Oleh: Muhammad Wildan | 25 Juli 2015

RAMADHAN DI EROPA

RAMADHAN DI EROPA
Muhammad Wildan

Terkadang saya berpikir bahwa Islam memang tidak cocok di Eropa (juga di negara Barat), apalagi berpuasa di Eropa. Ada beberapa fenomena yang mendasari asumsi saya. Pertama, waktu berpuasa yang relatif lebih panjang. Berpuasa Ramadhan di negara Eropa saat ini adalah di musim panas yang panjangnya berfariasi dari 18-21 jam. Di beberapa negara di Scandinavia seperti Norwegia dan Denmark, puasa akan jauh lebih panjang lagi karena matahari sudah tidak jelas kapan terbit dan tenggelamnya. Berpuasa panjang tahun ini alhamdulillah tidak begitu berat karena musim panasnya tetap dingin. Jauh lebih berat puasa di Pakistan yang terik hingga 45 drajat walaupun dengan waktu relatif lebih pendek. Berpuasa di Eropa akan menjadi lebih berat jika waktunya panjang sekaligus cuaca juga panas.

Kedua, tantangan dan godaan yang lebih berat. Sebagaimana kita ketahui bahwa ‘agama’ orang Eropa adalah humanisme, dengan dasar HAM dan menghormati hak dan tidak mengganggu orang lain. Ini berkaitan dengan 2 hal yaitu budaya makan di jalan dan berpakaian sekenanya. Karena mayoritas orang Eropa adalah non-Muslim, maka mereka bisa seenaknya makan dan minum di manapun bahkan tidak sedikit yang sambil jalan. Maka akan kita jumpai orang makan burger atau es di sebelah kita ketika kita duduk di bus yang dari baunya saja sudah menggoda. Atau pakaian wanita Barat di musim panas yang sekenanya yang sulit bagi kita untuk menghindar untuk tidak melihat karena saking banyaknya di jalanan. Kalau mau ‘aman’, mungkin orang Islam harus tinggal di rumah saja.

Ketiga, dan yang paling berat adalah suasana ramadhan yang tidak ada di Barat. Di Indonesia atau negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim. Tidak ada orang memasang spanduk yang berkaitan dengan Ramadhan, tidak ada orang berjualan makanan untuk berbuka, dan juga relatif sedikitnya masjid. Yang terakhir bagi saya yang cukup berat. Untuk menuju masjid sudah menjadi tantangan sendiri karena masjid relatif jauh, dan juga terawih yang berakhir sekitar jam 12.00 malam. Ditambah perjalanan pulang yang relatif membutuhkan waktu lama karena harus menunggu jadwal bus yang sudah mulai jarang di tengah malam. Belum lagi waktu subuh yang hanya tinggal beberapa jam lagi. Banyak hal yang ‘hilang’ ketika kita berpuasa Ramadhan di Eropa dibandingkan dengan berpuasa di Indonesia.

Namun, ini sudah menjadi konsekuensi kita bagi umat Islam, baik kemudahan maupun tantangannya. Kita tetap harus berkhusnudhan pada Allah bahwa Islam itu salihun likulli makaan wa zamaan, Islam itu cocok di semua tempat dan waktu. Seiring dengan pertumbuhan Muslim di Eropa, saya yakin bahwa komunitas-komunitas Muslim akan semakin banyak termasuk masjid-masjidnya. Dalam kondisi inilah maka ‘suasana’ Ramadhan akan semakin bisa diwujudkan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: