Oleh: Muhammad Wildan | 15 Maret 2012

Kampus basis gerakan Islam radikal?

Muhammad Wildan

Maraknya berbagai ancaman bom akhir-akhir ini dari bom buku hingga bom Serpong menandakan masih suburnya gerakan Islam radikal di Indonesia. Salah satu faktor penting dalam gerakan Islam radikal seperti NII adalah rekruitmen anggota. Dalam melakukan rekruitmen, gerakan Islam radikal menggunakan beberapa cara tergantung pada calon korbannya. Beberapa kasus pencucian otak (brain washing) yang marak akhir-akhir ini hanyalah salah satu cara rekruitment anggota gerakan Islam radikal seperti NII.

Beberapa pengamat berasumsi bahwa orang yang kurang berpendidikan (uneducated) sangat mudah untuk dipengaruhi dan berpeluang diajak masuk dalam gerakan Islam radikal. Walaupun teori itu tidak sepenuhnya salah, namun asumsi itu terlalu simplistik dan cenderung menafikan faktor-faktor lain.

Kasus yang terjadi terakhir terkait dengan jaringan Pepi Fernando adalah jelas bahwa sebagian besar dari 20 tersangka teroris yang ditangkap densus 88 ini adalah sarjana. Hal yang sama juga pernah terjadi, bandara Heathrow di London tahun 2003 juga dibom oleh orang-orang yang sangat terdidik. Orang-orang terdidik pada saat yang sama potensial untuk melawan gerakan Islam radikal, tapi juga potensial sebagai pendukung gerakan Islam radikal.

Rational choice theory
Tidak bisa dielakkan bahwa gerakan Islam radikal seperti NII justru tumbuh subur di kalangan terpelajar. Hal yang sama juga terjadi pada gerakan-gerakan Islam konservatif seperti Hisbut Tahrir (HTI) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kedua organisasi Islam ini dan atau organisasi underbow-nya justru subur di kampus-kampus dan lebih-lebih di universitas umum ada fakultas eksaktanya. Sebaliknya, di kampus-kampus Islam dan hanya terdiri dari fakultas sosial gerakan-gerakan Islam konservatif dan radikal justru kurang mendapat sambutan.

Dalam perspektif gerakan sosial, fenomena ini disebut dengan teori pilihan rasional (rational choice theory). Teori ini berargumen bahwa orang-orang yang terlibat dalam suatu gerakan sosial (keagamaan) bukanlah orang yang memilih secara emosional, tapi justru memilihnya secara rasional. Walaupun dalam beberapa hal ada kesamaan dengan teori kelasnya Marx, teori pilihan rasional melihat bahwa seseorang memilih untuk terlibat dalam suatu aksi karena dia meyakini aksi tersebut akan memberikan kegunaan yang lebih besar kepada mereka.

Menurut teori ini, gerakan Islam garis keras justru lebih mudah diterima oleh segmen masyarakat terdidik daripada tidak terdidik, karena faktor rasionalitas. Mahasiswa khususnya di fakultas-fakultas eksakta akan lebih mudah menerima asumsi-asumsi sosial yang diajukan oleh sebuah gerakan Islam radikal. Kebiasaan berpikir secara rasional dan juga positivistis bagi mahasiswa-mahasiswa eksakta menjadikan mereka berpikir secara dikotomis, hitam-putih atau benar-salah.

Kebiasaan cara berpikir secara dikotomis seperti inilah yang akhirnya memudahkan gerakan-gerakan Islam konservatif dan radikal masuk. Tidaklah mengherankan bila NII atau faksi-faksinya kemudian mudah diterima di kampus.

Hal di atas juga didukung oleh faktor ketidakadilan sosial yang banyak terjadi di Indonesia. Ketidakadilan sosial ini dipahami dengan lebih baik oleh kalangan akademisi secara informatif dan pada umumnya mereka memahaminya sebagai kesalahan yang sistemik. Di lain pihak, Islam juga diyakini memiliki konsep bahkan sistem sosial yang lebih bagus untuk menyelesaikan problem-problem sosial. Iming-iming bahwa Islam akan menyelesaikan problem sosial yang sistemik tersebut memudahkan kalangan akademisi untuk bergabung dalam jaringan Islam radikal semacam NII. Apalagi jika tawaran itu dilandasi doktrin agama dibingkai dengan konsep Negara Islam atau Khilafah Islamiyah.

NII adalah orang-orang terpelajar
Sejarah mencatat bahwa banyak diantara tokoh-tokoh NII dan juga faksi-faksinya termasuk JI adalah orang-orang kampus. SM. Kartosuwiryo misalnya, dia mendapatkan ide-ide radikalnya ketika kuliah di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), Sekolah Kedokteran Belanda untuk pribumi di Surabaya. Faktor-faktor budaya dan politik pasti tidak bisa dinegasikan dalam konteks ini. Tapi faktor pilihan rasional penulis lihat adalah yang paling dominan.

Patut dicatat juga bahwa gerakan Islam radikal NII pada awal 80-an juga menjadikan kampus sebagai basis gerakannya. Masjid Sudirman di bilangan Kolombo Yogyakarta telah menjadi basis gerakan NII yang mayoritas aktivisnya adalah mahasiswa dari berbagai universitas atau institut di Yogyakarta saat itu. Demikian pula di kota-kota lainnya seperti di Jakarta atau Bandung yang menjadikan kampus sebagai basis kaderisasi gerakan Islam radikal, atau paling tidak konservatif.

Dalam konteks kekinian, kita catat bahwa Noordin M. Top, Azahari Husin, dan bahkan Pepi Fernando adalah orang-orang kampus yang akrab dengan dunia rasionalitas dan juga sikap positivistis. Penulis juga menengarai bahwa gerakan Islam radikal ini masih cukup mendapat pengikut di beberapa kampus terkenal di Indonesia.

Doktrin NII tentang trilogi Islam yaitu iman, hijrah, dan jihad lebih mudah diterima di kalangan akademisi. Setelah melaksanakan ketiga konsep itu, mereka mengharap kemenangan Islam sudah dekat. Tidaklah mengherankan bila tidak hanya mahasiswa yang mudah menerima doktrin ini, namun juga dosen.

Kampus harus waspada
Rekruitmen ala cuci otak lebih banyak dilakukan oleh gerakan Islam radikal yang menginginkan kuantitas anggota dan finansial. Dalam faksi NII, disinyalir NII KW9 yang lebih banyak menggunakan strategi ini tanpa mengindahkan kualitas calon anggotanya. Oleh karena itulah maka biaya ”hijrah” yang mahal lebih diutamakan daripada kualitas anggotanya.

Faksi-faksi NII lainnya cenderung memilih calon anggota yang berkualitas, yaitu di lingkungan kampus. Seorang pedakwah NII dengan mahir bersilat lidah dan berargumentasi dengan dalil di depan seorang mahasiswa yang baru menunjukkan semangatnya untuk belajar Islam. Dengan modus seperti ini dengan relatif cukup mudah seorang mahasiswa bisa terlena dengan buaian janji-janji perubahan sistem sosial yang, menurut mereka, tidak bisa diperbaiki kecuali dengan diganti sistemnya, yaitu dengan didirikannya Negara Islam.

Sudah saatnya, para pemegang kebijakan di kampus harus waspada terhadap fenomena ini. Gerakan-gerakan Islam radikal cenderung menggunakan atau mendompleng pada kegiatan-kegiatan extra-kurikuler mahasiswa, yang kurang mendapatkan perhatian para pemegang kebijakan. Tidak berarti membatasi kreativitas mahasiswa, pihak universitas harus mulai waspada dengan gerakan-gerakan Islam yang menjadikan kampus sebagai basis kaderisasinya, khususnya di fakultas-fakultas eksakta. Dengan bekerjasama dengan organisasi mahasiswa Islam atau dosen-dosen universitas yang moderat diharapkan bisa mereduksi penyebaran ideologi gerakan Islam radikal seperti NII.

***
Penulis adalah alumni Pondok Ngruki, dosen UIN Sunan Kalijaga, dan pengamat gerakan-gerakan Islam radikal. Bisa dihubungi di wildan71@yahoo.com


Responses

  1. http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/04/13/6/146440/Paham-Ekstrem-hanya-Membuat-Bangsa-Tertinggal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: