde Baru Muslim cenderung takut untuk menampilkan identitas Islam mereka karena pemerintah lebih represif terhadap Muslim. Bentuk-bentuk visual dari budaya dan nilai-nilai Islam hampir bisa dipastikan tidak memungkinkan untuk ditampilkan secara publik.
Sejak 1990-an dimana umat Islam sudah mulai akomodatif, pemerintah Orde Baru mulai dekat dengan umat Islam. Pemerintah secara kontinue mendorong kesalehan pribadi dengan membangun masjid-masjid di daerah-daerah dan juga menyelenggarakan berbagai event budaya Islam di tingkat nasional. Seiring dengan reformasi dan modernisasi teknologi informasi, berbagai fenomena Islam bermunculan baik itu di ruang publik maupun di media elektronik. Kesalehan yang semula lebih bersifat personal sudah mulai bergeser pada kesalehan popular (popular piety). Secara umum bisa dikatakan bahwa ketika nilai dan norma Islam sudah mulai bergeser dari etis-ideologis ke estetis, itulah kesalehan populer. Sebagai contoh, hijab tidak hanya sebagai pemenuhan kewajiban sebagai seorang muslimah, tapi juga sebagai sebuah trend berbusana modern. Demikian pula ibadah umrah dan haji bersama selebriti yang mulai menjamur diminati banyak kalangan. Terlihat adanya pergeseran makna haji dan umrah tidak hanya bermuatan etis-ideologis, tapi juga pemenuhan kebutuhan estetis dan kesenangan (pleasure).
Demokratisasi dan pertumbuhan ekonomi telah berpengaruh positif terhadap munculnya kelas menengah Muslim. Tidak disangkal lagi bahwa partisipasi Muslim sebagai warga negara mayoritas di Indonesia dalam pembangunan negara-bangsa telah berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi negara di satu sisi, dan juga terbentuknya kelas menengah Muslim di sisi yang lain. Pada tahap selanjutnya kelas menengah Muslim inilah yang paling berperan dalam pembentukan identitas Muslim baru dengan berbagai wacana dan diskursus naratif di sekitar mereka. Secara umum bisa dikatakan bahwa kelompok inilah yang disebut dengan kelas menengah Muslim perkotaan.
Kelas menengah Muslim perkotaan adalah gugus baru dalam struktur sosial masyarakat Indonesia yang paling cepat mendapatkan pengaruh globalisasi dan modernisasi di satu sisi, dan di sisi lain juga paling berpengaruh dalam narasi nasional Indonesia. Gugus baru inilah yang selain merupakan kelompok rasional atau terdidik, juga yang punya akses paling banyak dan cepat pada isu-isu nasional, termasuk politik. Sebagai Muslim perkotaan yang dimana ikatan-ikatan tradisional semakin memudar, visibilitas Islam di ranah publik dan kehadiran ustaz-ustaz seleb di ruang-ruang privat mereka telah menjadikan kelompok ini adalah yang paling “rentan” terhadap propaganda dan isu-isu sentimen ideologis.
Kelompok inilah menurut hemat penulis yang paling aktif dalam aksi bela Islam 411 khususnya 212. Secara praktis, gugus ini merupakan kelompok yang paling cepat mendapatkan informasi baik itu melalui media elektronik ataupun media sosial. Di sisi lain, kelompok ini juga yang paling banyak mengkonsumsi pengajian-pengajian ustaz seleb di media elekronik. Tidaklah mengherankan bisa gugus kelas menengah Muslim perkotaan adalah yang paling dominan dalam aksi damai tersebut.
Pada tahap selanjutnya, kelompok ini juga yang paling cepat merespon pasca aksi damai. Dengan didukung oleh kekuatan media sosial, kelompok ini memanfaatkan spirit relijiusitas 212 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi umat Islam, yaitu mendorong tumbuhnya enterpreuner di kalangan Muslim. Diantaraya adalah munculnya beberapa produk Islam seperti Koperasi Syariah 212, waralaba Muslim 212 Mart (M 212 M), Roti Maida (dari kata Al-Maidah, ayat yang diduga dicelehkan Ahok) dll. Itu semua akan memperkuat eksistensi kelas menengah Muslim perkotaan dan pada jangka panjang juga kekuataan ekonomi dan kapitalisme Islam.

Memenangkan Masa Depan Islam Indonesia
Aksi damai 411 dan 212 di satu sisi telah memukau berbagai kelompok Muslim, di sisi lain aksi ini juga mengagetkan beberapa pihak lain. Berbagai segmen umat Islam menyadari bahwa demonstrasi kolosal itu menyiratkan potensi besar yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umat Islam Indonesia. Di sisi lain, beberapa pihak khususnya para sarjana dan pengamat kaget karena aksi damai 411 dan 212 bisa jadi merupakan indikasi perubahan peta Islam Indonesia menuju Islamis.
Tidak diragukan lagi bahwa sebagai bagian dari dunia global, Indonesia juga terpapar akan fenomena global islamisme-salafisme yang sedang menjangkiti seluruh dunia Muslim. Hal ini juga berbarengan dengan euforia demokratisasi yang juga masih menggema di negara ini. Modernisasi, globalisasi sekaligus Islamisasi sedang berlangsung bersama-sama di Indonesia. Berbeda dengan trend umum yang biasa terjadi di berbagai negara di Barat dimana modernisasi dan globalisasi selalu diikuti oleh rasionalisme dan sekularisme dimana agama termarginalkan, modernisasi dan globalisasi di negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia ini dibarengi dengan maraknya spiritualisme dan konservatisme. Oleh karena itu, sebagian sarjana menengarai adanya multiple modernity, yaitu bahwa modernitas di dunia Muslim bisa jadi berbeda dengan modernitas di Barat. Bahkan, kapitalisme yang selama ini sering dimusuhi oleh beberapa kelompok konservatif ternyata juga bisa hidup berdampingan dan bersekutu dengan agama (Islam). Meningkatnya konsumsi produk-produk keagamaan karena modernisasi dan kapitalisasi justru sering menjadi penanda mobilitas sosial.
Penulis meyakini bahwa gugus baru kelas menengah Muslim perkotaan tetap berjalan secara dinamis dan akan menjadi barometer Islam Indonesia. Sejauh kontestasi wacana di ruang publik terus berjalan (dan pasti akan terus berlangsung), penulis memastikan bahwa kelas menegah Muslim perkotaan akan tetap pada jalur moderat. Kekhawatiran banyak pihak bahwa aksi 411 dan 212 adalah indikasi maraknya Islamisme kurang mendasar karena aksi itu telah diboncengi berbagai kepentingan tidak hanya politik namun juga sentimen ekonomi, agama, dan etnis. Kontestasi dan dialektika narasi di ruang publik akan terus bergulir dan dalam konteks inilah parameter Islam ke-Indonesiaan akan terus berperan. Dalam kondisi inilah akan terbentuk apa yang disebut oleh Vedi Hadiz sebagai populisme Islam (Islamic populism), yaitu aliansi berbagai kelas dalam gerakan Islam. Penulis meyakini bahwa kelas menengah Muslim perkotaan sebagai kekuatan dominan akan punya pengaruh besar dalam gerakan Islam antar-kelas ini.
Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa salah satu karakter paling signifikan bagi masyarakat modern dimana arus informasi begitu deras dan beragam adalah diferensiasi (perbedaan-perbedaan). Dalam konteks Timur tengah, Vali Nasr menegaskan bahwa pertumbuhan kelas menengah Muslim akan mengalahkan pertumbuhan ekstremisme. Senada dengan di Timur Tengah, pertumbuhan kelas menengah Muslim di Indonesia akan semakin mendorong menyebarnya nilai-nilai modern seperti perdamaian, keamanan, demokrasi, kebebasan, hak asasi manusia, toleransi beragama sehingga Islamisme, ekstemisme, dan radikalisme Islam akan tertinggal jauh dalam kontestasi di ruang publik.
Walaupun demikian, penulis tidak menafikan adanya trend Islam Indonesia yang sedang mengarah pada konservatisme. Tidak diragukan lagi bahwa Islam dan Muslim Indonesia banyak dipengaruhi oleh menglobalnya dakwah salafisme. Senada dengan Andrée Feillard & Rémy Madinier, penulis meyakini bahwa merebaknya konservatisme Islam Indonesia akhir-akhir ini merupakan keragaman (diversity) beragama dan tidak akan membahayakan kebhinekaan Indonesia. Gugus kelas menegah Muslim adalah kelompok terdidik rasionalis yang menganggap bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati. Oleh karena itu, berbagai bentuk ancaman terhadap NKRI seperti ultra-konservatisme, ektremisme dan radikalisme akan menjadi musuh bersama. Dimungkinkan bahwa masa depan Islam Indonesia bisa mengalami perubahan yang menurut penulis akan tetap pada koridor Islam Indonesia yang ramah dan toleran.
Akhirnya, penulis meyakini bahwa post-Islamisme akan menjadi masa depan Islam Indonesia. Sejalan dengan pengalaman beberapa negara di Timur Tengah yang menjadi acuan kajian Asef Bayat sehingga memunculkan konsep post-Islamisme, idealisme Muslim Indonesia juga tetap berislam secara baik dan menggunakan mekanisme demokrasi untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam. Dengan paradigma yang sama, Ariel Heryanto menegaskan bahwa post-Islamisme dalam konteks Indonesia bukan politik tapi kultural. Ia melihat bahwa Islam Indonesia lebih mengarah pada ketaqwaan relijius yang populer, yaitu mengedepankan substansi (nilai-nilai) Islam ada di ruang-ruang publik daripada Islam sebagai formalitas di ranah politik. Bahkan, post-Islamisme yang berkembang di Indonesia bukan karena kegagalan Islam politik, tapi karena sikap represif Orde Baru yang memunculkan ketaqwaan di ranah kultural.

Kesimpulan
Globalisasi dan modernisasi telah banyak merubah wajah Islam Indonesia dengan meluasnya diferensiasi dan orientasi keagamaan. Arus informasi melalui teknologi dan media baru merupakan alternatif-alternatif nilai bahkan ideologi bagi manusia modern. Pada saat yang sama seorang manusia modern dengan mobilitas yang tinggi mulai kabur identitas kebudayaan asalnya (deteritorialisasi). Sistem referensi individu dalam beragama juga sudah mengalami perubahan yang signifikan yang sulit dikontrol secara kolektif. Aksi damai 411 dan 212 bisa saja dianggap sebagai deteritorialisasi agama (Islam). Islam Indonesia sedang mengarah pada corak Islam global atau Islam salafi ala Timur Tengah?
Di sisi lain, agama pada dasarnya sangat adaptif dan responsif terhadap suatu konteks sosial budaya. Kedatangan Islam (dari Saudi Arabia) ke wilayah Nusantara telah melahirkan karakteristik baru agama Islam. Oleh karena itu, walaupun pengaruh Islam global (Salafisme) sangat deras ke Indonesia, penulis menyakini bahwa karakteristik utama Islam Indonesia yang ramah dan tolerantetap akan menjadi karakter utama walaupun tentu mengalami dinamika penyesuaian. Nilai-nilai Islam yang telah mengakar kuat (indigenization) pada masyarakat Indonesia tetap akan dominan di tengah diferensiasi dan deteritorialisasi keagamaan seseorang. Islamisme atau ultra-konservatisme tidak akan menguat karena memang tidak mempunyai akar kuat di Indonesia.
Gugus masyarakat Muslim moderat perkotaan sebagai unsur dominan dalam aksi damai 411 dan 212 di satu sisi merupakan massa yang “rentan” terhadap arus informasi (nilai dan ideologis) dari berbagai arah. Namun demikian, sebagai kelompok Muslim moderat perkotaan yang mayoritas berpendidikan relatif tinggi tidak akan mudah merubah ideologinya, apalagi yang bertentangan secara diametral terhadap nilai-nilai ideologi kebangsaan mereka. Fakta menunjukkan bahwa Pancasila sebagai dasar dan filosofi negara tidak mendapatkan resistensi yang signifikan sejak era reformasi. Di sisi lain wacana daulah (negara) dan khilafah Islam juga hanya berkembang seputar segelintir kelompok tertentu saja. Sebagaimana telah dijelaskan, masa depan Islam Indonesia bisa jadi memang akan lebih konservatif seiring dengan maraknya gerakan dakwah Islam global (salafisme). Tapi penulis tetap meyakini bahwa gugus Muslim moderat perkotaan akan merupakan fondasi kokoh masa depan Islam Indonesia yang mengarah ke post-Islamisme.
Di tengah memudarnya ikatan-ikatan tradisional karena globalisasi dan modernisasi, kerja-kerja besar untuk menguatkan kembali nilai-nilai budaya lokal masih terus diperlukan. Dalam konteks inilah organisasi-organisasi besar moderat seperti Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) dan berbagai organisasi civil society (CSO) harus bekerja keras mengimbangi dakwah kelompok Islamisme dan ultra-konservatisme khususnya di ranah publik. Lebih dari itu, Muhammadiyah, NU, dan berbagai organisasi Islam moderat lainnya akan tetap menjadi penjaga gawang terhadap Pancasila dan NKRI. Hal ini selaras dengan pengamat Muhammadiyah kawakan, Mitsuo Nakamura, yang mengatakan bahwa Muhammadiyah sebagai salah satu contoh kelas menengah Muslim bisa menjadi jaring pengaman sosial (social safety net) ketika negara sedang mengalami krisis. Nakamura menambahkan bahwa Muhammadiyah akan berperan sebagai kekuatan yang luar biasa untuk menjembatani kesenjangan-kesenjangan sosial di Indonesia. Politisasi isu penistaan agama sebagaimana yang terjadi saat ini hanyalah riak-riak kecil demokratisasi yang tidak berpotensi memecah belah atau mengganggu kebhinekaan Indonesia.

Referensi:
Buku:
Abdullah, Irwan. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
Bayat, Asef. Making Islam Democratic: Social Movements and the Post-Islamist Turn. Stanford: Stanford University Press, 2007.
Eickelman, Dale. “Islam and the Languange of Modernity” in Daedalus, Vol. 129, No. 1, Multiple Modernities (MIT Press, Winter, 2000.
Fealy, Greg & Sally White. Ustadz Seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online Ragam Ekspresi Islam Indonesia Kontemporer. Jakarta: Komunitas Bambu, 2012.
Feillard, Andrée & Rémy Madinier, The end of innocence?: Indonesian Islam and the Temptation of Radicalism. Singapore: NUS, 2011.
Hefner, Robert W. Islam in Indonesia’s Political Future. Virginia: CAN Project Asia, 2002
Heryanto, Ariel (ed). Budaya Populer di Indoensia: mencairnya Identitas Pasca-Orde Baru. Yogyakarta: Jalasutra, 2012.
Heryanto, Ariel. “Upgraded Piety and Pleasure: The New Middle Class and Islam in Indonesian Popular Culture”, in A. N. Weintraub (ed.), Islam and Popular Culture in Indonesia and Malaysia, London: Routledge, 2011.
Heryanto, Ariel. Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia. Jakarta: Gramedia, 2015.
Ibrahim, Idi Subandy & Bachruddin Ali Akhmad, Komunikasi & Komodifikasi: Mengkaji Media dan Budaya dalam Dinamika Globalisasi. Jakarta: Obor, 2014.
Mahmood, Saba, Politics of Piety: The Islamic Revival and the Feminist Subject. New Jersey: Princeton University Press, 2005
Nasr, Vali. The rise of Islamic capitalism: why the new Muslim Middle Class is the key to defeating Extremism. New York: Free Press, 2009.
Sindhunata. Sakitnya melahirkan demokrasi. Yogyakarta: Kanisius, 2000.

Internet:
http://nasional.inilah.com/read/detail/2343444/muhammadiyah-apresiasi-aksi-212 https://www.tempo.co/read/fokus/2016/11/22/3390/rencana-demo-2-desember-warga-nu-dan-muhammadiyah-diminta-tak-ikut [diakses tanggal 26 Januari 2017].
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/869375-reaksi-habib-rizieq-dikukuhkan-jadi-imam-besar-umat-islam dan http://www.tarbawia.com/2017/01/video-kiyai-sepuh-nu-baiat-habib-rizieq.html [diakses tanggal 26 Januari 2017].
http://pks.id/content/pernyataan-sikap-pks-terhadap-aksi-bela-islam-iii [diakses tanggal 26 Januari 2017].
http://www.dobrak.net/2016/12/romantisme-aksi-212-kebanggaan-dan.html [diakses tanggal 26 Januari 2017].
http://www.sorgemagz.com/pemaparan-vedi-r-hadiz-di-bedah-buku-islamic-populism-in-indonesia-and-the-middle-east-l-depok-jawa-barat-24-agustus-2016/#.WI82XrFh2T8 [diakses 31 Januari 2017].
http://www.umm.ac.id/id/berita/prof-nakamura-muhammadiyah-social-safety-net.html [diakses pada 27 Januari 2017].

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: