Oleh: Muhammad Wildan | 18 Juli 2010

Jihad dan Teror: Sebuah Wacana Tak Berujung

Muhammad Wildan

Bom yang terjadi tanggal 17 Juli 2009 di Mega Kuningan atau bom-bom lain yang terjadi di negeri ini menyisakan pertentangan wacana di masyarakat. Sebagian masyarakat menyatakan bahwa itu adalah teror dan sebagian lain menyakini sebagai jihad. Bom-bom itu dikatakan teror karena hal itu menimbulkan rasa takut dan cemas di masyarakat. Di pihak lain, tindakan itu dikatakan jihad karena dimaknai sebagai “balasan” atas ketidakadilan dan hegemoni Amerika terhadap umat Islam di berbagai belahan dunia selama ini.

Pertentangan atau perbedaan pendapat ini terlihat lebih jelas ketika masyarakat menilai para pelaku bom. Sebagian masyarakat memandang 3 pelaku bom Bali I (Imam Samudra, Amrozi, dan Mukhlas), ketika mereka dieksekusi oleh pemerintah, sebagai syahid (martyr). Tidak sedikit orang yang mengelu-elukan dan bahkan meneriakkan takbir dalam prosesi penguburan mereka. Air Setiawan dan Joko J. Sarjono disambut oleh sebagian masyarakat di kampungnya di Laweyan Solo sebagai pahlawan Islam dan bahkan diberi gelar asy-syahid.

Namun demikian, tidak sedikit pula masyarakat yang menolak untuk menyebut mereka sebagai pahlawan dan cenderung mengatakan bahwa mereka telah salah jalan. Sebagian diantara masyarakat bahkan merasa tercemar dengan keberadaan mereka. Ibrohim yang ditembak mati di Beji Temanggung beberapa hari yang lalu yang kemudian ternyata adalah Ibrohim (Boim) tidak diterima oleh sebagian masyarakat Kuningan dan masyarakat menolak jenazahnya untuk dikubur di daerah mereka Cilimus Kuningan. Bahkan mayoritas masyarakat menginginkan Noordin M. Top segera ditangkap dan diadili.

Jihad vs Teror
Sekilas kata jihad dan terror/terorisme adalah dua kata yang paradok; jihad mempunyai kesan baik dan mulia, sedangkan terorisme mempunyai kesan negatif dan menakutkan. Sepintas, dua kata itu juga tidak ada kaitan sama sekali; jihad berkaitan dengan agama, sedangkan terorisme tidak ada kaitannya sama sekali dengan agama. Walaupun demikian, dalam konteks kekinian sebuah kata bisa mempunyai makna yang jauh dari makna aslinya karena kekuatan informasi dan hegemoni kekuasaan. Sama halnya dengan kata jihad dan terorisme yang akhir-akhir ini mempunyai korelasi yang cukup signifikan. Tulisan ini menggarisbawahi bahwa wacana jihad dan teror yang berkembang selama ini simpang siur. Banyak teror yang tidak dimaknai sebagai terorisme, tapi dilain pihak jihad dianggap sebagai teror, atau teror dianggap sebagai bagian dari jihad.

Sebelum kita memasuki millennium baru, sangat jarang kita dengar istilah teror atau terorisme, apalagi bila disandingkan dengan kata jihad. Namun, dalam dasa warsa terakhir ini kita menyaksikan kedua kata itu sering disandingkan seolah-olah merupakan bagian komplementer antara satu dengan lainnya.

Terlepas dari diskursus tentang konsep jihad (lintas madzhab) yang tidak akan ada habisnya, kata jihad yang berkaitan dengan syahid banyak diyakini orang sebagai makna jihad yang paling benar. Tidaklah mengherankan bila tidak sedikit umat Islam bersemangat dan tertarik untuk berjihad dalam konteks ini. Tidak sedikit umat Islam Indonesia yang berbondong-bondong mendaftar untuk ikut andil berjihad di Palestina ketika negara itu direcoki oleh Israel beberapa waktu yang lalu, sebagaimana juga banyak umat Islam dari daerah lain ikut berjihad di Ambon dan Poso.

Hal di atas bisa dipahami karena jihad dalam konteks ini dianggap sebagai jalan pintas menuju kematian yang sangat mulia, syahid, yang selama ini diidam-idamkan oleh umat Islam. Ketika banyak orang memaknai jihad dalam konteks seperti ini, maka dunia seakan tidak berharga dan tidak perlu diperjuangkan. Para pelaku bom bunuh diri (suicide bomber) di Indonesia atau di Palestina meyakini bahwa apa yang mereka lakukan mendapatkan justifikasi dari agama. Tidak mengherankan bila Danni Dwi Permana (pelaku bom mega Kuningan) yang baru berumur 19 tahun tertarik dengan tawaran Noordin M. Top untuk mati syahid. Selain itu, testimoni Salik, pelaku bom Bali II (2005), dalam video yang ditayangkan di beberapa stasiun TV pasca bom Bali memberikan bukti bahwa ada kelompok Islam yang meyakini bahwa suicide bomber merupakan varian dari makna jihad.

Hegemoni Barat
Wacana jihad dan terror di atas berkaitan erat dengan sudut pandang (perspective) seseorang tentang suatu permasalahan. Suatu perilaku yang selama ini diyakini sebagai suatu hal yang positif oleh suatu kelompok dianggap sebagai hal yang negatif oleh kelompok lain. Perilaku bom bunuh diri, misalnya, yang selama ini diyakini oleh suatu kelompok sebagai interpretasi sah dari makna jihad dianggap sebagai teror oleh pihak lain. Kekuatan media massa dalam penamaan (naming) itu cukup sukses sehingga bom-bom yang terjadi mendapatkan cap sebagai bagian dari teror oleh publik. Kekuatan media memainkan peran yang penting dalam memberikan justifikasi terhadap sistem politik yang sedang dijalankan oleh pemegang kekuasaan yang sah.

Hal ini sebenarnya cukup ironis karena juga berkat kekuatan media massa sebagai pembentuk opini publik, berbagai tragedi kemanusiaan dan bom di beberapa negara di Timur Tengah seperti Afghanistan dan Iraq oleh beberapa negara Barat tidak dianggap sebagai teror. Bahkan pembunuhan massal tersebut malah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak karena mengatasnamakan perdamaian. Berbagai propaganda dilancarkan melalui berbagai event dan media untuk membentuk opini publik bahwa ada hubungan erat atau bahkan sebab-akibat antara bom dan perdamaian, dan bahwa bom-bom dan pembunuhan masal tersebut tidak berkaitan sama sekali dengan teror.

Oleh karena itu, harus kita pahami dengan jelas bahwa konsep teror yang berkembang saat ini cenderung Western view di tengah-tengah berbagai nilai-nilai Barat yang sedang melanda dunia Islam. Hal ini juga tidak bisa dipisahkan dari strategi global Barat untuk berperang melawan Islam karena kekhawatiran bangkitnya kekuatan Islam yang sangat besar ini. Oleh karena itu, wacana dan istilah terror/terorisme sebaiknya dikritisi dan diredefinisikan sehingga tidak dengan mudah orang, khususnya aparat pemerintah, memberikan label terorisme bagi pihak-pihak tertentu yang (mungkin) belum tentu seorang teroris.

Terorisme di Indonesia
Keterlibatan sebagian kelompok umat Islam di Indonesia dalam serangkaian bom di berbagai tempat di nusantara sedikit banyak telah mengarahkan opini publik bahwa ada kaitan antara antara jihad dan teror. Hal ini karena kelompok tersebut cenderung mengatasnamakan perbuatan mereka sebagai jihad. Makna jihad, akhirnya, menjadi rancu dan menjadi sorotan banyak pihak. Tak urung studi Islam di berbagai universitas di Barat menjadi lebih intensif. Banyak LSM yang mendapat dana dari funding-funding Barat seiring dengan keinginan Barat untuk mengarusutamakan (mainstreaming) masyarakat Muslim Indonesia dalam ide-ide modernitas. Di lain pihak, umat Islam Indonesia mendapatkan getahnya karena masa depan Islam yang banyak diramalkan akan dimulai dari negara terbesar di Asia Tenggara ini akhirnya bagai jauh panggang dari api.

Oleh karena itu, berbagai pendekatan terhadap umat Islam harus diupayakan oleh pemerintah. Ulama sebagai panutan masyarakat harus lebih dioptimalkan perannya sebagai cultural broker, khususnya dalam mendefinikan istilah-istilah Islam yang multi-interpretable termasuk jihad, sehingga konsep ini tidak bisa sembarangan digunakan oleh pihak-pihak dan kepentingan tertentu. Ini sangat penting karena sebuah tindakan atau perilaku bila mendapatkan justifikasi/pembenaran dari agama akan menjadi sebuah kekuatan yang maha dahsyat.

Memang terdapat berbagai interpretasi konsep jihad dalam Islam. Pemilihan definisi yang kontekstual akan berpengaruh terhadap masa depan perjuangan umat Islam. Memang, diakui atau tidak, sebagai doktrin, setiap agama memiliki benih intoleran dan kekerasan. Akhirnya, masa depan umat Islam Indonesia ada pada kemampuan dan kearifan ulama dalam “merekayasa” (mendesain) umat Islam yang ideal, Islam yang ramah. Penulis yakin bahwa mayoritas ‘ulama sepakat bahwa berbagai bom yang terjadi Indonesia (2000-2009) tidak akan memperbaiki citra Islam, tapi justru sebaliknya dan menguatkan asumsi Barat selama ini tentang “garangnya” wajah Islam. Sudah saatnya Islam bangkit dan ikut mewarnai peradaban modern ini.

* Penulis adalah dosen UIN Sunan Kalijaga dan pengamat gerakan sosial keagamaan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori