Oleh: Muhammad Wildan | 3 Januari 2013

MELESTARIKAN MASA LALU UNTUK MASA DEPAN: Konservasi Naskah-naskah Jawa (2009-2012)

Abstrak
Masyakarat Jawa memiliki kekayaan budaya yang luar biasa berupa naskah yang sangat banyak. Naskah-naskah peninggalan abad 18 dan 19 itu itu menyimpan berbagai pengetahuan dan budaya masa lampau yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Naskah-naskah tersebut saat ini banyak tersebar di beberapa kraton, museum, atau koleksi pribadi baik di dalam maupun luar negeri. Sayangnya banyak manuskrip yang kurang terawat dengan baik sehingga banyak diantaranya yang rusak, khususnya yang berada di Jawa. Selain itu informasi mengenai naskah tersebut juga kurang tersedia dengan baik yang bisa diakses dengan mudah oleh para pengguna/peneliti. Dengan harapan naskah-naskah tersebut bisa dimanfaatkan secara terus-menerus oleh generasi-generasi yang akan datang, maka proyek konservasi naskah itu sangat perlu dilakukan. Berbagai tantangan proyek adalah pemilik yang kurang perhatian terhadap koleksi naskahnya, para pengelola perpustakaan yang kurang mengetahui cara menangani naskah, hingga para pengguna (users) yang tidak tahu cara memperlakukan naskah dengan baik. Tujuan proyek ini adalah menyelamatkan dan melestarikan naskah-naskah Jawa dalam bentuk restorasi, kodikologi, dan digitalisasi naskah-naskah di Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon. Berbagai workshop restorasi dan penanganan naskah juga dilakukan untuk meningkatkan kesadaran para pengelola perpustakaan dalam menangani naskah. Proyek yang disponsori oleh Universitas Leipzig Jerman ini diawali dengan perbaikan kerusakan-kerusakan minor naskah, dilanjutkan dengan kodikologi, dan kemudian digitalisasi. Saat ini hasil proyek ini bisa dinikmati dengan mudah oleh para pengguna baik secara online maupun offline.

Kata kunci: naskah, restorasi, kodikologi, digitalisasi.

A. Pendahuluan
Tidak diragukan lagi bahwa keberadaan naskah-naskah kuno Jawa itu sangat urgen. Naskah Jawa yang jumlahnya sangat banyak itu merupakan kekayaan khazanah budaya Nusantara. Dari naskah-naskah itulah kita bisa mengetahui kekayaan budaya Jawa khususnya dan Nusantara pada umumnya. Dari naskah-naskah itu pula kita bisa banyak belajar tentang masa lalu, tentang kearifan lokal, dan lain-lain. Dari naskah-naskah itu kita dan juga generasi-generasi mendatang akan mengetahui bagaimana kebudayaan masyarakat Jawa saat itu dan untuk diambil hikmah dalam membangun masa depan yang lebih baik. Selain itu perlu juga diapresiasi bahwa naskah adalah bukti adanya suatu tradisi budaya yang sangat tinggi.
Naskah-naskah Jawa tersebut juga sangat signifikan untuk mengetahui kondisi sosial budaya Islam masa lalu. Walaupun hanya sedikit dari naskah-naskah Jawa dalam proyek ini yang bertuliskan Arab, namun tidak bisa dikatakan bahwa naskah-naskah itu tidak berkaitan dengan Islam. Diantara naskah-naskah tersebut juga banyak bercerita tentang sejarah Islam di Jawa. Proses masuknya Islam secara damai di bumi Jawa ini juga ditandai dengan digunakannya tradisi-tradisi lokal dalam menyampaikan pesan-pesan agama. Oleh karena itu, naskah-naskah Jawa ini juga cukup signifikan bagi para sejarawan untuk melihat bagaimana perkembangan Islam pada masa lalu di Jawa.
Saat ini kondisi naskah-naskah di Jawa tersebut cukup memprihatinkan. Selain informasi naskah yang tidak mudah diakses, kondisi sebagian naskah sudah rusak sehingga tidak memungkinkan untuk dibaca langsung oleh para pengguna. Selain karena memang naskah-naskah tersebut sudah tua usianya (rata-rata ditulis abad 18 & 19), cara perlakuan para pengelola dan pengguna terhadap naskah juga menjadikan kondisi naskah semakin buruk. Sebenarnya sebagian naskah-naskah tersebut sudah dikatalog dan di-microfilm-kan pada tahun 1980-an oleh T. E. Behrend dkk, namun saat ini yang bisa diakses secara baik hanyalah katatognya. Kondisi microfilm yang berjamur dan micro-reader yang rusak tidak memungkinkan lagi untuk digunakan. Hal ini dikarenakan para pustakawan atau lembaga tidak mengetahui bagaimana cara merawat mcrofilm terutama di Indonesia dimana tingkat kelembaban sangat tinggi.
Oleh karena itu, maka proyek pelestarian naskah-naskah di Jawa ini sangat signifikan. Sebenarnya, Dinas Kebudayaan Yogyakarta, Perpustakaan Nasional, maupun Lektur Kementerian Agama sering mengadakan restorasi maupun digitalisasi dengan skala kecil, namun karena naskah-naskah di Jawa cukup banyak sehingga kegiatan-kegiatan restorasi dan digitalisasi tersebut kurang memadai. Sejauh penulis mengamati, ada perbedaan dalam treatment restorasi naskah, kalau Perpusnas dan Kemenag cenderung menggunakan wet-treatment, sedangkan Proyek Leipzig Jerman ini menggunakan dry-treatment. Tentang digitalisasi juga ada perbedaan, hasil digitalisasi Proyek Leipzig Jerman tidak hanya menghasilkan satu (1) format file, tapi dua (2) format, yaitu file JPEG dengan kualitas relatif rendah yang bisa diakses pengguna setiap hari, tapi juga file format TIFF dengan kualitas tinggi sebagai master atau back-upnya. Yang harus diperhatikan ke depan oleh perpustakaan dan pustakawan yang memiliki naskah-naskah kuno untuk merawat harddisk (HD) yang berisi naskah dengan baik sehingga HD betul-betul bisa diharapkan sebagai back-up bila terjadi hal-hal yang buruk terhadap naskah aslinya.

B. Tujuan & Kegunaan Proyek
Secara umum proyek restorasi ini bertujuan untuk:
1. Menyelamatkan dan melestarikan naskah-naskah di Jawa.
2. Menyediakan informasi dan metadata tentang naskah.
3. Membuat naskah-naskah itu mudah diakses oleh para pengguna.
Diharapkan hasil dari proyek ini bisa membantu meringankan tanggungjawab Pemerintah Indonesia, khususnya Dinas Kebudayaan Yogyakarta dan Perpustakaan Nasional dan bisa mempererat hubungan hubungan bilateral antara Indonesia dan Jerman. Selain itu, di wilayah empiris hasil proyek ini diharapkan bermanfaat bagi para akademisi, peneliti, dosen, dan masyarakat luas yang ingin mendapatkan informasi dari atau tentang naskah.

C. Cakupan & Waktu Proyek
Sebagaimana kita ketahui bahwa naskah-naskah di Jawa pada umumnya ditulis dan dimiliki oleh pihak kraton. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar ditulis oleh para pujangga atau penulis kraton yang mempunyai otoritas atau kemampuan menulis. Oleh karena itulah maka yang menjadi obyek proyek ini adalah naskah-naskah yang dimiliki oleh lembaga-lembaga pemerintah. Ini bukan berarti bahwa tidak ada naskah yang menjadi koleksi pribadi. Sejauh penulis mengetahui, banyak naskah yang ditulis dan dimiliki oleh pribadi atau pesantren sebagaimana banyak terdapat di Jawa Timur, daerah pesisir Jawa, dan juga Madura. Namun karena keterbatan waktu maka proyek ini lebih banyak menjangkau lembaga-lembaga pemerintah dan kraton, kecuali dalam kasus di Cirebon dimana proyek juga mencakup naskah-naskah koleksi pribadi. Adapun lembaga-lembaga yang masuk dalam proyek adalah:
1. Perpustakaan Widyobudaya, Kraton Yogyakarta.
2. Kraton Kasunanan Surakarta
3. Museum Sanabudaya Yogyakarta
4. Pura Pakualaman Yogyakarta
5. Balai Bahasa Yogyakarta
6. Kraton Cirebon & beberapa koleksi pribadi di Cirebon.

Proyek yang berdurasi 3 tahun dan dimulai sejak Juli 2009 ini seharusnya sudah selesai pada Juni 2012. Namun karena digitalisasi di Museum Sanabudaya dan Balai Bahasa belum selesai, maka proyek diperpanjang sampai Desember 2012. Hingga akhir tahun 2012 diharapkan beberapa koleksi lain seperti lontar bisa selesai didigitalisasi. Dengan adanya 2 scanner (Zeutschel OS12000 dan Traveller Scanner) diharapkan bisa secara kontinue digunakan museum dan perpustakaan untuk mendigitalkan baik koleksi naskah, lontar maupun koleksi lain seperti buku kuno atau bahkan barang-barang museum lainnya. Portable scanner juga diharapkan bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mendigitalisasi naskah-naskah koleksi pribadi yang kemungkinan berjumlah sedikit.

D. Kondisi Naskah-naskah Jawa & Kesadaran Masyarakat
Kondisi naskah-naskah yang tercakup dalam proyek ini sangat bervariasi. Naskah-naskah yang mayoritas berbahasa dan beraksara Jawa ini (kecuali koleksi Cirebon) rata-rata kondisinya cukup mengkhawatirkan. Dengan kata lain bahwa naskah-nasah Jawa mempunyai derajat/tingkat kerusakan yang bervariasi dari kertasnya yang retak-retak, tintanya yang menggerogoti kertas (korosi) hingga covernya yang rusak. Berikut ini kami sampaikan jenis-jenis kerusakan dan penyebab utamanya:

NO KERUSAKAN PENYEBAB UTAMA
1. Retak-retak Terlalu banyak cahaya & handling
2. Noda dan debu Almari terbuka
3. Lubang-lubang kecil Serangga
4. Agak basah & jamur Kelembaban tinggi (ruang tertutup)
5. Kertas hancur (brittle) Oksidasi dan hidrolisis
6. Korosi tinta Tinta keras (Iron-gall ink) & kelembaban
6. Jilid rusak Penyimpanan & pengguna

Kerusakan naskah itu juga berkaitan dengan jenis kertas/bahan naskah. Naskah yang menggunakan kertas Eropa lebih cepat rusak dibandingkan dengan kertas berjenis daluwang, walaupun bisa dikatakan bahwa mayoritas naskah Jawa menggunakan kertas Eropa. Kertas Eropa ini banyak mengandung asam sehingga cepat mengalami korosi, apalagi jika tintanya adalah berjenis iron gall ink. Tinta jenis ini yang menyebabkan tingkat keasaman tinggi dan mempercepat korosi naskah. Banyak riset dilakukan akhir-akhir ini khususnya di Eropa untuk menemukan cara menghentikan/mereduksi korosi kertas yang disebabkan oleh tinta ini, namun hal ini belum banyak dilakukan di Indonesia karena tehnologinya masih cukup mahal dan juga belum banyak ahli-ahli restorasi di Indonesia.

Gambar 1: Naskah rusak karena serangga

Gambar 2: Naskah rusak karena iron-gall ink

Gambar 3: Naskah hancur karena asam & serangga

Berbagai kerusakan tersebut di atas juga disebabkan oleh pengetahuan dan kesadaran pemilik/pengelola dan pengguna naskah yang masih rendah. Rendahnya pengetahuan ini disebabkan minimnya tenaga ahli di bidang restorasi di Indonesia. Sejauh penulis mengamati, belum ada universitas atau fakultas di Indonesia membuka program studi khusus restorasi naskah sebagaimana yang ada di beberapa universitas di Eropa. Ini membutuhkan kebijakan dari pemerintah. Para pengguna/pembaca naskah juga berkontribusi terhadap percepatan rusaknya khususnya ketika menggunakan naskah seperti membuka naskah kurang hati-hati, menulis di naskah dengan ballpoint (seharusnya pensil), menandai halaman tertentu dengan klip atau kertas berperekat, menggunakan naskah sebagai alas dalam menulis/mengutip naskah, tidak menggunakan bantal untuk naskah-naskah yang sudah mulai rapuh dll.

Gambar 4: Kesalahan pengguna naskah

E. Treatment Terhadap Naskah
Untuk mengatasi atau paling tidak mereduksi berbagai kerusakan di atas dan juga supaya naskah tetap bisa dimanfaatkan oleh para pengguna, maka proyek ini menerapkan 3 jenis penanganan/aspek yaitu restorasi, kodikologi, dan digitalisasi. Masing-masing penanganan ini akan saya jelaskan di bawah ini.
Dengan prinsip bahwa restorasi harus dengan intervensi minimal, beberapa treatment dilakukan terhadap naskah dengan kerusakan yang belum parah. Adapun naskah dengan kerusakan parah belum/tidak bisa direstorasi di Yogyakarta karena minimnya peralatan dan tenaga ahli di bidang ini. Beberapa treatment restorasi mencakup:
1. Dokumentasi (membuat deskripsi kondisi)
2. Membersihkan naskah dari debu dengan kuas lembut dan spon wallmaster (dry cleaning).
3. Membersihkan almari secara periodik (minimal 1 bulan sekali)
4. Menata ulang tata letak naskah.
5. Mengurangi kelembaban ruangan (paling tidak supaya suhunya lebih stabil).
6. Mengurangi cahaya langsung ke naskah dengan menutup jendela dan boxing.
7. Mengurangi naskah yang pecah (crack) dengan kertas Jepang dan lem (starch).
8. Digitalisasi naskah
9. Menjilid ulang naskah dengan tetap mempertahankan kondisi aslinya.
10. Membunuh serangga (yang paling ringan dengan membuat perangkap serangga hingga yang paling berat dengan mem-freezing naskah, fumigasi tidak lagi direkomendasikan).
11. Membuatkan landasan untuk naskah (seperti bantal )
12. Membuat peraturan bagi para pengguna naskah seperti mencuci tangan dan mengeringkannya sebelum memegang naskah, tidak boleh makan/minum di dalam perpustakaan, tidak boleh menggunakan ballpoint dekan dengan naskah dll.
13. Membuat emergency plan bagi naskah bisa terjadi bencana.

Gambar 5: Menggunakan bantal untuk naskah

Gambar 6: Menambal naskah yang retak

Untuk dry-treatment dan penggunaan kertas Jepang perlu penjelasan lebih lanjut di sini. Dry-treatment yang dimaksud adalah lawan dari wet-treatment seperti membersihkan naskah dengan dicuci (washing) atau menambal lubang-lubang kecil dan retak dengan menggunakan tehnik leaf-casting (penambalan naskah dengan bubur kertas/pulp). Pada awalnya proyek menggunakan wet-treatment dengan leaf-casting, namun seiring dengan perkembangan keilmuan treatment naskah di Eropa maka proyek cenderung pada “madzhab” dry-treatment. Hal ini dipilih karena dengan tehnik wet-treatment lebih beresiko pada kertas karena dikuatirkan akan menambah keasaman pada kertas. Sedangkan penggunaan kertas Jepang untuk menambal retak-retak naskah juga berbeda dengan yang sudah dilakukan pada Proyek Leipzig di Aceh dan juga beberapa proyek restorasi Perpusnas. Sebagaimana diketahui bahwa treatment dengan kertas Jepang biasanya dilakukan dengan melapisi seluruh permukaan naskah dengan kertas Jepang. Bahkan pada sebagian proyek dengan cara melapisi di dua sisi naskah. Dengan demikian naskah akan menjadi kuat dan tidak mudah retak. Namun kelemahan tehnik ini, karena melapisi semua halaman adalah mengurangi kejelasan tulisan. Yang lebih parah adalah apabila pelapisan dengan kertas Jepang pada 2 sisinya karena menciptakan micro-climate tersendiri dalam naskah tersebut yang menyebabkan naskah semakin cepat rusak.

Gambar 7: Workshop menjilid naskah

Untuk mensosialisasikan berbagai program restorasi naskah, Orientalische Institut Leipzig Jerman mendatangkan tenaga ahli dari Jerman selama 3 tahun berturut-turut yang masing-masing 4-6 bulan. Tenaga ahli itu secara kontinue mentraining pustakawan dan tenaga restorasi dai berbagai perpustakaan dan museum dalam berbagai workshop seperti menjilid naskah dengan kertas atau kulit, melapisi naskah dengan kertas Jepang, atau
Aspek kedua dari proyek ini adalah kodikologi. Berbeda dengan katalog yang pada umumnya dicetak secara fisik, hasil kodikologi naskah-naskah Jawa ini tidak dicetak tapi disediakan secara online di website. Oleh karena itu, berbagai informasi tentang naskah baik yang terlihat secara fisik mapun metadata dari naskah tersebut diupload di website http://www.manuscripts-java.org yang domainnya ada di Universitas Leipzig Jerman. Dengan adanya database di website ini diharapkan bisa dimanfaatkan lebih luas oleh para pengguna (users) dan tidak terbatas oleh katalog cetak yang semakin sulit untuk didapat di pasaran. Selain deskripsi dan metadata tentang naskah di website, proyek juga mengupayakan adanya gambar cover dan halaman pertama dari masing-masing naskah di website untuk memberikan pemerian yang lebih bagi para pengguna. Secara umum bisa saya sampaikan hasil kodikologi naskah-naskah adalah sebagai berikut:

NO PERPUSTAKAAN HASIL KODIKOLOGI
1. Kraton Yogyakarta 370 naskah
2. Museum Sanabudaya 987 naskah
3. Pura Pakualaman 261 naskah
4. Balai Bahasa DIY 26 naskah (dari 100-an naskah)
5. Perpusda DIY 4 naskah
6. Kraton Surakarta 310 (dari 700-an naskah)
7. Cirebon Belum selesai

Gambar 8: Workshop restorasi cover naskah

Gambar 9: Digitalisasi naskah dengan Zeutschel OS 12000

Aspek ketiga dari proyek adalah digitalisasi. Secara umum bisa dikatakan bahwa digitalisasi inilah yang memakan waktu paling banyak dan paling rumit dari ketiga aspek restorasi. Untuk mendapatkan gambar dengan kualitas bagus, maka restorasi menggunakan scanner Zeutschel OS12000. Dengan scanner yang dibawa setelah selesainya proyek restorasi di Aceh ini didapat kualitas gambar yang bagus dan yang pasti lebih cepat daripada menggunakan kamera secara manual. Dengan scanner ini juga bisa didapatkan 2 file sekaligus, yaitu file JPEG dengan kualitas bagus dan file TIFF dengan kualitas sangat bagus. File JPEG disediakan dalam sebuah komputer yang tersedia di masing-masing perpustakaan/koleksi yang bisa diakses dengan mudah oleh para pengguna. File TIFF merupakan back-up yang diharapkan bisa disimpan dengan baik dan bisa digunakan sewaktu-waktu bila naskah asli rusak atau hilang. Satu hal penting yang menjadi concern proyek adalah bahwa back-up naskah seyogyanya disimpan tidak di perpustakaannya. Ini merupakan bagian dari disaster management dimana bila terjadi musibah atau bencana yang merusak koleksi naskah asli, maka back-up naskah tetap bisa dimanfaatkan untuk reproduksi naskah kembali.
Karena kegiatan digitalisasi berlangsung di dua atau tiga tempat sekaligus, maka selain scanner zeutschel 12000, proyek juga menggunakan Traveller’s Consevation Copy Stand kamera (Canon EOS 5D Marx II) dan juga Canon EOS 5D dengan stand sederhana untuk mempercepat proses digitalisasi. Secara ringkas bisa penulis sampaikan hasil digitalisasi sebagai berikut:

NO PERPUSTAKAAN HASIL DIGITALISASI
1. Kraton Yogyakarta 272 naskah (sebagian rusak/besar)
2. Museum Sanabudaya 838 naskah (± 60 dari 170-an lontar)
3. Pura Pakualaman 0 naskah (belum boleh didigitalkan)
4. Balai Bahasa DIY 100 naskah
5. Perpusda DIY Sudah didigitalkan
6. Kraton Surakarta 700-an naskah
7. Cirebon 100-an naskah (belum selesai)

F. Output Proyek
Walaupun secara umum sudah disampaikan di atas tentang output dari proyek ini, mungkin perlu juga kami rinci bahwa output dari proyek adalah sebagai berikut:
1. Kondisi & penanganan naskah sudah lebih baik.
2. Database online di http://www.manuscripts-java.org
3. Naskah digital di beberapa perpustakaan/koleksi.
4. Laboratorium restorasi naskah di Kraton Yogyakarta dan bantuan alat-alat restorasi di Perpustakaan Museum Sanabudaya dan Pura Pakualaman.
5. Back-up naskah digital berupa hard-disk.
6. Pustakawan alumni workshops yang lebih memahami naskah dan cara menanganinya.

Hasil proyek yang sudah cukup signifikan di atas perlu didukung oleh kebijakan-kebijakan pengelola perpustakaan untuk sebagai upaya untuk maintenance naskah tetap dalam kondisi baik, termasuk pemeliharaan back-up naskah. Yang lebih signifikan untuk jangka panjang adalah kebijakan di level pemerintah dan atau akademisi untuk mendirikan program studi atau semacam akademi untuk restorasi naskah. Mengingat banyaknya naskah di Nusantara, maka pendirian program studi ini sudah sangat urgen di Indonesia.

G. Tantangan & Hambatan
Secara umum bisa dikatakan bahwa proyek restorasi naskah-naskah Jawa berjalan dengan lancar, walaupun tidak bisa dikatakan tanpa tantangan dan hambatan. Diantara tantangan dan hambatan dalam pelaksanaan proyek ini penulis sampaikan di bawah ini. Pertama adalah keengganan pemilik naskah untuk diretorasi dan atau didigitalisasi. Naskah-naskah koleksi Kraton Mangkunegaran Surakarta adalah salah satunya. Walaupun koleksi naskah di Kraton Mangkunegaran sudah banyak yang rapuh, namun tetap saja pihak kraton belum membolehkan naskah-naskahnya disentuh dengan teknologi modern seperti restorasi atau digitalisasi. Berbagai upaya sudah dilakukan namun tidak membuahkan hasil. Pemilik naskah yang lain adalah Pura Pakualaman yang sejauh ini hanya boleh direstorasi dan kodikologi, namun belum dibolehkan untuk didigitalisasi. Capaian untuk Pura Pakualaman sejauh ini sudah cukup bagus karena dalam pendekatan-pendekatan awal pihak kraton malah sama sekali tidak mau naskahnya diusik dengan teknologi yang menurut sebagian diantara pemiliknya akan menghilangkan pamor dari naskah tersebut. Kasus lain juga terjadi di Kraton Yogyakarta yang tidak atau belum membolehkan koleksi naskah yang dianggap kramat seperti naskah Kanjeng Kyai Serat Surya Raja.
Kedua adalah masalah minimnya SDM atau ahli restorasi di Indonesia. Hanya beberapa perpustakaan yang mempunyai ahli restorasi yang terdidik dengan baik. Kalaupun ada mereka bukan ahli restorasi kertas atau bahkan merangkap sebagai pustakawan. Menurut hemat penulis, kebijakan dari para pengambil kebijakan dalam hal pengadaan SDM yang berkualitas sudah dalam taraf urgen. Sebagaimana saya sebutkan dalam bagian sebelumnya bahwa sudah saatnya pemerintah membuka program studi restorasi naskah atau sebuah akademi. Melihat banyaknya naskah di Indonesia, maka hal ini sudah sangat diperlukan. Selain itu juga belum cukup tersedianya bahan atau alat untuk restorasi naskah di Indonesia seperti kertas tissue Jepang, kertas non-asam.

H. Epilog
Dengan berakhirnya proyek restorasi naskah-naskah Jawa ini maka secara praktis hasil dari proyek naskah ini sudah bisa dinikmati oleh para pengguna. Dengan harapan bahwa naskah asli tidak lagi banyak disentuh kecuali untuk untuk sesuatu yang sangat penting, maka informasi tentang naskah bisa didapat secara online sedangkan naskah digital bisa didapatkan secara offline di perpustakaan masing-masing.
Berakhirnya proyek naskah-naskah Jawa (2009-2012) juga tidak menandakan bahwa perhatian terhadap naskah secara fisik berakhir. Banyak yang masih tersisa yang belum tersentuh oleh proyek ini seperti naskah-naskah yang rusak berat di Kraton Yogyakarta atau Surakarta, juga naskah-naskah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Madura yang juga memerlukan “sentuhan” ahli restorasi dan digitalisasi. Untuk naskah-naskah tertentu yang rusak parah mungkin bisa juga diadakan proyek-proyek prestigious dengan bekerjasama dengan lembaga-lembag di luar negeri sebagaimana telah dilakukan pada naskah Serat Ambya di Sanabudaya beberapa tahun yang lalu. Minimnya ahli restorasi di Indonesia semoga membuka lebar kesadaran para pemangku kebijakan akan perlunya mengirimkan calon-calon ahli Indonesia untuk studi di berbagai universitas atau pusat-pusat restorasi naskah di beberapa negara di Eropa.

Bahan Bacaan:
Behrend, T.E., Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 1, Museum Sanabudaya. Jakarta: Djambatan, 1990.
Cooper, John (ed.), ‘The significance of Islamic manuscripts’: PROCEEDINGS OF THE INAUGURAL CONFERENCE OF Al-Furqan Islamic Heritage Foundation (30th November-1st December 1991). London: Al-Furqan Islamic Heritage Foundation, 1992.
“Corrosive Media: Iron Gall Ink Corrosion” http://www.loc.gov/preservation/scientists/ projects/ iron_gall_ink.html [diakses 4 September 2012].
J.M. Dureau & D.W.G. Clements, Dasar-dasar Pelestarian dan Pengawetan Bahan Pustaka, Terj. Mimi D. Aman. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI, 1990.
Pigeaud, Literature of Jawa: Catalog Raisonne of Javanese Manuscripts in the Library of The University of Leiden and Other Public Collections in The Nedherland. Vol I-IV. The Hague: Martinus Nijhoff, 1967-1980.
Pudjiastutik, Titik, Sastra Jawa suatu Tinjaun Umum. Jakarta: Balai Pustakan, 2001.
Robson, S.O., “More about Tanah dan Karas” dalam BKI No. 132 tahun 2001.
Soebadio, Haryati. “Penelitian Naskah Lama Indonesia” dalam Bulletin Yaperna No. 7: 11-18, Tahun II bulan Juni.

Biodata Penulis:
Muhammad Wildan adalah dosen di jurusan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Fakultas Adab & Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menyelesaikan S-1 di IAIN Sunan Kalijaga (1995), meneruskan studi S2di Leiden University Belanda (1999), dan menyelesaikan S3 di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) pada tahun 2009. Keahliannya utamanya adalah pada gerakan-gerakan Islam radikal di Indonesia, sedangkan perhatiannya pada naskah adalah keahlian minornya. Dia bisa dihubungi di wildan71@yahoo.com.


Responses

  1. Bagus pak, lanjutkan…..
    Salam…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: