Oleh: Muhammad Wildan | 6 Oktober 2013

POLARISASI MASYARAKAT DAN GEJALA RADIKALISME DI PEDESAAN INDONESIA

Muhammad Wildan

Abstrak
Masyarakat pedesaan dikenal mempunyai peran signifikan secara kultural bagi bangsa Indonesia. Adalah masyarakat pedesaan yang masih menyimpan budaya kekerabatan, dan tradisi komunal seperti saling mengenal, gotong-royong, dan juga kerukunan beragama. Krakteristik utama masyarakat pedesaan lebih mengedepankan keharmonisan dan cenderung menghindari konflik. Seiring dengan modernisasi dan globalisasi, masyarakat pedesaan mengalami perkembangan yang sangat signifikan yang pada gilirannya merubah struktur dan budaya masyarakat pedesaan secara drastis. Globalisasi-lah yang telah menyamarkan batas-batas geografis dan kultural masyarakat pedesaan. Budaya dan agama yang pada awalnya bersinergis membentuk tatanan adat di masyarakat kemudian menjadi dua poros yang berseberangan. Merebaknya radikalisme agama dalam 12 tahun terakhir ini tidak hanya rentan pada masyarakat perkotaan, tapi juga masyarakat pedesaan. Tulisan ini berusaha untuk melihat bagaimana modernisasi dan globalisasi telah mengoyak dan mempolarisasikan masyarakat pedesaan sehingga radikalisme agama yang merupakan gejala trans-nasional akhirnya juga merebak di pedesaan. Tulisan ini memberikan beberapa langkah-langkah alternatif yang sebaiknya dilakukan oleh pengambil kebijakan untuk bisa mengembalikan pedesaan sebagai kantong-kantong kultural bangsa ini.

Keyword: komunal, modernisasi, globalisasi, polarisasi, radikalisme.

A. Pendahuluan
Masyarakat pedesaan Indonesia identik dengan identitas agaris dan kultural yang kuat. Bahkan bisa dikatakan bahwa masyarakat pedesaan berperan sebagai penjaga gawang terakhir budaya komunal masyarakat Indonesia. Karena budaya komunalnya inilah maka keharmonisan mayarakat pedesaan selalu bisa terjaga. Modernisasi dan globalisasi telah menyeruak dan menerobos batas-batas geografis dan kutural pedesaan sehingga budaya-budaya komunal masyarakat pedesaan yang menyimbulkan kekerabatan dan kebersamaan seperti gotong-royong dan kenduri sedikit demi sedikit mulai menghilang. Agama (Islam) juga mengalami perkembangan signifikan seiring dengan modernisasi dan globalisasi yang berujung pada masuknya paham-paham keagamaan yang sangat bervariasi di pedesaan. Adat dan agama yang semula berjalan beriringan kemudian berjalan sendiri-sendiri dan bahkan berseberangan seakan saling membahayakan. Kultur pedesaan tidak hanya memudar, tapi juga rentan terhadap gejala radikalisme agama yang tengah melanda bangsa Indonesia.
Budaya dan agama sebenarnya merupakan entitas yang tidak bisa dipisahkan dalam konteks masyarakat Indonesia. Sebagaimana terjadi dalam konteks masyarakat Eropa misalnya, budaya dan agama saling mengikat satu-sama lainnya, yaitu bahwa budaya masyarakat Barat saat ini muncul dari kehidupan beragama Kristen-Katholik yang telah ratusan tahun menjadi agama masyarakat Eropa. Agama Hindu, Budha, dan Islam telah menjadi agama mayoritas bangsa Indonesia selama ratusan tahun yang pada akhirnya juga telah membentuk budaya masyarakat Indonesia. Sehingga, secara umum bisa dikatakan bahwa budaya dan agama telah menyatukan masyarakat Indonesia, yang masih bisa dilihat dengan jelas di pedesaan. Para sarjana dan ulama menyakini telah terjadi percampuran beberapa ajaran agama dalam tradisi Jawa sehingga Islam Jawa mempunyai karakteristik yang berbeda dengan Islam di belahan dunia lain. Beberapa contoh tradisi Jawa seperti wayang, wiwit, kenduri, mitoni, brokohan, dan lain-lain merupakan tradisi pedesaan yang merupakan hasil percampuran antara budaya agama Hindu, Budha, dan Islam. Contoh konkrit yang masih nampak jelas dari percampuran agama dan budaya adalah keberadaan masyarakat Samin dan Tengger (Nurudin et al, 2003).
Seiring dengan modernisasi dan globalisasi, unsur-unsur agama juga mengalami perubahan yang signifikan. Di satu sisi agama melihat bahwa budaya (baca: adat) merupakan tantangan tersendiri bagi agama karena budaya/adat telah mereduksi ajaran-ajaran Islam. Di sisi lain, orang yang memperhatikan dan konsern terhadap budaya juga melihat bahwa agama telah membahayakan keberadaan adat dan tradisi masyarakat pedesaan Indonesia. Apalagi ketika agama juga bersentuhan dengan nilai-nilai trans-nasional yang cenderung “mengeras”. Dakwah puritanisme Islam pada khususnya sangat berhasil akhir-akhir ini karena didukung oleh faktor teknologi dan globalisasi. Berkembangnya aliran Islam Wahhabisme-Salafisme sangat mendorong pertentangan antara adat dan agama terutama di pedesaan yang pada gilirannya ketika bersentuhan dengan disparitas ekonomi berpotensi menumbuhkan radikalisme Islam.
Berbagai aksi kekerasan atau radikalisme Islam akhir-akhir ini mengagetkan banyak pihak tidak hanya karena Indonesia sebelumnya dikenal sebagai bangsa yang ramah, tapi juga bahwa radikalisme banyak melibatkan masyarakat pedesaan terutama di Jawa. Ironis memang bahwa mayoritas orang-orang yang terlibat dalam radikalisme agama atau yang oleh pemerintah disebut sebagai teroris bukan orang Batak atau Bugis yang dikenal “keras”, tapi justru orang Jawa yang dikenal ramah dan santun. Hal ini sangat menarik untuk dikaji. Tulisan ini berusaha untuk melihat fenomena Islamisme dan radikalisme di tingkat lokal yaitu pedesaan (khususnya Jawa) dan bagaimana upaya-upaya untuk mereduksi gejala tersebut.

B. Kultur Masyarakat Desa
Indonesia dikenal oleh bangsa-bangsa lain sebagai bangsa yang ramah. Ini jelas terbukti dengan berbagai fenomena seperti ramah dan murah senyum. Dalam konteks masyarakat Jawa, adalah masyarakat Solo dan Yogyakarta, sebagai pusat budaya Jawa, yang dikenal sebagai masyarakat yang halus dan santun. Hal ini dibuktikan dengan kecenderungan masyarakat Jawa untuk menerima berbagai budaya asing sejak dari budaya Hindu, Buddha, hingga Islam. Akulturasi budaya asing ke dalam budaya Jawa dan juga budaya masyarakat etnis lainnya di Indonesia menjadikan budaya bangsa Indonesia kaya akan berbagai tradisi keagamaan. Dunia Islam juga mengenal Islam Indonesia berbeda dengan di Timur Tengah karena Islam Indonesia dikenal sebagai Islam (Muslim) yang ramah. Islam yang berkembang di Indonesia pada awalnya adalah Islam mistik (Sufi) yang salah satu karakteristiknya adalah toleran dan akomodatif terhadap budaya dan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya termasuk yang merupakan budaya Hindu dan Budha. Karena itulah Islam bisa menyebar ke seluruh Indonesia secara damai (Amin, 2002: 93-94). Frans Magnis Suseno menilai bahwa budaya Jawa memiliki karakteristik yang lentur dan terbuka, yaitu bahwa walaupun terpengaruh unsur budaya lain, tapi kebudayaan Jawa masih dapat mempertahankan keasliaannya (Suhandjati, 2002: 278). Oleh karena itulah beberapa sarjana dan pengamat pernah memprediksikan bahwa kemenangan Islam akan berawal dari Indonesia, walaupun fenomena radikalisme Islam akhir-akhir ini jelas menafikan prediksi tersebut.
Masyarakat Indonesia yang mayoritas agraris telah membentuk budaya komunal. Tradisi agraris masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih padat karya atau menggunakan tenaga manusia secaraa masif telah membuat masyarakat saling tergantung satu dengan yang lain. Petani misalnya mungkin sudah menggunakan traktor untuk mengolah tanahnya, tapi untuk menanam padi dan memetik padi masih membutuhkan tenaga manusia yang sebagian besar tidak mampu dikerjakan sendiri oleh pemilik tanah. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan tingkat kebersamaan dan kekerabatan masyarakat pedesaan sangat tinggi. Hal ini juga didukung oleh mobilitas dan dinamika masyarakat masih cukup rendah sehingga di pedesaan seseorang akan mengenal dengan baik tidak hanya tetangga sekampungnya, tapi juga tetangga di kampung sebelahnya.
Budaya komunal menjadi karakteristik utama masyarakat pedesaan Indonesia. Budaya komunal masyarakat Jawa seperti gotong-royong, kenduri, jagong bayi, wiwit, merti bumi dan lain-lain merupakan diantara kuatnya tradisi kebersamaan masyarakat pedesaan. Di satu sisi itu bisa dikatakan sebagai social cohesion (ikatan sosial) masyarakat pedesaan. Keberadaan ketua adat masih cukup berpengaruh bagi masyarakat pedesaan dalam menyatukan mereka terutama dalam ritual-ritual adat-agama atau rite of passages seperti kelahiran bayi, pernikahan, atau kematian seseorang. Di sisi lain, saling ketergantungan sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan juga terlihat dengan jelas dari perspektif patron-klien. Tidak sedikit masyarakat pedesaan yang secara ekonomi bergantung pada kelompok lain yang lebih kaya di pedesaan dengan sistem buruh, magersari, nggadoh hewan ternak, dan lain-lain. Oleh karena itulah Kuntowijoyo (2006) membagi masyarakat pedesaan Indonesia menjadi dua yaitu priyayi dan wong cilik. Dalam hal ini, kelompok priyayi berperan sebagai patron, dan kelompok wong cilik sebagai klien. Itu semua menciptakan sistem ketergantungan yang tinggi dan menciptakan tatanan sosial yang mapan dan tidak mudah terpecah-belah. Kondisi inilah sering disebut oleh para sosiolog dan antropolog sebagai masyarakat ideal karena adanya social exchange (pertukaran sosial atau ketergantungan) yang tinggi. Pertukaran sosial berupa resiprokal dan redistribusi yang berlangsung di antara berbagi komponen masyarakat itu berfungsi sebagai media sosial dalam mewujudkan integrasi dan keharmonisan masyarakat (Sairin, 2002: 97).
Kondisi sosial masyarakat pedesaan juga menjadikan kontrol sosial di antara mereka cukup tinggi. Beberapa fenomena komunal di atas menjadikan masyarakat pedesaan saling mengenal satu dengan yang lain. Hal itu pada gilirannya menjadikan masyarakat pedesaan dengan mudah dan cepat mengetahui berbagai kejadian yang terjadi pada masyarakat lain di suatu pedesaan, baik peristiwa yang kurang baik maupun peristiwa yang baik, dari kejadian yang positif hingga yang paling negatif. Sehingga ungkapan yang sering muncul di masyarakat pedesaan Jawa adalah luwih dowo gurung timbang lurung (suatu berita lebih mudah menyebar lewat mulut daripada di jalan). Itu semua menjadikan anggota suatu masyarakat pedesaan akan jauh lebih berhati-hat dalam berbuat (apalagi negatif) karena kontrol sosial tersebut. Fenomena ini jelas berbeda dengan konteks masyarakat kota yang cenderung acuh terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi pada anggota masyarakat yang lain karena sistem masyarakat perkotaan yang cenderung individualis.
Dari perspektif budaya dan agama, masyarakat pedesaan Indonesia juga sangat erat dengan budaya yang harmonis dan toleran. Dalam banyak kasus terbukti bahwa masyarakat pedesaan sangat toleran terhadap perbedaan etnis. Keberadaan etnis lain di Jawa misalnya seperti Sunda, Arab, Minang, atau Bugis pada suatu masyarakat bukan merupakan masalah signifikan di masyarakat pedesaan. Sejauh penulis perhatikan, masyarakat pedesaan lebih bisa menerima perbedaan budaya walaupun agak kurang menerima perbedaan ideologis atau agama lain. Walaupun dalam banyak kasus juga ada anggota baru masyarakat yang beda agama, sejauh anggota masyarakat tersebut terlibat aktif dalam ritme kultural dalam masyarakat, maka masyarakat akan menerima mereka dengan baik. Ini suatu bukti bahwa masyarakat pedesaan lebih mementingkan keharmonisan daripada berseteru, sejauh anggota baru masyarakat tersebut tidak mengganggu budaya baku masyarakat atau tidak mengganggu sumber ekonomi masyarakat pedesaan tersebut.

C. Modernisasi & Globalisasi
Modernisasi dan globalisasi telah banyak berpengaruh terhadap identitas budaya suatu komunitas, termasuk pada masyarakat pedesaan. Irwan Abdullah (2006) menegaskan bahwa globalisasi telah merubah karakter masyarakat khususnya melemahnya ikatan-ikatan tradisonal serta institusi-institusi sosial sebagai pengikat individu-individu. Ketika pola-pola hubungan masyarakat lebih longgar, maka otonomi individu-individu semakin luas. Itu semua menandai integrasi masyarakat ke suatu tatanan global dimana akan tercipta masyarakat yang terikat dalam suatu jaringan komunikasi internasional dengan batas-batas yang tidak jelas. Akhirnya, globalisasi juga merubah pola interaksi masyarakat tidak lagi menggunakan jaringan-jaringan tradisional.
Dengan dalih pemerataan pembangunan untuk menaikkan taraf kehidupan masyarakat maka pemerintah mencanangkan modernisasi di berbagai aspek kehidupan termasuk dalam ranah teknologi informasi. Kemajuan teknologi seperti televisi, komputer, internet dan handphone yang kemudian membawa perubahan signifikan karena semua hal itu mempercepat proses globalisasi, mengerucutnya dunia. Namun demikian, modernisasi dan globalisasi selalu memunculkan dua kelompok di masyarakat, orang-orang yang menerima sepenuhnya modernisasi dan orang-orang yang menerima setengah-setengah dan menolak sebagain lainnya. Globalisasi tidak hanya mengaburkan batas-batas wilayah geografis, tapi juga batas-batas budaya. Sehingga, sudah bisa dipastikan modernisasi memunculkan budaya atau nilai-nilai baru di masyarakat, maka sikap masyarakat adalah ada yang menerima sepenuhnya nilai-nilai tersebut dan sebagian yang lain menerima setengah-setengah. Bagi mereka yang menerima sepenuhnya modernisasi dan globalisasi, mereka akan menerima perubahan yang terjadi ada budaya lokal seperti bahasa, nilai, perilaku dll. Walaupun kelompok ini secara umum telah kehilangan identitas lokal dan larut dalam budaya global, namun kelompok ini tidak cukup rentan sejauh tidak terjandi resistensi dalam dirinya. Bagi mereka yang menerima sebagian dan menolak sebagian yang lain inilah kelompok masyarakat yang dirasa paling rentan. Mereka menerima modernisasi dan globalisasi dalam batas-batas tertentu yang ditolerir oleh kelompoknya dan menolak sebagian lain yang dirasa bertentangan dengan prinsip dan ideologi mereka.
Dalam banyak kasus, adalah generasi muda yang mudah mengikuti perubahan dan alternatif perubahan karena pengaruh modernisasi dan globalisasi. Di satu sisi, adalah generasi muda yang mempunyai idealisme yang tinggi yang selalu memimpikan munculkan tatanan masyarakat yang ideal. Di sisi lain, modernisasi dan globalisasi telah memberikan berbagai alternatif tatanan sosial pada mereka sesuai dengan referensi bacaan atau komunitas global yang menjadi idamannya. Idealisme generasi muda inilah yang bisa jadi menolak budaya lokal karena tertarik dengan budaya asing yang dirasa sesuai dengan idealisme dan ideologi mereka. Akibatnya, adalah globalisasi telah ikut andil dalam mengglobalnya dunia Islam, merelatifkan identitas Muslim suatu komunitas, dan menyebarnya Islamisme secara global. Menurut penulis, kasus ini yang banyak terjadi di Indonesia, termasuk di pedesaan. Ini berbeda dengan yang terjadi pada komunitas Muslim di Barat dimana mereka adalah mayoritas migran yang “terpaksa” hidup di dunia Barat karena tuntutan ekonomi orangtuanya. Kelompok ini tercerabut dari budaya etnis atau komunitasnya dan melihat peradaban Barat sebagai ancaman terhadap dirinya sehingga sebagai mereka terlibat dalam radikalisme, sebagaimana ditulis oleh Oliver Roy dalam Globalized Islam (2004).
Merebaknya gerakan Islam (harakah) dan Islamisme di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari fenomena Islamisme secara global. Kemenangan revolusi Iran pada 1979 telah menjadi trigger muncul dan men-global-nya gerakan Islam di berbagai belahan dunia Muslim yang kemudian lebih dikenal dengan istilah revivalisme Islam. Salah satu gerakan Islam yang paling dominan di dunia Muslim adalah neo-salafisme. Dengan dukungan finansial secara penuh dari kerajaan Saudi Arabia, neo-salafisme ini menyebar ke berbagai pelosok dunia, khususnya dengan lembaga Rabithah ‘Alam Islami (RAI). Di Indonesia, adalah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA) yang telah “berjasa” dalam menyebarkan faham salafisme. Dengan media ini pula beberapa gerakan Islam Timur Tengah beraliran salafi menyebar di Indonesia pada era 80-an, seperti gerakan Ikhwanul Muslimin (IM), Hizbut Tahrir (HT), dan gerakan salafi-salafi lainnya.
Adalah kemajuan teknologi dan globalisasi yang telah berperan dalam penyebaran paham salafisme dan Islamisme secara umum di Indonesia. Islam telah menjadi bagian dari budaya Indonesia adalah sudah sejak abad ke-13 atau bahkan beberapa abad sebelumnya. Oleh karena itu, sudah menjadi bukti sejarah bahwa Islam Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda dengan Islam (atau Muslim) di Timur Tengah, sebagaimana hal ini juga terjadi di pelosok dunia lainnya. Walaupun pengaruh Timur Tengah terhadap Islam Indonesia tetap tidak bisa diabaikan, karakteristik Islam Indonesia yang akomodatif terhadap budaya lokal juga sudah dikenal sejak lama. Namun sejak gelombang modernisasi dan globalisasi merebak pada pertengahan abad ke-20, pengaruh Islam dari Timur Tengah nampak semakin besar. Islam dengan kekhasan atau karakteristik Indonesia sedikit demi sedikit tergerus seiring dengan penyebaran Islamisme secara global dan juga penerimaannya yang cukup signifikan oleh Muslim Indonesia. Dengan dalih purifikasi atau memurnikan ajaran Islam sesuai dengan ajaran aslinya, maka secara perlahan Islam Indonesia banyak mengadopsi Islam ala Timur Tengah.
Lebih dari itu, globalisasi juga telah berperan dalam menyebarkan berbagai informasi dan berita dengan cepat dan akurat. Ajaran-ajaran Islam versi ulama Timur Tengah dan juga berita-berita Muslim di berbagai negara bisa diketahui oleh Muslim di dunia lain, termasuk Indonesia melalui internet dan media sosial. Sejalan dengan semangat keislaman yang meningkat, berita tentang penderitaan Muslim di belahan dunia lain seperti Palestina, Afghanistan, Iraq, Syria dll telah meningkatkan rasa solidaritas dan sentimen Muslim Indonesia. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi bahwa ada sejumlah umat Islam Indonesia juga terlibat berjihad bersama dengan mujahidin di Afghanistan pada era 80-an, di Palestina, atau di Syria akhir-akhir ini. Dalam skala yang jauh lebih besar, umat Islam Indonesia telah menunjukkan perhatian dan pedulinya pada penderitaan dunia Muslim lainnya dengan cara mengirimkan sumbangan dana, berdemonstrasi, surat keprihatinan dan lain-lain. Ini semua adalah pengaruh kemajuan teknologi informasi dan juga globalisasi. Sebagaimana pengakuan Imam Samudra (2004), bom yang dia ledakkan di Bali (2002) merupakan respon dia dan kelompoknya (Jama’ah Islamiyah) terhadap hegemoni Barat (Amerika) di Palestina. Terakhir, globalisasi juga telah menjadikan informasi yang menyulut sentimen umat Islam seperti isu Kristenisasi atau penistaan agama Ahmadiyah. Masyakarat pedesaan begitu mudah diprovokasi untuk terlibat dalam gerakan-gerakan sosial tertentu tanpa banyak berfikir secara mendalam.
Tak ayal lagi bahwa modernisasi dan globalisasi juga meretas masyarakat pedesaan. Munculnya kelompok-kelompok agama Islam global seperti Wahhabi-Salafi lebih mudah diterima oleh masyarakat pedesaan daripada masyarakat kota. Ini terbukti dengan banyak berdirinya pesantren-pesantren Salafi di kampung-kampung akhir-akhir ini, walaupun tidak menafikan adanya masyarakat kota yang juga tertarik mengikuti gerakan ini. Dalam konteks ini bisa diartikan bahwa masyarakat pedesaan lebih bisa menerima kehadiran gerakan-gerakan Islam baru sejauh tidak bertentangan dengan tradisi Islam yang telah mereka miliki. Informasi-informasi Islam global yang sampai pada umat Islam juga mampu menggerakkan emosi mereka, termasuk umat Islam di pedesaan. Akhirnya, tidak sedikit umat Islam pedesaan yang tertarik mengikuti kelompok atau gerakan Islam global ala Timur Tengah misalnya. Laju pembangunan Indonesia juga telah memaksa pembangunan perumahan-perumahan yang relatif lebih murah di pedesaan atau pinggiran kota. Sebagaimana efek pembanguan, pasti ada sebagian masyarakat yang termarginalkan dan tidak mampu bertahan di perkotaan sehingga kemudian mereka pindah ke pedesaan. Mobilitas masyarakat perkotaan ke pedesaan ini juga menambah interaksi dan dinamika masyarakat desa termasuk dengan kelompok-kelompok Islam garis keras. Beberapa kasus terbukti bahwa masyarakat pedesaan tiak mengerti bahwa pendatang baru di desa mereka ternyata tersangka teroris.
Gerakan-gerakan Islam trans-nasional memberikan harapan baru bagi sebagian masyarakat pedesaan. Gerakan-gerakan Islam trans-nasional seringkali mengangkat isu-isu yang berbeda dengan kebanyakan gerakan-gerakan Islam lokal seperti isu negara Islam, Khilafah Islamiyah, atau konsep jihad/syahid. Konsep-konsep seperti ini seakan memberikan harapan baru bagi sebagian umat Islam khususnya orang-orang yang termarginalkan secara ekonomi dan politik. Akhirnya, Islam gaya baru atau garis keras beraliran Wahhabi-Salafi menjadi tumpuan bagi problem-problem sosial yang mereka hadapi. Perlu digaris bawahi bahwa adalah kelompok masyarakat abangan pedesaan yang lebih mudah tergiur dalam gerakan Islam garis keras. Beberapa kasus membuktikan penyataan ini bahwa orang-orang abangan yang terhimpit problem ekonomi lebih mudah tergiur dengan janji-janji Islam yang diharapkan memberikan harapan besar bagi mereka secara instan. Hal ini mirip dengan kasus gerakan ratu adil (messianism) pada masa pergerakan Indonesia yang lebih banyak diikuti oleh masyarakat pedesaan.

D. Polarisasi Beragama Masyarakat Pedesaan
Modernisasi dan globalisasi mempercepat proses polarisasi beragama masyarakat pedesaan. Kalau kita menggunakan kategori Clifford Geertz untuk melihat varian keberagamaan masyarakat Indonesia yaitu abangan-priyayi-santri, maka saat ini varian itu sudah mengalami perubahan yang signifikan. Saat ini sulit untuk mendapatkan varian keberagamaan seperti itu di masyarakat khususnya varian abangan dan bahkan sudah banyak bergeser ke arah varian putihan (santri). Keberhasilan dakwah Islam oleh berbagai organisasi agama di Indonesia baik yang konservatif, tradisional, maupun yang modernis telah merubah secara signifikan varian keberagamaan masyarakat; keberagamaan masyarakat Indonesia telah mengalami polarisasi, demikian juga di masyarakat pedesaan. Demikian pula varian masyarakat priyayi dan wong cilik-nya Kuntowijoyo juga sulit untuk ditemukan dalam konteks kontemporer. Keberhasilan pembangunan dan dakwah Islam telah mengaburkan disparitas masyarakat pedesaan baik secara sosial maupun keagamaan. Pola keberagamaan masyarakat kontemporer termasuk di pedesaan tidak lagi bisa dipisahkan berdasarkan organisasi Islam tertentu seperti Nahdhatul Ulama (NU) atau Muhammadiyah, namun perpaduan antara keduanya dan juga varian-varian Islam lain juga sudah semakin beragam muncul di masyarakat. Akhirnya muncul di perkotaan maupun pedesaan berbagai aliran Islam, organisasi-organisasi Islam hingga tokoh-tokoh agama dari berbagai varian Islam.
Banyak hal yang menyebabkan polarisasi (sosial) masyarakat pedesaan. Pertama, semakin melemahnya tradisi atau sistem adat di masyarakat pedesaan. Seiring dengan menguatnya struktur pemerintah modern, maka sistem adat mulai berkurang secara signifikan. Ini bisa terlihat dengan jelas dengan semakin turunnya pamor ketua adat atau pemimpin tradisional masyarakat pedesaan. Contoh konkrit dalam hal ini adalah berkurangnya lembaga-lembaga lokal seperti paguyuban dll. Kedua, globalisasi dan dakwah Islam. Globalisasi telah mengaburkan nilai-nilai lokal dan hal ini didukung oleh dakwah Islam yang semakin giat dilakukan oleh berbagai organisasi Islam baik nasional maupun trans-nasional. John Naisbitt menggambarkan dengan sangat baik bahwa low tech menyebabkan high touch dan high tech menyebabkan low touch. Artinya bahwa dulu ketika teknologi masih rendah hubungan interpersonal masyarakat yang tinggi dan dengan teknologi tinggi saat ini hubungan interpersonal masyarakat rendah karena sibuknya masyarakat dengan teknologi seperti internet, handphone, media sosial, game online dls. Teknologi juga berdampak terhadap dakwah Islam yang menggunakan teknologi tinggi seperti SMS, miling list, website, blog dls. Akhirnya, nilai-nilai beragama yang ada di masyarakat juga sangat bervariasi tidak hanya terbatas pada Islam mainstream. Ketiga, taraf pendidikan semakin meningkat. Pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang dilakukan pemerintah bersama dengan berbagai organisasi sosial keagamaan cukup sukses dalam mengantarkan masyarakat Indonesia menuju manusia terdidik, termasuk masyarakat Indonesia di pedesaan. Hal itu menjadikan kedewasaan pola pikir masyarakat dan semakin bebas dalam memilih jalan hidup baik secara sosial, politik, maupun agama. Itu semua berpengaruh secara drastis dalam merubah struktur sosial dan keberagamaan masyarakat Indonesia.
Hal itu semua di atas menyebabkan pola keberagamaan masyarakat mengalami perubahan yang signifikan. Pada konteks kekinian misalnya agak sulit untuk mendapatkan suatu dusun dimana mayoritas masyarakatnya berpaham homogen seperti NU atau Muhammadiyah semua. Yang banyak didapat adalah dusun dengan masyarakat berpaham campuran antara NU-Muhammadiyah dan bahkan juga terdapat berbagai varian keagamaan lain. Hal senada juga terjadi pada kampung atau dusun yang dulunya lebih banyak varian abangannya yang sudah jauh berubah pada akhir-akhir ini. Penyebaran Islam trans-nasional beraliran Wahhabi-Salafi juga mendukung asumsi ini. Seiring dengan modernisasi, migrasi masyarakat juga sangat tinggi yang menyebabkan perpindahan masyarakat dengan berbagai “warna agama” bercampur-aduk dalam tatanan masyarakat yang sudah ada. Banyaknya pesantren-pesantren Salafi tumbuh dan berkembang di dusun-dusun yang didukung oleh migrasi para pengikutnya menyebabkan polarisasi yang sangat kuat di pedesaan. Sebagian masyarakat tidak lagi mengikuti mainstream varian agama tertentu, tapi sudah lebih banyak pilihan.
Hal ini juga berdampak pada menurunnya otoritas keagamaan peran tokoh agama dan tokoh adat di pedesaan. Dalam konteks masa lalu, seorang tokoh agama identik dengan tokoh masyarakat sehingga karena kharismanya ia sangat didengar oleh anggota masyarakat. Walaupun dalam banyak hal tokoh agama masih bisa berperan sebagai pemersatu masyarakat yang sangat heterogen, hal ini sudah berubah banyak. Masyarakat secara umum tidak lagi melihat tokoh agama suatu dusun memiliki otoritas keagamaan yang kuat. Masing-masing anggota masyarakat mempunyai panutan yang lebih beragam sesuai dengan faham keagamaan masing-masing. Dalam konteks kekinian kita bisa lihat bahwa di sebuah pedesaan muncul berbagai varian faham keagamaan dari yang ultra konservatif, konservatif, tradisional, modern, hingga yang liberal. Di sebuah kampong misalnya, terdeteksi adanya berbagai pengikut organisasi Islam seperti Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), berbagai varian Salafi atau orang-orang yang tidak jelas paham atau alirannya.

E. Radikalisme Islam Masyarakat Desa
Fenomena radikalisme Islam akhir-akhir ini cukup mengejutkan yaitu bahwa mayoritas tersangka teroris adalah orang Jawa, bukan Batak atau Bugis yang dikenal agak keras. Dan yang lebih mengejutkan lagi bahwa sebagian diantara mereka adalah dari pedesaan. Interaksi penulis dengan berbagai kelompok umat Islam di pedesaan juga menengarai bahwa (gejala) radikalisme juga banyak terjadi di pedesaan. Sentimen keagamaan bisa muncul dalam konteks-konteks tertentu bila bersentuhan dengan hal-hal sensitif seperti isu Palestina dan hegemoni Amerika, isu Kristenisasi dan juga isu Ahmadiyah yang dianggap sesat. Radikalisme agama (Islam) sebetulnya juga bukan hal yang baru di masyarakat. Takashi Siraishi (1990) membuktikan bahwa radikalisme Islam cukup marak di era pergerakan Indonesia seperti munculnya gerakan Sarekat Islam di Surakarta.
Tentang banyaknya orang Jawa yang terlibat dalam gerakan radikalisme dan juga terorisme, Bambang Pranowo (2011) menulis bahwa itu berdasar pada filosofi Jawa, ngalah, ngalih, dan ngamuk. Orang Jawa akan cenderung mengalah ketika merasa terganggu. Bila sudah tidak tahan dengan gaangguan itu, maka orang Jawa cenderung akan ngalih (pindah). Dan bila dia tetap merasa terganggu dan tidak tahan terhadap gangguan tersebut, maka dia akan me-ngamuk. Keterlibatan banyak orang Jawa dalam berbagai kasus radikalisme Islam dan terorisme dimungkinkan karena orang Jawa tersebut sudah tidak bisa mentolerir tingkat ketergangguannya. Memang tidak begitu jelas apakah itu betul-betul filosofi Jawa. Penulis melihat bahwa fenomena itu ada di mana-mana, bahwa seseorang yang ditekan terus-menerus suatu saat pasti akan melawan. Pranowo lebih lanjut menjelaskan bahwa beberapa orang yang bukan etnis Jawa terlibat dalam radikalisme dan terorisme karena dia sudah lama hidup di Jawa atau berguru pada orang Jawa. Satu hal yang menyamakan berbagai kasus radikalisme agama (Islam) adalah kebencian mereka terhadap hegemoni Amerika. Sehingga yang diserang atau dihancurkan adalah ikon atau simbol-simbol hegemoni Amerika (atau sekutunya) seperti hotel, kedutaan, café dll. Penulis cenderung mengatakan bahwa radikalisme banyak muncul dan melibatkan orang Jawa karena sumber dan asal radikalisme dari Jawa yaitu tokoh-tokoh NII dan berbagai variannya seperti Jama’ah Islamiyah (JI) seperti Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo, Abdullah Sungkar, Abu Bakar Ba’syir dll.
Hegemoni Barat (baca: Amerika) secara umum juga memicu kebencian hingga tindakan radikal di berbagai kalangan umat Islam. Ketika WTC di New York dibom tahun 2001, yang menurut berita resmi dilakukan oleh kelompok Islam radikal, beberapa orang Islam yang saya temui di Yogyakarta justru menyalahkan Amerika karena itu adalah akibat ulahnya terhadap umat Islam seperti di Palestina dan Afghanistan. Ketika bom Bali meledak tahun 2002, beberapa orang yang saya temui bahkan mengatakan bahwa diapun mau sebagai salah satu eksekutor bom tersebut. Ketika orang-orang Amerika bersuka-cita atas kematian Osama bin Laden di Pakistan tahun 2011, umat Islam Indonesia tidak menunjukkan sikapnya dengan tegas (ambigu) apakah harus bersuka-cita atau berduka. Ini menyiratkan bahwa umat Islam Indonesia secara umum menganggap bahwa hegemoni Amerika telah banyak merugikan umat Islam dunia. Jadi, sikap anti terhadap hegemoni Barat cukup merata di Indonesia dan ini berpotensi terhadap munculnya radikalisme.
Isu kristenisasi juga cukup sensitif memicu munculnya radikalisme di pedesaan. Isu kristenisasi sering kali muncul di masyarakat dalam bentuk slebaran gelap atau isu pendirian gereja di komunitas umat Islam. Isu ini juga cukup agitatif dalam memprovokasi massa baik di perkotaan maupun pedesaan. Namun, tingkat pendidikan masyarakat pedesaan yang relatif rendah sering membuat propaganda itu mengalami eskalasi berlebih hingga tingkat radikalisme. Walaupun tidak bisa dipukul rata menjadi asumsi umum, namun menarik untuk dikaji bahwa seorang Kyai dari pedesaan di Sleman pernah mengatakan pada penulis bahwa kalau dia masih muda, maka asrama calon pastor yang sedang dibangun di sebuah wilayah di Sleman itu akan dia bom. Hal ini sangat mengejutkan penulis karena selama ini pandangan beliau cukup moderat, namun ketika bersentuhan dengan masalah-masalah sensitif seperti isu kristenisasi menjadi cukup keras. Kasus kerusuhan bernuansa agama pada tahun 1996 di Situbondo dan Tasikmalaya yang menyebabkan pembakaran puluhan gereja sehingga tak ayal lagi Franz Magnis Suseno secara sarkastis mengatakan bahwa “Indonesia adalah juara dunia dalam hal merusak dan membakar tempat-tempat ibadah” (Sueady, 1993: 8).
Hal yang sama juga terjadi sekitar isu Ahmadiyah atau Syiah. Banyak kasus kekerasan terhadap pengikut AHmadiyah terjadi seperti di Cikeusik Banten (2011), Bogor (2011), Cianjur (2012), dan juga terhadap pengikut Syiah di Sampang Madura (2012). Itu semua semakin menambah daftar panjang kekerasan horisontal masyarakat Indonesia yang bernuansa agama. Hal ini jelas menodai keberagamaan masyarakat (pedesaan) Indonesia yang selama ini dikenal sebagai santun dan ramah.
Terakhir, berbagai kasus radikalisme agama juga melibatkan masyarakat pedesaan. Radikalisme agama yang menjurus pada terorisme sudah banyak terjadi di Indonesia khususnya di wilayah perkotaan seperti di Jakarta, Surabaya, dan Solo. Dari berbagai sumber media diberitakan bahwa pihak berwenang merilis telah menangkap anggota jaringan teroris dari berbagai daerah seperi Madiun, Kediri, Jombang, Bangil, Pamekasan, Kebumen, Sukoharjo, Sleman, Pemalang, Cirebon, Kuningan dan lain-lain. Radikalisme dan terorisme yang melibatkan masyarakat perkotaan agak lebih mudah dipahami karena sangat dimungkinkan karena mereka termarginalkan secara ekonomi. Islam garis keras bagi mereka memberikan harapan untuk menyelesaikan problem-problem sosial yang terjadi dan yang mereka alami. Namun demikian, kasus yang kurang lebih sama juga terjadi di pedesaan; bahwa mereka juga orang-orang yang termarginalkan secara ekonomi dan kemudian mendapatkan Islam sebagai jalan keluar dari problem mereka. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, interaksi dan dinamika masyarakat pedesaan mengalami eskalasi seiring dengan modernisasi dan globalisasi.
Secara umum orang-orang yang terlibat dalam radikalisme Islam adalah generasi muda. Berbagai kasus radikalisme agama hingga terorisme sering melibatkan generasi muda seperti yang terlibat dalam bom Bali I (2002) dan Bom Mega Kuningan (2009) misalnya: Imam Samudra, Mukhlas, Ali Gufron, Ali Imron, Mubarok (Utomo Pamungkas), Dul Matin (Joko Pitono), Air Setiawan, Dani Dwi Permana, Nana Ikhwan Maulana, Ibrohim (Boim) dan lain-lain. Di satu sisi, generasi mudalah yang mempunyai idealism tinggi tentang tatanan sosial, tapi di sisi lain mereka jugalah yang mudah terprovokasi ole ide-ide revolusioner seperti Islam garis keras. Walaupun radikalisme agama mempunyai muatan ideologis, namun penulis lebih meyakini bahwa ideologi Islam lebih berperan sebagai justifikasi agama terhadap problem-problem ekonomi dan sosial yang mereka hadapi. Sejarah juga mencatat bahwa gerakan Islam radikal seperti Sarekat Islam (SI) pada masa pergerakan juga diawali dengan masalah ekonomi dan sosial ketika para pedagang batik Solo berhadapan dengan dominasi Cina dalam perdagangan batik. Masalah sosial-ekonomi yang dihadapi generasi muda kemudian dipandang dengan perspektif kapitalisme dan hegemoni Barat yang dilegitimasi oleh ajaran Islam. Akhirnya, yang terjadi adalah ikon atau simbol-simbol kapitalisme dan hegemoni Barat dihancurkn. Dengan perspektif James Scott (1985) dalam Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance, kita bisa melihat bahwa bom-bom di Indonesia itulah yang bisa dilakukan oleh orang-orang itu sebagai perlawanan mereka terhadap hegemoni Barat (Amerika) karena mereka tidak bisa langsung menyerang Amerika. Sebagaimana Imam Samudra (2004) juga mengakui bahwa apa yang dia lakukan di bom Bali 2002 merupakan “balasan” terhadap ulah Amerika dan sekutunya di Palestina, Iraq, dan Afghanistan.

F. Penutup
Sebagai sebuah gerakan, radikalisme Islam tidak hanya rawan terhadap masyarakat perkotaan, tapi juga di pedesaan. Modernisasi dan globalisasi yang tak terelakkan telah mengaburkan batas-batas geografis dan budaya. Masyarakat pedesaan mengalami dinamika yang cukup tinggi sehingga berbagai paham keagamaan juga berpotensi untuk tumbuh dan berkembang di pedesaan termasuk Islam radikal. Memang tidak bisa disangkal bahwa di era globalisasi ini agama tidak bisa diarahkan oleh penguasa sebagaimana masa klasik (al-dînu ‘ala mulûkihim, agama itu bergantung pada penguasanya); saat ini agama telah menjadi urusan pribadi (private domain). Namun demikian, ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah bersama dengan organisasi-organisasi Islam moderat di Indonesia untuk mereduksi radikalisme seperti mereduksi ketegangan antar agama, membuat wacana-wacana tandingan (anti-kekerasan) hingga menghidupkan kembali tradisi-tradisi Islam.
Organisasi-organisasi Islam moderat dan juga tradisional mempunyai peran signifikan dalam mereduksi potensi berkembangnya radikalisme Islam. Ketika modernisasi dan globalisasi tidak bisa dihindari, maka peran organisasi moderat seperti Muhammadiyah menjadi cukup signifikan dalam mewacanakan nilai-nilai Islam moderat seperti dialog antar agama, kesesuaian Islam dengan demokrasi, tafsiran Islam rahmatan lil’alamin dan lain-lain. Di sisi lain, organisasi Islam yang dikenal erat dengan nilai-nilai tradisional seperti Nahdatul Ulama (NU) juga berperan dalam menjaga tradisi-tradisi lokal sebagai anti-tesa terhadap Islam trans-nasional yang saat ini cukup merebak di pedesaan Indonesia. Dalam konteks ini, kerjasama antara dua organisasi mainstream di Indonesia itu sangat signifikan untuk melawan wacana-wacana yang disebarkan oleh gerakan Islam puritan trans-nasional. Puritanisme memang mudah mendapatkan pengikut karena logika-logika yang dibangun cukup logis dan sederhana sehingga mudah dipahami oleh masyarakat umum apalagi di pedesaan. Justifikasi-justifikasi ideologis yang sering dilontarkan oleh gerakan Islam puritan ala Wahhabi-Salafi untuk menyudutkan gerakan-gerakan lokal yang dianggap bukan murni ajaran Islam harus discounter dengan wacana sebanding. Paling tidak masyarakat pedesaan yang relatif bernalar pendek ini jangan sampai mudah terprovokasi oleh janji-janji instan untuk menyelesaikan problem-problem ekonomi dan sosial mereka. Dalam konteks inilah maka Muhammadiyah dan NU jangan saling meyerang, tapi justru bersatu untuk mereduksi radikalisme dan mengarus-utamakan Islam yang ramah dan santun sebagaimana filosofi orang Jawa memayu hayuning bawana (manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan).
Pedesaan Indonesia harus tetap menjadi penjaga gawang terakhir budaya Indonesia yang harmonis. Walaupun kita tidak bisa membalikkan modernisasi dan globalisasi yang sudah terlanjur terjadi, namun berbagai budaya pedesaan bisa terus digalakkan sebagai upaya untuk meningkatkan pertukaran sosial (social exchange) masyarakat desa. Pertukaran sosial inilah yang akan meningkatkan dinamika dan interaksi masyarakat pedesaan sehingga tidak larut dalam modernisasi dan globalisasi yang menjurus pada individualisme. Karakteristik budaya lokal seharusnya tetap harus eksis walaupun secara terus-menerus digempur oleh aarus globalisasi. Filosofi Jawa mengatakan ngeli ning ora keli atau bahwa orang Jawa harus mengikut perubahan tapi tidak larut dalam perubahan tersebut.

Referensi:
Ahmad Sueady (et al) (1993). Dialog: Kritik & Identitas Agama. Yogyakarta: DIAN/Interfidei.
Imam Samudra (2004). Aku Melawan Teroris. Solo: Jazeera.
Irwan Abdullah (2006). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kuntowijo (2006). Budaya dan Masyarakat, Edisi Paripurna. Yogyakarta: Tiara Wacana.
M. Bambang Pranowo (2011). Orang Jawa Jadi Teroris. Jakarta: Pustaka Alvabet.
M. Darori Amin, “Sinkretisme dalam Masyarakat Jawa” dalam M. Darori Amin (ed.) (2002). Islam dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Gama Media.
Nurudin (et al) (2003). Agama Tradisional: Protret Kearifan Hidup Masyarakat Samin dan Tengger. Yogyakarta: LKiS.
Roy, Olivier (2004). Globalized Islam: the search for a new ummah. New York: Columbia University Press.
Safr Sairi (2002). Perubahan Masyarakat Indonesia: Perspektif Antropologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Scott, James (1985). Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance. Connectitut: Yale University Press.
Siraishi, Takashi (1990). An Age in Motion: Popular Radicalism in Java 1912-1926. New York: Cornell University Press.
Sri Suhandjati, “Dinamika Nilai Jawa Islam dan Tantangan Modernitas” dalam M. Darori Amin (ed.) (2002). Islam dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Gama Media.


Responses

  1. bapak.. materi SIMK ma SIM susah d unduh..

    • Saya sudah coba bisa kok mbak. Tinggal klik dan akan muncul tampilan file dan tinggal download. Kalau kesulitan silahkan tanya ke teman lain ya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: