Oleh: Muhammad Wildan | 26 September 2010

PONDOK NGRUKI DAN RADIKALISME AGAMA DI INDONESIA

Muhammad Wildan

Abstract
The bomb explosion in WTC US in 11 September 2001 has shocked the world. Moreover, the authority considered that a certain Muslim group did the bombing. This accusation has certainly labeled Islam as one of the great threat of the world; Islam is terrorism. In Indonesian context, the Bali bombings in 12 October 2002 has made Indonesian authority to blame a certain Muslim group as the doer of the bombing. One of the results then, Pondok Ngruki has been becoming a “famous” boarding school in Indonesia. It is due to the involvement of some Pondok Ngruki graduates and the possibility involvements of KH Abu Bakar Ba’asyir as he was involved in some radicalism during the New Order period. Although it is hard to find the relationship between Bali blast and Abu Bakar Ba’asyir, the authority still believes that they have relationship. As one of the several pondok pesantrens that inherits the spirit of Darul Islam movement, Pondok Ngruki attracts people to have a look more inside to the pesantren to witness some of the accusations whether it is really “wild” (Ind. galak) pesantren. As a graduate Pondok Ngruki, the writer is “encouraged” spiritually to write this article to give some explanation about the pesantren. It is deliberately written to clarify the relationship between Pondok Ngruki and some religious radicalism and the position of Pondok Ngruki in the struggle of Islam in Indonesia.

A. Pendahuluan
Pembicaraan mengenai Pondok Ngruki tidak bisa dipisahkan dari berbagai perseteruan antara Islam dan negara di Indonesia pada masa Orde Baru. Beberapa peristiwa radikalisme agama seperti kasus Teror Warman, tabloid Ar-Risalah dan Usrah juga sering dikaitkan dengan pondok ini. Tuduhan subversib pemerintah terhadap pondok yang berada di pinggiran kota Solo ini mengakibatkan dipenjaranya beberapa ustadz dan, akhirnya, berujung pada “hijrahnya” para pemimpin pondok ini ke negeri Jiran, Malaysia pada tahun 1988. Sejak itu, pondok yang bernama Al-Mukmin dan terletak di dusun Ngruki tersebut nyaris lenyap dari percaturan politik praktis dan tenggelam dalam kesibukan sebagai institusi pendidikan formal sebagaimana pondok pesantren yang lain.
Reformasi politik pada masa transisi tahun 1998 memanggil nurani para pemimpin pondok Ngruki di negeri Jiran untuk kembali berkiprah dan ikut serta berdakwah di Indonesia. Suasana politik yang mengakomodasi pluralitas keagamaan tidak lagi menjadi hambatan bagi mereka untuk berdakwah. Kondisi tersebut tentu saja tidak menimbulkan pergesekan mereka dengan pemerintah hingga akhirnya terjadi peristiwa yang mengehebohkan dunia, yaitu pengeboman gedung WTC di Amerika pada 11 September 2001. Secara umum, orang menyayangkan peristiwa yang menewaskan ribuan orang Amerika tersebut. Namun, tidak sedikit orang yang mengganggap peristiwa ini sebagai simbol perlawanan umat Islam di dunia terhadap hegemoni dan “arogansi” Barat. Setelah itu, Amerika menuduh jaringan Al-Qaeda sebagai pelaku pengeboman tersebut dan kemudian melancarkan kecaman dan perang terhadap Al-Qaeda dan seluruh jaringannya di dunia. Pada gilirannya, Amerika menuduh Indonesia sebagai pusat jaringan Al-Qaeda di Asia Tenggara dengan nama Jamaah Islamiyah. Tertangkapnya Fatkhurrahman Al-Ghozi, orang Madiun yang pernah nyatri di Pondok Al-Mukmin Ngruki, di Philipina karena menyimpan 1 ton bahan peledak dan belasan senjata laras panjang menguatkan dugaan Amerika tersebut. Karena peristiwa tersebut, akhirnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dituduh sebagai anggota Jamaah Islamiyah atau Kumpulan Militan Malaysia (KMM). Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang sejak kembali dari Malaysia sibuk dengan pondok dan organisasi Majlis Mujahidin Indonesianya, akhirnya harus kembali disibukkan dengan berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional, berkaitan dengan masalah jaringan Al-Qaeda di Asia Tenggara. Terakhir, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ditahan oleh polisi dengan tuduhan terkait dengan pemboman Bali dan rencana pembunuhan Presiden Megawati. Satu hal yang menguatkan tuduhan itu adalah bahwa beberapa orang yang sudah ditahan dan terkait dengan Bom Bali ada kaitannya dengan Pondok Ngruki atau Abubakar Ba’asyir.
Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki yang dalam 10 tahun terakhir tidak banyak disebut orang, akhirnya muncul berbagai media massa kaitannya dengan dugaan keterlibatan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dalam jaringan Al-Qaeda. Berbagai tuduhan muncul: Pondok Ngruki adalah “sarang” teroris, tempat penggemblengan tentara Islam dan lain sebagainya. Akhirnya, pondok Ngruki banyak dikunjungi orang dari berbagai masmedia, baik nasional maupun internasional, yang ingin tahu apakah benar pondok tersebut memang seperti yang disinyalir banyak pihak selama ini. Ada beberapa hal menarik yang bisa diungkapkan dalam artikel ini sebagai upaya untuk menengarai berbagai isu tersebut di atas. Pertama, bagaimana sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki dan bagaimana keterlibatan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di dalamnya? Kedua, bagaimana proses pendidikan di Pondok Ngruki sehingga bisa menghasilkan alumni yang “berbeda” dengan pondok lain. Ketiga, apakah Pondok Ngruki erat kaitannya dengan radikalisme agama Islam di Indonesia? Terakhir, bagaimana posisi dan peran Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dalam Majlis Mujahidin Indonesia?

B. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Ngruki
Kondisi umat Islam Indonesia, khususnya Solo, pada awal masa Orde Baru menjadi salah satu latarbelakang berdirinya Pondok Pesantren Al-Mukmin. Ketika pecah peristiwa G30 S PKI, Solo merupakan kantong aktivis PKI. Selain itu, secara umum kota Solo adalah kota yang sangat plural sehingga kota ini sangat kondusif bagi berbagai pergerakan sosial yang puritan. Komunitas berbagai etnis dan golongan ada di kota kecil ini; etnis Arab dan etnis Cina mempunyai komunitas yang sangat besar. Di lain pihak Islam militan dan Islam abangan juga mempunyai komunitas yang hampir sama besarnya. Pluralisme masyarakat Solo ini merupakan sebuah tantangan sekaligus kesempatan bagi orang–orang atau kelompok yang ingin mengadakan perubahan besar. Bagi sebagan umat Islam, kondisi masyarakat Solo inilah yang “memanggil” mereka untuk mengembangkan Islam yang lebih baik. Tidaklah mengherankan bila di kota Solo banyak terdapat pondok pesantren, baik yang tradisional maupun modern.
Berdirinya Pondok Pesantren Ngruki berawal dari pengajian selepas dluhur di Masjid Agung Surakarta. Pada tahun 1969, beberapa da’i dan mubaligh Masjid Agung tersebut kemudian mengembangkan pengajian itu menjadi madrasah diniyah yang mengambil lokasi di Jl. Gading Kidul. Antusiasme masyarakat terhadap keberadaan madrasah ini menambah semangat para ustadz untuk mengembangkan dakwah mereka. Pada tahap selanjutnya, radio RADIS (Radio Dakwah Islam Surakarta) didirikan juga oleh para dai masjid Agung sebagai lembaga dakwah yang bisa didengar oleh lebih banyak orang sekaligus untuk mendukung perkembangan madrasah diniyah. Karena perkembangan dan keragaman bentuk dakwah, kemudian mereka mendirikan yayasan YPIA (Yayasan Pendidikan Islam dan Asuhan Yatim/Miskin) sebagai menyatukan misi dakwah mereka. Selanjutnya, karena madrasah diniyah dirasa kurang berhasil dalam mencetak generasi muda Muslim yang sempurna, maka pada tanggal 10 Maret 1972 madrasah diniyah tersebut dikembangkan menjadi Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin sebagai upaya untuk mengintensifkan dakwah mereka.
Versi lain mengatakan bahwa pondok Ngruki berawal dari pesantren yang telah didirikan oleh Muhammad Amir di lingkungan rumahnya di dusun Ngruki sejak tahun 1962. Muhammad Amir, yang lebih akrab disebut Pak Amir, menggarisbawahi bahwa dia mengasuh sekitar 12 santri di masjid yang dia bangun di depan rumahnya, ketika peristiwa PKI itu terjadi. Walaupun pada awalnya pondok yang didirikan Pak Amir dan madrasah diniyah yang didirikan oleh para dai masjid Agung berjalan sendiri-sendiri, pada tahun 1972 kedua institusi tersebut digabung menjadi satu dengan nama yaitu Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin Ngruki. Pada tahap awal, pondok ini bertempat di Gading Kidul, sekitar 2 km ke arah timur dari lokasi pondok sekarang dengan 30 santri, termasuk di dalamnya 10 anak yatim.
Terlepas dari 2 versi tentang awal berdirinya pondok pesantren, pondok pesantren Al-Mukmin berkembang dengan cukup bagus. Pada tahun 1974, karena keterbatasan infrastruktur pondok di Gading, maka yayasan memindahkan lokasinya ke dusun Ngruki, yaitu di atas tanah wakaf K.H. Abu Amar. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pondok dikembangkan dari madrasah diniyah dan radio RADIS, maka para pendiri pondok sekaligus ustadznya adalah pendiri dan aktivis madrasah diniyah dan radio RADIS tersebut. Para pendiri pondok tersebut adalah Abdullah Sungkar, Abu Bakar Ba’asyir, Abdullah Baradja’, Yoyo Rusywadi, Abdul Qohar Daeng Matase dan Hasan Basri. Merekalah yang kemudian disebut dengan founding fathers pondok yang sekarang mempunyai santri sekitar 2000 ini. Pada perkembangan selanjutnya, Pondok Ngruki cenderung memakai alumni-alumninya sendiri sebagai tenaga-tenaga pengajar dan tidak menggunakan alumni pesantren lain.
Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir yang menjadi pemimpin pondok dan sekaligus memberi corak khusus pesantren ini. Kedua kyai inilah yang pada perkembangannya lebih dikenal sebagai pengasuh pondok Ngruki dan menjadi semacam trade-marknya. Terkenalnya kedua pengasuh pondok ini karena, selain mengajar di kelas-kelas akhir pondok, mereka juga dikenal sebagai kyai yang mempunyai banyak penggemar, baik di Surakarta maupun di wilayah lain. Secara organisatoris, mereka juga terlibat dalam berbagai kegiatan dakwah Islam di beberapa kota di Indonesia. Sebagian dari para pendiri lainnya juga terlibat langsung dalam pendidikan di pondok, tapi mereka tidak seaktif kedua pengasuh di atas di luar pondok. Sebagian pendiri pondok yang lain aktif di yayasan YPIA yang bertanggung-jawab terhadap perkembangan pondok secara finansial. Walaupun demikian, sering ada tension (ketegangan) antara pondok dan yayasan. Sikap “keras” KH Abu Bakar Ba’asyir dan KH Abdullah Sungkar sering membuat yayasan kuwatir akan keberlangsungan pendidikan di pondok. Tetapi, berbagai ketegangan tersebut akhirnya bisa diselesaikan sehingga proses pendidikan di pondok bisa berjalan dengan baik. Puncak ketegangan justru terjadi pada tahun 1995, beberapa ustadz yang mewarisi sikap “keras” Ustadz Abu Bakar dan Abdullah memilih untuk keluar dari pondok. Hal ini kemuadian berakibat pada kelaurnya sekitar 50-an ustadz-ustazd muda beserta 500-an santri yang mayoritas dari unit KMI dan KMA.
Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang dilahirkan di Jombang ini mendapatkan pendidikan Islam di pondok Gontor Ponorogo dan pernah kuliah selama 2 tahun di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sejak masa remajanya, dia banyak terlibat pada gerakan atau organisasi Islam. Selain aktif di Gerakan Pemuda Islam Indonesia, GPII (1969), dia juag aktif di Pelajar Islam Indonesia, PII (1960-1963). Setelah itu, dia juga pernah aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam, HMI pada tahun 1964. Pengetahuan keagamaannya yang lebih mendalam banyak dia pelajari secara otodidak dengan ilmu alat yang dia peroleh di pondok. Selanjutnya, dia aktif sebagai mubaligh yang sering punya pendapat yang berseberangan dengan pemerintah. Kritik-kritik tajam terhadap pemerintah Oder Baru dalam berdakwah di Solo di akhir 70-an menjadikannya harus mendekam di penjara selama beberapa tahun. Keluar penjara pada tahun 1982 tidak menjadikannya jera, bahkan kritikannya terhadap pemerintah semakin tajam. Sehingga, pada tahun 1985 dia, bersama KH Abdullah Sungkar, dipanggil kembali ke pengadilan dengan berbagai tuduhan subversib. Akhirnya, kedua kyai tersebut “hijrah” ke Malaysia dengan bantuan dari berbagai pihak, tak terkecuali dari pihak aparat pemerintah yang simpati pada perjuangannya.
Ustadz Abdullah Sungkar adalah keturunan Arab-Yaman yang dilahirkan di Solo pada tahun 1937. Lingkungan Arab di bilangan Pasar Kliwon Solo yang kental dengan tradisi keagamaan banyak berpengaruh pada masa muda Abdullah Sungkar. Sejak TK hingga SLTA dijalaninya di sekolah-sekolah Islam. Karena kecerdasannya, terutama dalam menguasai bahasa Arab dan Inggris, dia banyak belajar agama secara otodidak dan tidak melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Pada masa Orde Lama, dia aktif di GPII dan aktif juga sebagai anggota partai Masyumi. Selain banyak berhubungan dengan aktivis Masyumi ini, dia juga menyampaikan aspirasi Islamnya lewat ceramah-ceramah di wilayah Surakarta. Pada tahap selanjutnya, dia bertemu dengan aktivis-aktivis Islam lainnya dan mulai mendirikan berbagai lembaga dakwah Islam.
Dilihat dari misi dakwahnya, Pondok Ngruki tidak berafiliasi pada organisasi masyarakat atau golongan tertentu. Kemandirian inilah yang senantiasa menjadi prinsip para pendiri pondok, sehingga mereka “bebas” dalam merumuskan dan mewujudkan corak pendidikan Islam di dalamnya. Para pendiri yang berasal dari berbagai daerah (baca: suku) dan juga macam-macam latarbelakang pendidikan menjadikan pondok ini mempunyai corak atau warna tersendiri. Kalau dikategorikan, maka pondok pesantren ini adalah radikal modernis. Maksudnya modernis dari sisi metode pendidikannya, tapi radikal dari sisi materi yang diajarkannya. Dari tujuan pendirian pondok pesantren juga jelas bahwa pondok ini lebih eksplisit, yaitu “mencetak generasi Muslim yang bertafaqquh fiddin, sehingga menjadi ulama amilin fi sabilillah yang sanggup menerima dan mengamalkan Islam secara kaffah”. Untuk mencapai tujuan tersebut, beberapa mata pelajaran inti seperti Aqidah Islamiyah, Syariah dan bahasa Arab diajarkan semaksimal mungkin. Penekanan pada aspek aqidah inilah yang menarik banyak pihak untuk mengetahui lebih dalam dan bahkan untuk menyekolahkan santrinya ke pondok ini.
Demikian juga bila dilihat asas dan tujuan yayasannya, Yayasan Pendidikan Islam Al-Mukmin (YPIA) “berazaskan Pancasila dan beraqidah Islam serta bertujuan membentuk generasi Mukmin yang bertaqwa-berakhlak mulia, cakap cukup ilmu pengetahuannya serta cinta tanah air dan bangsanya.” Memang, yayasan yang membawahi berbagai unit pendidikan di antaranya pondok pesantren ini tidak memasalahkan adanya Pancasila sebagai Asas Tunggal. Akan tetapi, dalam perjalanan sejarahnya pondok ini banyak bersitegang dengan pemerintah RI berkaitan dengan Asas Tunggal tersebut. Tidak berbeda dengan yayasan dan organisasi massa yang lainnya, nampaknya yayasan ini segera merubah asas pada AD/ART-nya setelah diberlakukannya Asas Tunggal pada tahun 1987. Dan, tidak berbeda dengan organisasi-organisasi Islam lain seperti Muhammadiyah, pondok atau yayasan ini menerima Pancasila sebagai asasnya hanya sebagai upaya untuk menyelamatkan diri.
Berbeda dengan pondok-pondok pesantren yang umumnya berada di kampung dan jauh dari perkotaan, pondok pesantren Al-Mukmin berlokasi tepat di pinggiran kota. Tepatnya berada di dusun Ngruki, Kalurahan Cemani, Kecamatan Grogol, kabupaten Sukoharjo, Surakarta. Pada perkembangan selanjutnya, Pondok Pesantren Al-Mukmin ini lebih dikenal oleh masyarakat umum dengan Pondok Ngruki, dan bahkan banyak yang tidak mengetahui bahwa pondok bernama Al-Mukmin. Posisi geografis inilah yang menjadikan para ustadz dan santri mudah mendapatkan akses ke berbagai fasilitas perkotaan. Jarak dari pondok ke pusat perkotaan kurang dari 1 km dan berbagai fasilitas transportasi juga tersedia. Walaupun demikian, para ustadz dan santri bisa hidup dengan budaya yang sangat berbeda dengan yang ada di kota. Filosofi ikan laut yang tidak terpengaruh oleh asinannya air laut benar-benar bisa dilihat di pondok ini. Walaupun demikian, hal ini tidak berarti bahwa pondok ini menolak modernitas seperti komputer dan lain sebagainya.

C. Sistem Pendidikan & Pengajaran Islam di Pondok Ngruki
Pada umumnya, pondok pesantren telah merubah sistem pendidikan dari tradisional ke modern. Para pengasuh pondok-pondok pesantren meyakini bahwa pendidikan dengan sistem modern akan lebih mudah dalam membentuk kepribadian santri dan memudahkan santri dalam melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, pendidikan modern yang digabung dengan sistem asrama jelas akan lebih mudah mengontrol santri 24 jam, daripada sistem pendidikan tradisional yang hanya paruh waktu saja. Walaupun demikian, tidak sedikit pesantren yang masih menggunakan sistem pendidikan tradisional dalam pendidikannya. Mereka pada umumnya adalah pondok pesantren yang tidak menyelenggarakan pendidikan umum dan hanya menyelenggarakan pendidikan agama.
Sebagai pondok pesantren bercorak modern, pendidikan di Pondok Peantren Al-Mukmin berjalan secara modern. Pendidikan diselenggarakan secara berjenjang dalam kelas-kelas dan dalam berbagai unit. Sejauh ini, pondok Ngruki menyelenggarakan beberapa unit pendidikan, yaitu: Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) dan Kulliyatul Mu’allikat Al-Islamiyah (KMA), Ma’had Shighar (MS), dan Ma’had ‘Aly (MA). Walaupun demikian, pondok ini juga “mengadopsi” beberapa sistem pendidikan tradisional seperti sorogan dan bandongan dalam membaca kitab di luar pelajaran di kelas.
Sepintas, tidak ada yang istimewa dalam pengajaran dan pembelajaran agama Islam di pondok Ngruki ini; semuanya nampak biasa dan seperti pada pesantren yang lain. Apalagi pendidikan formal di kelas dan juga buku-buku pelajaran yang digunakannya tidak ada yang menguatkan tuduhan di pesantren ini adalah sarang dan markas teroris. Bahkan di unit Mts dan Aliyah, kita bisa menyaksisan bahwa pesantren ini nampak seperti MTs dan Aliyah di luar pesantren. Mata pelajaran yang mayoritas (70%) umum, dan hanya sisanya yang muatan lokal (baca: agama) semakin melemahkan dugaan negatif banyak pihak. Satu hal yang nampak berbeda adalah materi pelajaran aqidahnya. Berbeda dengan buku-buku aqidah pada umumnya, buku aqidah untuk kelas 1 MTs itu ada tema jihadnya. Secara global dijelaskan dalam buku itu tentang kewajiban jihad secara normatif, dari upaya untuk membangun jama’ah hingga mempersiapkan kekuatan senjata.
Proses pendidikan di pondok yang diawasi 24 jam ini yang membedakan dengan institusi pendidikan umum lainnya. Pendidikan dan pengajaran di sekolah umum cenderung berfungsi untuk mentransfer ilmu pengetahuan. Di luar pendidikan formal inilah yang memang berbeda dan sekaligus sebagai wahana untuk pembentukan akhlak dan kepribadian para santrinya. Mulai dari suasana yang sangat kondusif untuk mengamalkan ajaran Islam dan juga didukung oleh dorongan dari para pengasuhnya yang cukup intensif. Kewajiban untuk sholat berjamaah 5 waktu sholat dan berpuasa setiap hari Senin dan Kamis bagi seluruh santri juga banyak berpengaruh secara mental bagi santri. Hal tersebut ditambah dengan kewajiban untuk bangun malam. Walaupun sepintas terlihat sebagian besar santri ngantuk ketika sholat malam, namun sedikit banyak hal ini berpengaruh pada pembentukan kepribadian mereka. Satu hal lagi yang mungkin secara psikologis juga mengkondisikan pola berpikir para santri adalah ceramah-ceramah yang cenderung dogmatis dan menggambarkan berbagai permasalahan secara hitam dan putih. Hal itu didukung oleh cenderung tertutupnya pondok dari akses ke informasi umum dari luar, seperti televisi, radio, dan surat kabar. Akhirnya, sudut pandang tunggal yang dipakai oleh para ustadz cenderung “memojokkan” para santri yang belum banyak pengetahuan dan pengalaman untuk menggunakan pola pikir yang sama. Selain itu, perpustakaan pondok yang hanya menyediakan buku-buku yang sejenis dan se-visi dengan pondok tidak banyak memberikan alternatif bagi santri untuk memilih. Buku-buku tentang pemikiran Islam juga amat sedikit terdapat di perpustakaan atau di koperasi santri. Kalaupun ada, sudah dapat dipastikan bahwa buku-buku tersebut yang selaras dengan misi pondok.
Beberapa hal lain juga berperan dalam membentuk kepribadian para santri. Pertama, kajian-kajian kitab yang diadakan secara informal di pondok Ngruki ini secara simultan membentuk pola pikir para santri. Beberapa kitab karya tokoh-tokoh pergerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir seperti Fathi Yakan, Sayyid Qutb dan Hassan Al-Banna dikaji secara tidak formal di luar kelas secara sorogan ataupun secara berkelompok-kelompok kecil (bandongan). Kitab Al-Wala’ wa al-Bara’ karya Said salim al-Qahthani dan Tarbiyah Jihadiyah karya Abdullah Azzam juga dipakai dalam kajian-kajian umum atau khusus. Akhirnya, kajian kitab ini ikut berperan dalam “mempetacompli” santri untuk mempunyai pandangan dan prinsip yang sama dengan yang ada dalam kitab tersebut. Selain itu, beberapa kasus subversib yang dihadapi oleh para ustadz pondok ini atau tokoh Islam lain ketika bersinggungan dengan pemerintah juga selalu menjadi berita dan tema aktual dalam berbagai kesempatan, seperti ceramah umum, khutbah Jum’at, kuliah Subuh maupun event-event yang lain. Pergesekan dengan pemerintah, bagi santri, bukanlah hal yang asing dan hal ini menimbulkan sikap resistensi santri terhadap pemerintah.
Selain materi ceramah yang secara umum mengarah pada Islam yang ideal, pondok Ngruki juga berusaha untuk memberlakukan beberapa Syariat Islam. Santri putra dipisahkan dengan santri putri dalam pembagian kelas, pelayanan umum dan dalam berbagai event adalah upaya untuk menanamkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip dalam Islam, selain juag untuk membedakan fungsi dan peran meraka. Beberapa kasus pencurian kelas teri di pondok oleh santri-santri yang nakal harus diselesaikan dengan pemberlakuan “Syariat Islam”; pencuri kecil itu harus dicambuk di depan semua santri. Secara psikologis dan sosial, ini juga punya pengaruh yang cukup signifikan dalam pembentukan kepribadian santri. Selain bahwa hukuman ini sangat “mujarab” sehingga sangat jarang terjadi pencurian, juga menjadikan para santri yakin bahwa Syariat Islam pasti akan membawa kemaslahatan umat Islam dibanding dengan aturan lain.
Tindakan-tindakan represif pemerintah (masa Orde Baru) terhadap pondok yang konon terkenal dengan aqidahnya yang keras ini akhirnya memunculkan berbagai sikap resistensi. Sikap ini diwujudkan dengan sikap acuh para ustadz dan santri terhadap para aparat pemerintah. Bahkan sering para santri, yang dipimpin oleh seniornya, meneriakkan takbir ketika mereka melakukan lari pagi secara masal dan kebetulan lewat di depan kantor polisi atau kantor tentara (semacam koramil dll). Pada tahun 1985, saat gentingnya hubungan antara para pemimpin pondok dengan pemerintah ada desas-desus bahwa pondok akan diserbu oleh aparat pemerintah. Dengan doktrin sami’na wa atho’na hampir semua santri terlibat dalam persiapan “perlawanan” dengan mengumpulkan batu-batu di sekeliling pondok. Simbol perlawanan Islam terhadap orang non-Muslim (baca: kafir) ala Intifadhah di Palestina juga membakar semangat jihad mereka. Pada saat genting itu, penjagaan pondok oleh santri-santri senior menjadi ekstra ketat, khususnya malam di mana dikuatirkan ada ada penyusupan dari pihak pemerintah.
Kondisi sosial dan geografis beberapa unit pondok pesantren yang berbeda mengakibatkan perbedaan konsekuensi yang sulit untuk dihindari. Unit-unit pendidikan Muallimin (KMI), Muallimat (KMA), dan Ma’had Sighor (MS) secara geografis berada di dusun Ngruki sebelah selatan yang kemudian lebih dikenal di kalangan pondok sebagai pondok selatan. Pondok selatan ini adalah sebenarnya pusat Pondok Pesantren Ngruki. Di sinilah para sesepuh dan ustadz senior tinggal dan mendampingi para santri 24 jam. Unit pendidikan yang lain, yaitu Tsanawiyah (MTs) dan Aliyah berada di dusun Ngruki bagian utara yang kemudian lebih di kenal di kalangan santri dan ustadz dengan istilah Pondok Utara. Keberadaan pondok ini disebabkan tidak cukupnya luas tanah pondok selatan. Walaupun sudah beberapa kali diadakan pembebasan tanah (baca: pembelian), namun pertumbuhan santri pondok ini belum memungkinkan untuk memadukan semua unit dalam satu komplek. Walaupun semua unit pada prinsipnya mendapatkan perlakuan yang sama, namun pada secara fundamental ada perbedaan. Pertama, secara geografis, pondok selatan yang yang menyatu dan berada dalam komplek yang terpisah dengan masyarakat jelas lebih berbeda dengan pondok utara yang cenderung menyatu dengan masyarakat sekitar. Kedua, keberadaan ustadz senior lebih dirasakan oleh santri pondok selatan daripada santri pondok utara. Ketiga, guru dari luar (guru-guru mata pelajarn umum) lebih banyak di pondok utara daripada di pondok selatan.
Hal tersebut di atas, pada akhirnya berakibat pada perbedaan output pondok Al-Mukmin ini. Walaupun sulit untuk membedakan secara “hitam dan putih”, namun perbedaan geografis dan sosial berpotensi dalam menciptakan output yang berbeda pula. Untuk melihat positif dan negatifnya kondisi ini, maka kita bisa melihat dari beberapa perspektif. Kondisi sosial di pondok selatan yang terpisah dengan masyarakat luar memudahkan para ustadz untuk menanamkan nilai-nilai Islam yang murni dan mengawasi pelaksanaannya hampir selama 24 jam. Di Pondok Utara, para ustadz memiliki kesulitan yang lebih komplek dalam menanamkan nilai-nilai Islam yang lebih intensif selama 24 jam. Walaupun demikian, tidak berarti bahwa kondisi Pondok Utara berefek negatif bagi para santri. Dengan menyatu dengan masyarakat, para santri lebih mengenal dan mengidentifikasi lebih awal problem-problem dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Sehingga, kondisi riil sosial yang mereka saksikan setiap hari di masa santri bukan hal yang baru ketika mereka harus bersosialisasi dengan masyarakat sesudah selesai nyantri nanti.

D. Pondok Ngruki dan Radikalisme Agama Pada Masa Orde Baru
Sebagian dari radikalisme agama yang banyak muncul di Indonesia akhir-akhir ini merupakan akibat dari globalisasi dan modernisasi. Globalisasi dunia yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi telah menyebabkan dunia bagaikan global village. Arus informasi dan teknologi yang deras dari negara-negara industri (baca: Barat) telah menciutkan dan memarginalkan peran agama dalam masyarakat. Dakwah-dakwah agama (baca: Islam) yang dilakukan secara konvensional tidak lagi mampu menahan arus modernisasi dari Barat yang cenderung ke Westernisasi. Di antara pengaruh modernisasi adalah meluasnya paham sekularisme yang oleh sebagain kelompok beragama dipandang sebagai pendangkalan iman/aqidah. Merasa tidak lagi mampu menahan arus globalisasi yang cenderung (menurut beberapa kelompok beragama) memarginalkan peran agama, maka beberapa kelompok Islam tersebut menginginkan perubahan yang lebih mendalam (radic). Gerakan-gerakan agama yang menginginkan perubahan lebih mendasar pada tatanan masyarakat inilah yang kemudian oleh para ilmuwan disebut dengan radikalisme agama.
Walaupun sulit untuk menyimpulkan bahwa Islam radikal adalah anti modernisasi, namun untuk menyatukan elemen-eleman modern tanpa menghapus nilai-nilai tradisional (agama) adalah sulit dan komplek, untuk tidak mengatakan tidak mungkin. Selain itu, ada keyakinan kuat di kalangan Islam radikal bahwa, (1) Islam memiliki konsep yang bisa membangun masyarakat yang ideal, (2) Masyarakat ideal hanya bisa dicapai dengan Islam. Keyakinan yang kedua di ataslah yang menjadikan pihak yang meyakininya tidak percaya pada hal-hal modern yang muncul dari Barat. Dan bahkan mereka menganggap bahwa nilai-nilai yang muncul bersamaan dengan modernisasi tidak baik untuk umat Islam. Akhirnya, beberapa kelompok radikal Islam di Indonesia menolak nilai-nilai dari Barat seperti demokrasi, persamaan gender dll.
Pada masa Orde Baru, Pondok pesantren Al-Mukmin Ngruki seringkali dikaitkan dengan berbagai gerakan radikalisme agama (Islam) di Indonesia. Beberapa peristiwa seperti kasus Teror Warman, tabloid Ar-Risalah dan Usrah sering disinyalir oleh banyak orang berkaitan erat dengan keberadaan pesantren ini. Bahkan banyak pihak yang mengatakan bahwa pondok Ngruki adalah pusat pembinaan militer Islam. Demikian pula pada masa reformasi ini, ditangkapnya Fatkhurrahman Al-Ghozi kembali mencuatkan pondok ini sebagai salah satu agen Al-Qaeda di Asia Tenggara. Banyak orang menganggap bahwa pondok Ngruki menyimpan berbagai misteri. Walaupun demikian, animo masyarakat untuk menyekolahkan anak mereka ke pondok ini tidak juga surut. Bahkan mencuatnya nama Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di tingkat nasional dan bahkan internasional secara ekonomi telah menaikkan “rating” pesantren ini.
Pada paruh pertama masa Orde Baru, pemerintah cenderung mewarisi sikap Orde Lama yang tidak menganggap umat Islam sebagai hambatan menuju kemajuan. Sikap pemerintah terhadap mayoritas penduduk Indonesia ini kemudian berakhir dengan berbagai ketegangan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Kecurigaan pemerintah terhadap beberapa kelompok umat Islam dan bahkan menjuluki mereka sebagai “merongrong kewibawaan pemerintah” tidak menyurutkan aspirasi umat Islam Indonesia. Bahkan, resistensi umat Islam berbanding lurus terhadap tekanan yang dilakukan pemerintah; semakin keras pemerintah menekan umat Islam, semakin keras juga mereka mengadakan perlawanan. Berbagai peristiwa seperti Komando Jihad, Tanjung Priok, Usrah, Teror Warman dan lain lain adalah sebagai dari ketegangan yang diciptakan oleh pemerintah. Akhir dari tekanan pemerintah adalah diberlakukannya Asas Tunggal Pancasila pada semua organisasi masyarakat dan politik pada tahun 1987. Sejak itu, pemerintah cenderung mengendorkan tekanannya terhadap umat Islam. Sehingga mulai akhir 90-an, umat Islam juga semakin kooperatif dalam menyikapi program-program pemerintah.
Pondok Pesantren Ngruki adalah salah satu dari sekian institusi yang mendapatkan perlakuan “istimewa” pemerintah Orde Baru. Kegiatan dakwah ustadz Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’syir yang menentang sikap keras dan non-kooperatif pemerintah terhadap umat Islam ditanggapi secara keras oleh mereka. Dalam berbagai ceramah di dalam maupun di luar pondok, mereka banyak mengkritik pemerintah yang cenderung “menganak-tirikan” umat Islam dibanding dengan pemeluk agama lain dan juga tentang urgensi perberlakuan Syariat Islam. Berbagai kritik mereka itu akhirnya menjadikan mereka harus mendekam 4 tahun penjara dengan tuduhan subversib, yaitu merongrong kewibawaan pemerintah dan ingin menggulingkan pemerintahan yang sah. Walaupun demikian, karena dakwah dua ustadz ini sudah diterima banyak orang, terutama dalam kaderisasinya di pondok, maka dipenjaranya dua kyai ini bagaikan pepatah “patah tumbuh hilang berganti, mati satu sati tumbuh seribu”. Pondok Ngruki tetap merupakan pondok dengan “label” yang lama, pondok yang “keras” dan “galak”. Pada perkembangannya, banyak kader-kader mereka yang harus mendekam di penjara sehingga muncul sebuah pameo di antara mereka bahwa “tidak sempurna iman dan Islam seseorang bila belum merasakan hidup di penjara”.
Dalam berbagai ceramah dan wawancara Ustadz Abu Bakar Ba’asyir mengatakan bahwa sebenarnya keterlibatannya dalam berbagai gerakan yang cenderung menentang pemerintah bukanlah misi utamanya. Juga dalam mengajarkan Islam kepada para santrinya, dia menandaskan bahwa dia hanya “sekedar” menyampaikan Islam yang benar kepada umat Islam dan tidak mengajarkan Islam yang “galak”. Kritik yang sering dilontarkannya tidak lebih dari upayanya untuk amar ma’ruf nahi munkar. Salah satu yang membedakan pendidikan agama Islam gaya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dengan kyai yang lain adalah bahwa ustadz yang satu ini berani mengajarkan materi Fiqh Jihad, termasuk ketika berdakwah di Malaysia.
Sejak awal 1970-an, Ustadz Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir menyadari bahwa dakwah Islam mereka membutuhkan sebuah wadah yang solid (jama’ah). Untuk itulah kemudian mereka membentuk sebuah wadah dengan nama Jama’ah Islamiyah. Dalam perkembangan organisasi ini, dua ustadz ini bertemu dengan gerakan Islam yang sudah lebih lama dan mempunyai jaringan yang lebih kuat, yaitu Negara Islam Indonesia (NII)-nya Sekarmaji Maridjan Kartosuwiryo (SMK) yang saat itu dipimpin oleh Imam Ajengan Masduki. Akhirnya Jama’ah Islamiyah menginduk ke NII dan Abdullah Sungkar berbaiat ke Haji Ismail Pranoto, yang lebih dikenal dengan sebutan Hispran. Kesesuaian antara kedua pihak ini kemudian menimbulkan sebuah simbiosis yang cukup besar. Pada perkembangan selanjutnya, pondok Ngruki, khususnya kedua ustadz di atas, menjadi semacam sentral pengkaderan anggota-anggota NII. Berbagai kegiatan dakwah Islam garis keras di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah sering berkaitan erat dengan keberadaan pondok Ngruki, khususnya kedua ustadz tersebut.
Pada perkembangan selanjutnya, hubungan antara Abdullah Sungkar dan Ajengan Masduki tidak harmonis. Ajengan Masduki disinyalir sebagai pengikut salah satu aliran tarekat. KH Abdullah Sungkar menganggap bahwa tarekat sebagai sebuah penyimpangan besar dan bahkan mengarah pada syirik. Beberapa kegiatan tarekat seperti mensucikan para pemimpin, minta barokah dan syafa’at kepada para arwah dinilai oleh KH Abdullah Sungkar sebagai perbuatan sesat. Akhirnya, pada tahun 1980-an, KH Abdullah Sungkar keluar dari jamaah NII pimpinan Ajengan Masduki dan berdiri sebagai imam tersendiri sebagai salah satu faksi dalam NII.
Pada awal tahun 1980-an, di Yogyakarta terbit tabloid Islam garis keras Ar-Risalah yang disinyalir banyak pihak berkaitan erat dengan Pondok Ngruki. Walaupun para pengelola Ar-Risalah bukanlah alumni atau ustadz di pondok, namun kaitan antara pengelola tabloid Ar-Risalah dan pondok ada kaitan erat, yaitu beberapa pengelola tabloid Ar-Risalah adalah “santri” ustadz Abdullah Sungkar yang tidak mondok di Ngruki. Pada tahun 1985, tabloid ini akhirnya dilarang terbit karena dianggap menyebarkan rasa kebencian dan permusuhan di masyarakat terhadap pemerintah. Editor tabloid ini, Irfan S. Awwas, akhirnya dikenai hukuman 13 tahun dengan tuduhan menentang dan merongrong kewibawaan pemerintah. Bahkan beberapa orang yang terbukti memiliki atau menyebarkan tabloid ini juga dipenjara.
Pada waktu yang hampir bersamaan, di beberapa daerah di Jawa Tengah ditengarai oleh pemerintah adanya gerakan dakwah garis keras yang kemudian dikenal dengan istilah usrah. Yang menarik dari kegiatan usrah ini adalah bahwa gerakan ini marak bermunculan di berbagai daerah pinggiran selatan wilayah Jawa Tengah. Sebagaimana diketahui bahwa di daerah ini pengaruh islamisasi kurang berkembang dengan baik sebagaimana di pinggir pantai utara. Selain itu, sebagaimana diketahui dalam sejarah, daerah ini adalah pusat gerakan komunis pada masa Orde Lama. Singkatnya, ternyata gerakan usrah lebih marak di daerah yang komunitas muslimnya kurang kuat (abangan). Selanjutnya ditengarai juga bahwa kantong-kantong gerakan usrah adalah di Klaten, Boyolali, Brebes dan Surakarta dimana banyak aktivisnya ditangkap dan dihukum oleh pemerintah. Gerakan ini dilarang oleh pemerintah karena tuduhan yang hampir sama dengan kasus Ar-Risalah, yaitu melawan pemerintah dengan menolak Asas Tunggal, menolak KB, dan juga dituduh akan mendirikan Negara Islam. Ada dugaan kuat bahwa usrah berkaitan erat dengan Ar-Risalah dan sangat mungkin di tingkat yang lebih tinggi mereka merupakan satu wadah, yaitu NII. Hal itu dikuatkan dengan beberapa kasus dimana seorang aktivis usrah juga memiliki dan menyebarkan Ar-Risalah. Hal lain yang menguatkan adalah bahwa beberapa aktivis yang tertangkap mengaku anggota Darul Islam.
Sebuah sumber mengatakan bahwa kelompok studi Islam usrah ini dibentuk sejak tahun 1983 di Pondok Ngruki oleh Ustadz Abu Bakar Ba’asyir setelah keluar dari penjara pada tahun 1982. Materi pengajian berdasarkan hand-out yang berjudul usrah yang ditulis juga oleh Abu Bakar Ba’asyir. Sebenarnya, isi materi usrah tidak berkaitan dengan politik, tapi Islam normatif yang mengarah pada upaya untuk meningkatkan hubungan persaudaraan antara umat Islam. Walaupun demikian, dimungkinkan dalam penyampaiannya sering menyinggung pemerintah dan bahkan banyak di antara para pesertanya yang bekas tahanan politik. Demikian pula dalam diskusi usrah, mereka banyak mengkritik pemerintah dan ingin mendirikan negara Islam. Kecurigaan pemerintah diakhiri dengan ditangkapnya para aktivis usrah dan dijatuhi hukuman penjara. Hingga September 1986, ada 29 aktivis yang dipenjara. Kecurigaan pemerintah kemudian berlanjut ke Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar. Pada 1985, pemerintah melalui Pengadilan Negeri Sukoharjo memanggil keduanya untuk dimintai keterangan seputar usrah. Supaya selamat dari dakwaan dan penjara pemerintah Orde Baru serta tetap menjalankan dakwahnya, akhirnya kedua ustadz itu “menghilang”. Hingga aparat pemerintah dengan kekuatan Kopassus-nya datang ke pondok untuk memaksa kedua ustadz tersebut, bahkan mereka mencari hampir ke setiap sudut pondok. Tak seorangpun tahu kemana mereka pergi hingga beberapa bulan kemudian banyak orang mensinyalir bahwa mereka hijrah ke Malaysia dengan bantuan Anwar Ibrahim yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Kesehatan. Di negeri jiran itu Abu Bakar Ba’asyir tinggal di Negeri Sembilan. Selain aktif dalam kegiatan dakwah warga Indonesia di Malaysia, ia juga menjadi ustadz di beberapa madrasah.
Ustadz Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir mempunyai consern yang kuat terhadap Islam, tidak hanya Islam di Indonesia, tapi juga Islam di dunia lain. Perang antara Mujahidin Afghanistan melawan kekuatan pemerintah boneka Uni Sovyet pada 1980-an juga menjadi salah satu perhatiannya. Hal itu sesuai dengan materi-materi ceramahnya bahwa jihad (perang) merupakan salah satu jalan untuk menegakkan syariat Islam. Keprihatinan umat Islam di Afghanistan juga memanggil hati nurani KH Abdullah Sungkar untuk berperan dalam melawan orang-orang kafir di Afghanistan. Dengan bantuan finansial dari dermawan Saudi Arabia, KH Abdullah Sungkar beberapa kali bisa membantu pemuda-pemuda Muslim Indonesia yang berminat untuk membantu mujahidin di Afghanistan.
Walaupun aktivitas kedua ustadz di atas menjangkau sampai ke luar negeri, sulit untuk mengatakan bahwa Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar merupakan link dari Al-Qaeda. Seiring dengan jatuhnya rezim Soeharto pada 1999, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir pulang ke Tanah Air secara baik-baik dan bukan karena melarikan diri dari “kejaran” pemerintah Malaysia karena terlibat KMM (Kumpulan Militan Malaysia). Bersama-sama dengan jaringannya semasa Orde Baru, dia kemudian mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Dalam kongres MMI yang pertama, 20 Agustus 2000 di Yogyakarta, ia terpilih sebagai Ketua Dewan Syuro Majelis Mujahidin Indonesia. Sejauh penulis perhatikan dan amati, Kiai Abu Bakar Ba’asyir adalah mubaligh yang peduli pada pendidikan Islam yang murni dan sempurna. Memang gerakan dan agenda Islamnya adalah radikal, namun tidak mudah untuk mengaitkan atau menghubungkan dengan Omar Al-Faruq, warga Kuwait yang ditangkap di Bogor dan dituduh CIA sebagai agen Al-Qaeda di Asia Tenggara.
Uraian di atas secara sepintas memberikan gambaran secara global bahwa Pondok Ngruki berkaitan langsung dengan berbagai radikalisme agama di Indonesia. Walaupun demikian, ada beberapa hal yang berpeluang melemahkan asumsi di atas. Pertama, mayoritas pelaku radikalisme agama bukanlah alumni Pondok Ngruki. Selain itu, belum pernah ada penelitian yang mendukung tuduhan banyak pihak yang memojokkkan Pondok Ngruki, khususnya seberapa keterlibatan alumni-alumni Pondok Ngruki dalam berbagai radikalisme agama di Indonesia. Sikap non-kooperatif yang ditanamkan oleh ustadz pondok pada santri, sejauh penulis amati, merupakan resistensi umat Islam karena diperlakukan tidak fair oleh pemerintah Orde Baru. Termasuk doktrin jihad yang diajarkan di pondok tidak bisa dijadikan bukti bahwa pondok ini mencetak teroris. Sikap non-kooperatif dan semangat jihad yang dimiliki oleh alumni Pondok Ngruki yang, kemungkinan banyak, dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk terlibat dalam gerakan-gerakan redikalisme. Kedua, di pondok Ngruki tidak ada latihan-latihan semi-militer yang mengarah pada upaya untuk pembentukan pasukan atau Tentara Islam sebagaimana dituduhkan banyak pihak. Sejauh yang penulis amati, olah raga yang ada di pondok hanyaah kungfu, hiking dan mendaki gunung. Dasar pemikiran olah raga ini pun bukan untuk mendidik mereka militerisme, namun untuk kesehatan. Para ustadz yakin bahwa seorang Muslim harus mempunyai badan yang sehat, dan dari badan yang sehat inilah akan muncul pemikiran yang sehat pula.
Terlepas dari itu semua, memang ada banyak hal yang memungkinkan para santri untuk mempunyai pemahaman Islam yang militan dan radikal. Ceramah-ceramah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, Abdullah Sungkar dan beberapa ustadz senior yang sarat dengan sikap non-kooperatif mereka terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah telah mempola sudut pandang para santri dalam berfikir dan bersikap. Salah satu materi ceramah yang sering diulang-ulang oleh para ustadz adalah tentang kewajiban/semangat menegakkan Syari’at Islam di mana pun dan apa pun jadinya mereka. Jika dalam jiwa seorang santri tidak terdapat semangat itu, maka santri tersebut tidak ada artinya di hadapan Allah. Tidak jarang pula para ustadz memberikan materi ceramah tentang jihad, dan proses belajar santri di pondok juga dianggap sebagai i’dad untuk jihad dalam arti yang luas.
Sejalan dengan arus reformasi di Indonesia yang tidak memberi banyak peluang pada pemerintah untuk bertindak represif khususnya pada umat Islam, pada umumnya umat Islam menyambut hal ini secara positif pula. Umat Islam cenderung menggunakan jalur-jalur formal dan tidak frontal dalam menyampaikan aspirasi mereka. Terbentuknya wadah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) merupakan salah satu dari sekian upaya umat Islam untuk menggunakan jalur formal dalam berjuang, li i’lai kalimatillah.

E. Ustadz Abu Bakar dan Majlis Mujahidin Indonesia
Reformasi politik pada tahun 1998 memanggil Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar untuk kembali berdakwah di Indonesia. Suasana politik yang mengakomodasi pluralitas keagamaan tidak lagi menjadi hambatan bagi mereka untuk berdakwah. Ketika pemerintah tidak lagi mencurigai dan bersikap represif pada umat Islam, maka mereka pun bersikap akomodatif terhadap pemerintah. Mereka tidak lagi menggunakan cara-cara lama, frontal, dalam memperjuangkan Islam, tapi menggunakan jalur-jalur formal untuk memperjuangkan Islam. Namun sayang, partner Ustadz Abu Bakar yang senantiasa bersama-sama, Ustadz Abdullah Sungkar, meninggal beberapa bulan sekembalinya dari Malaysia. Sekarang, selain masih terlibat aktif sebagai salah satu pengasuh di Pondok Ngruki, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir juga memimpin Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) yang berpusat di Yogyakarta.
Ketika berada di Malaysia, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir tidak kehilangan kontak dengan network/jaringan yang pernah ia bangun bersama Ustadz Abdullah Sungkar semasa Orde Baru. Sehingga, ketika dia pulang ke Indonesia pada awal 1999, dia kembali berkumpul dengan “habitat”-nya. Tidak banyak data yang bisa diperoleh seputar gerakan NII faksi Abdullah Sungkar sepeninggalnya ke Malaysia. Yang pasti, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir menggantikan posisi Abdullah Sungkar sebagai pemimpin NII faksi Abdullah Sungkar. Perubahan iklim politik di Indonesia yang lebih terbuka memudahkan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir untuk menjalin komunikasi bersama dengan berbagai gerakan-gerakan Islam baik yang formal maupun yang informal (baca: bawah tanah). Sebagai upaya untuk menyatukan berbagai misi umat Islam baik secara kelembagaan maupun perseorangan, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dibantu oleh Irfan S. Awwas, tokoh kunci konggres, menyelenggarakan Konggres Mujahidin I di Yogyakarta. Konggres yang dihadiri sekitar 1800 umat Islam ini menelurkan Piagam Yogyakarta yang berisi:
1. Wajib hukumnya melaksanakan Syariat Islam bagi Muslim di Indonesia dan dunia pada umumnya,
2. Menolak segala ideology y bertentangan dengan Islam yang berakibat syirik dan nifaq serta melanggar hak asasi manusia,
3. Membangun satu kesatuan shaf mujahidin yang kokoh dengan membentuk Majelis Mujahidin untuk penegakan Syariat Islam, baik di dalam negeri, regional, maupun internasional,
4. Mngadakan langkah-langkah untuk menegakkan institusi Mujahidin demi menuju Imarah Islamiyah,
5. Menyeru kepada kaum muslimin untuk menegakkan dakwah dan jihad di seluruh penjuru dunia demi tegaknya Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Selain menetapkan Piagam Yogyakarta, konggres itu juga menetapkan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sebagai ketua AHWA yang selanjutnya disebut dengan Amirul Mujahidin. Dalam melaksanakan tugas-tugas harian, AHWA membentuk Lajnah Tanfidziyah yang berada di Pusat (Yogyakarta) dan Lajnah Perwakilan di Wilayah Propinsi, Kotamadya, Kabupaten dan lingkup area lain yang dianggap perlu.
Perubahan pola perjuangan KH Abu Bakar Ba’asyir yang cukup spektakuler, sebelumnya dengan diam-diam (sirri) dan sekarang terang-terangan (‘alaniyah), dengan majelis Mujahidinnya mendapatkan support dari banyak pihak yang berhaluan keras dalam perjuangannya. Tak kurang dari Deliar Noer (Partai Umamat Islam), Fuad Amsyari, AM Saefuddin (PPP), Sahirul Alim juga mendukung terselenggaranya Konggres Mujahidin dan selanjutnya mereka duduk sebagai anggota dari Ahlul Halli Wal ‘Aqdi (AHWA), semacam Dewan Pembina dalam organisasi. Selain itu, Majelis Mujahidin juga secara aktif melobi berbagai pihak, baik secara individu maupun kelembagaan, untuk mendukung aliansi ini. Muhammadiyah, dalam hal ini Syafi’i Maarif, juga pernah dilobi oleh MMI untuk mendukung program utamanya, yaitu menegakkan Syariat Islam. Beberapa perwakilan di daerah-daerah juga sudah terbentuk seperti di Jawa Barat, Jawa Timur, Ujung Pandang dan Bali. Pada prinsipnya, organisasi ini mengajak kepada seluruh masyarakat yang setuju dengan pelaksanaan Syariat Islam untuk bergabung dan memikirkan bersama langkah-langkah yang akan dicapai menuju terlaksananya Syariat Islam. Selain melobi organisasi Islam maupun individu, organisasi aliansi ini juga berusaha untuk mensosialisasikan Syariat Islam di masyarakat dengan berbagai kegiatan, seperti seminar, pemasangan spanduk-spanduk dll.
Program MMI lain yang cukup signifikan adalah menghadapi pikiran-pikiran sekuler dengan tegas. Walaupun yidak begitu jelas apa yang dimaksud dengan menghadapi dengan tegas, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir mengatakan bahwa dia akan membedakan pihak-pihak mana yang benar-benar Islam dan yang musuh tapi “berbaju” Islam. Dengan begitu, umat Islam grass-root tahu mana yang harus diikuti dan mana yang harus dijauhi. Tentang konsep Syariat Islam, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir menandaskan bahwa dia akan menggunakan konsep-konsep yang telah dibuat oleh SM Kartosuwirjo dengan Darul Islamnya, dan hanya perlu sedikit revisi di sana-sini. Walaupun demikian, dia mengakui bahwa sampai sekarang belum ada contoh yang konkrit negara yang melaksanakan Syariat Islam sebagaimana dia maksud. Menurutnya, negara yang cukup bagus pelaksanaan Syariat Islam adalah Saudi Arabia.
Terakhir, perlu penulis sampaikan posisi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di Pondok Ngruki dan bagaimana kaitan Majelis Mujahidin dengan pondok. Sebagai salah satu pendiri pondok, maka kedatangan Abu Bakar Ba’asyir diterima dengan baik oleh para pengelola pondok sekembalinya dari Malaysia. Walaupun beliau tidak duduk dalam struktur kepengurusan pondok, dia menduduki posisi sebagai pengasuh. Jabatannya lebih bersifat kehormatan dan politis karena jasa-jasa dia dalam mengembangkan pondok. Selain itu, “jam terbang”-nya untuk urusan yang lebih “besar” tentunya membatasi peran praksisnya di pondok. Walaupun bertempat tinggal di komplek Pondok Ngruki, namun base-camp kegiatannya tidak dipusatkan di pondok. Kesibukannya di MMI juga hanya melibatkan sedikit ustadz-ustadz pondok yang memang sejak awal mengikuti jejak langkahnya hingga hijrahnya di Malaysia. Kesibukan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di MMI dan juga gencarnya pemberitaan di media masa tidak banyak mengganggu proses pembelajaran di pondok. Umumnya, para ustadz dan santri-santri mendukung secara moril berbagai kegiatan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, dan bahkan sikap arogan pemerintah terhadap Ustadz Abu mendatangkan sikap resistensi masyarakat pondok terhadap pemerintah.

F. Epilog
Terlalu simplistis dan dini untuk menyimpulkan bahwa Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dengan JI-nya adalah teroris dan merupakan agen Al-Qaeda di Asia Tenggara sebagai disinyalir oleh Sidney John ICG. Memang beberapa radikalisme agama di Indonesia berkaitan erat dengan ustadz tersebut, lebih secara individu dan bukan secara institusional yaitu Pondok Ngruki. Ada beberapa hal yang, paling tidak, meringankan tuduhan di atas. Pertama, Amerika terlalu gegabah menuduhkan hal itu, apalagi didukung oleh fakta bahwa Amerika belum bisa membuktikan bahwa pelaku pengeboman WTC 11 September 2001 adalah orang Islam dan itu adalah Al-Qaeda. Tuduhan ini mirip hampir senada dengan tuduhan Amerika terhadap kasus Agus Budiman yang akhirnya dibebaskan setelah melewati proses hukum selama 1 tahun karena Amerika tidak bisa menunjukkan bukti tuduhannya. Kedua, berbagai kasus radikalisme agama yang terjadi pada masa Orde Baru dan terkait dengan Pondok Ngruki sebagaimana banyak diungkapkan oleh ICG Brussel adalah bentuk-bentuk resistensi karena sikap represif pemerintah saat itu. Mungkin bisa dikatakan benar jika tuduhan itu dilakukan pada masa Orde Baru. Walaupun demikian, hal tersebut tidak bisa dipukul rata bahwa Pondok Ngruki terkait dengan berbagai radikalisme agama, melainkan hanya KH Au bakar Ba’asyir dan KH Abdullah Sungkar beserta beberapa ustadz lainnya. Ketiga, tuduhan ICG bahwa Pondok Ngruki adalah link jaringan Al-Qaeda di Asia Tenggara adalah terlalu dini. Dalam hal ini ICG tidak mengelaborasi adanya kemungkinan institusi-institusi selain “jaringan Ngruki” yang terlibat dalam berbagai radikalisme agama di Indonesia. Kalau ICG mengaitkan dengan Darul Islamnya SM Kartosuwirjo, perlu penulis sampaikan bahwa “jaringan Ngruki” bukanlah satu-satunya institusi yang mewarisi semangat NII. Sepeninggal SM Kartosuwirjo, Darul Islamnya terpecah menjadi beberapa faksi, dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir hanyalah salah satunya. Selain itu tidak menutup kemungkinan adanya gerakan-gerakan garis keras lain yang tidak berkaitan dengan NII-nya Kartosuwirjo. Keempat, tuduhan bahwa pondok Ngruki adalah tempat pembinaan teroris adalah tidak beralasan. Mungkin akan lebih tepat untuk dikatakan bahwa Pondok Ngruki mencetak kader-kader Islam militan, tetapi kemudian tidak untuk bertindak secara sporadis ala teroris. Pembinaan di pesantren ini lebih menitik beratkan pada aqidah (ideologis-doktrinal), dan tidak ada pendidikan militerisme. Hal di atas didukung oleh fakta bahwa hanya beberapa gelintir (kalaupun ada) alumni Ngruki yang terlibat dalam radikalisme agama di Indonesia. Fatkhurrahman Al-Ghozi merupakan perkecualian, itupun karena dia sudah lama berada di Pakistan dan Afghanistan. Kelima, pemerintah masa reformasi yang tidak represif terhadap umat Islam telah melonggarkan dan merubah pola perjuangan umat Islam. Bagi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir Majelis Mujahidin adalah manifestasi dari sikap kooperatif masyarakat Islam terhadap pemerintah. Ketika umat Islam bisa memperjuangkan Islam dengan lebih terbuka dan dengan jalur-jalur formal, adalah sebuah sikap yang cenderung ridiculous untuk memperjuangkan Islam dengan cara frontal, dan revolusioner-sporadis.

REFERENSI:
Abduh, Umar, Pesantren Al-Zaitun Sesat?: Investasi Mega Proyek dalam Gerakan NII. Jakarta: Darul Falah, 2001/1422 H).
Adil, 31 Januari 2002.
Al Chaedar, Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia S.M. Kartosoewirjo: Fakta dan Data Sejarah Darul Islam. Jakarta: Darul falah, 1999.
Al Chaedar, Sepak Terjang KW IX: Abu Toto Syekh AS Gumilang Menyelewengkan NKA-NII Pasca SM Kartosuwirjo. Jakarta: Madani Press, 2000.
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Yayasan Pendidikan Al-Muknin Surakarta. Surakarta: YPIA, 1992.
Aqidah 1a & 1b. (Surakarta: PP Islam Al-Mukmin Ngruki, t.t.)
Assegaf, Farha Abdul Kadir, Peran Perempuan Islam (Penelitian di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Sukoharjo, Jawa Tengah. Tesis S-2 pada Program Studi Sosiologi Universitas Gajahmada Yogyakarta, 1995.
Awwas, Irfan S. (ed.), Mengenal Majelis Mujahidin: Untuk Penegakan Syariah Islam, (Yogyakarta: Markaz Pusat Majelis Mujahidin)
Awwas, Irfan S., Perjalanan Hukum di Indonesia, (Yogyakarta: Ar-Risalah, 1982).
Dhofier, Zamakhsari, Tradision & Change In Indonesian Islamic Education, (Jakarta: MORA, 1995)
Dijk, C. Van, Darul Islam: Sebuah Pemberontakan. Jakarta: Gramedia, 1989.
Effendy, Bahtiar, Islam and the State: The Transformation of Islamic Political Ideas and Practices in Indonesia. (Michigan: UMI Dissertation Services, 1994)
Encyclopaedia Britannica Deluxe Edition CD-ROM.
Gamma: Indonesian Digital news, 03 Februari 2002
Hadi, Noor (ed.), Mengenal Sekilas Pondok Pesantren Islam “Al-Mukmin” Nruki Surakarta, (Solo: Litbang PP Islam Al-Mukmin, tt.).
International Crisis Group (ICG), Al-Qaeda in the Southeas Asia: The case of the “Ngruki Network” in Indonesia di http://www.crisisweb.org
Jabir, Husain ibn Muhsin ibn Ali, Al-Thariq ila Jama’ah al-Muslimin. (Kuwait: Dar al-Dakwah, 1984).
Jawa Pos: Radar Jogja, 20 September 2002.
Karim, M. Rusli, Dinamika Islam di Indonesia: Suatu Tinjauan Sosial dan Politik. (Yogyakarta: Hanindita, 1985).
Nursalim, Muh, Faksi Abdullah Sungkar dalam Gerakan NII Era Orde Baru. (Thesis pada Program Magister Islamic Studies di Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2001)
Ristiyanto, Sugeng, A Study on Management Perspective in Relation to the Existance of Islamic Institution: Pesantren Islam Al_mUkmin Ngruki Sukoharjo, (Thesis pada Program magister Islamic Studies di Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2000)
Sabili, No. 16 TAHUN. IX 8 Februari 2002.
Sabili, No. 16 Tahun. IX 8 Februari 2002.
Santosa, June Chandra, Modernization, Utopia and the Rise of Islamic Radicalism in Indonesia, (Dissertation in Boston University, 1996).
Suara hidayatullah, 10/XIII/Februari 2001.
Tapol, Indonesia: Muslims on Trial, London: Tapol, 1987,.


Responses

  1. saya kira gerakan radikal NII merupak manifestasi atas realitas yang mendeskriditkannya. soalnya,negara tidak memberikan raung oposisi islam untuk menentukan sikap politiknya. terutama di masa orba otoritas negara tidak memberikan ruang untuk opisisi hidup. bukankah oposisi itu dalam konteks negara mesti ada karna dengan oposisi negara akan dikawal dengan baik–demokrasi pasti berjalan, tesis vs anti-tesis itu merupakan dialog yang ekuivalen.

    pasca reformasi terutama saat ini islam dan pancasila hanya menjadi aduan. media hanya menilas dikotomi idiologi keduanya sebagai sebuah pertentangan, padahal islam dan pancasila itu tak ada dikotomi keduanya. saya kira media hanya membentuk “islamic phobia” lewat consensus public.
    bagus pak artikelnya.

  2. trims komennya mas…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: