Oleh: Muhammad Wildan | 31 Mei 2010

Fenomena Islam Radikal & Dakwah Islam

Muhammad Wildan

Terlepas dari berbagai asumsi dan analisa konspirasi atas serangkaian bom yang terjadi di Indonesia dari bom Bali I (2002), bom Marriott (2003), bom Kuningan (2004) hingga bom Bali II (2005), berbagai bom tersebut berkaitan dengan keberadaan sebuah kelompok umat Islam di Indonesia. Di satu sisi, walaupun tidak masif, keberadaan kelompok ini cukup fenomenal sehingga kelompok ini bisa dikategorikan sebagai sebuah aliran tersendiri dalam Islam, yaitu Islam radikal, yaitu suatu kelompok yang menginginkan perubahan sosial secara mendalam (radic). Di sisi lain, fenomena Islam radikal di Indonesia merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari gejala Islam radikal di belahan dunia yang lain yang tidak puas dengan tatanan dunia saat ini, yaitu hegemoni Barat.

Sebagai sebuah fenomena/gejala, tentu Islam radikal bukanlah permasalahan utama. Dengan kata lain, Islam radikal lebih merupakan sebuah gejala dari problem besar yang dihadapi umat Islam, baik Indonesia maupun dunia secara umum. Ada beberapa teori yang berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di balik fenomena radikalisme Islam tersebut, diantaranya adalah teori gerakan sosial. Tulisan ini akan membahas fenomena Islam radikal dari perspektif gerakan sosial dan kemudian memberikan alternatif solutif bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan-tantangan global.

Islam Radikal sebagai Gerakan Sosial
Dalam perspektif gerakan sosial (social movement) fenomena Islam radikal bisa dilihat sebagai sebuah gejala resistensi sosial. Dengan kata lain bahwa Islam radikal bisa dikatakan sebagai sebuah gerakan sosial. Menurut berbagai teori gerakan sosial, khususnya teori deprivasi sosial (relative-deprivation theory), sebuah gerakan sosial akan muncul bila ada perubahan sosial di masyarakat yang mengakibatkan perubahan struktur sosial dalam masyarakat. Perubahan sosial yang tidak diharapkan oleh sebagian masyarakat akan menyebabkan kekecewaan (social discontent) dan pada akhirnya memunculkan sebuah gerakan sosial.

Beberapa kelompok di masyarakat yang kecewa dengan perubahan sosial yang tidak mengarah pada yang mereka inginkan karena pertarungan budaya (clash of civilization) ini akhirnya “memaksa” mereka untuk mengadakan “perlawanan” melalui sebuah gerakan sosial. Dalam konteks Islam, gerakan Islam radikal ini bisa dilihat sebagai sebuah manifestasi dari kekecewaan terhadap perubahan sosial yang tidak seperti yang mereka harapkan. Oleh karena itu, Islam radikal adalah gerakan sosial yang berusaha membangun tatanan baru (a new order of life) yang lebih baik.

Islam fundamentalis dan Islam radikal bukanlah fenomena baru di dunia Islam. Fenomena ini sudah ada sejak akhir abad 19 seiring dengan perubahan sosial yang diusung oleh kolonialisme Barat yang menggunakan bendera modernisasi. Fenomena Islam radikal semakin “semarak” sejak akhir abad 20 sejak kapitalisme Barat mewabah pada mayoritas dunia Muslim di bawah bendera globalisasi. Sayangnya, globalisasi tidak hanya berdimensi tunggal, tetapi ia mengusung 4 dimensi lain, yaitu ekonomi, militer, budaya (termasuk agama), dan politik.

Modernisasi, Westernisasi & McDonalisasi
Bagi sebagian bangsa, fenomena modernisasi global atau globalisasi sering disebut sebagai Westernisasi, Amerikanisasi atau bahkan McDonalisasi. Yang pasti modernisasi dan globalisasi tidak sekedar sebuah konsep atau proses sosial yang menghasilkan suatu komoditas, tapi ia adalah sebuah proses sosial yang menghasilkan tradisi dan budaya yang mampu melibas tradisi dan budaya lokal.

Modernisasi dan globalisasi menjadi sebuah gejala yang berusaha menstandardkan dunia dengan tradisi dan budaya global. Bagi pihak-pihak tertentu khususnya agama, jelas gejala ini merupakan sebuah ancaman serius karena globalisasi bisa mengikis habis tradisi dan budaya agama tersebut. Apalagi kita juga tidak bisa menyangkal fakta bahwa kekerasan (violence), terorisme, seks bebas, dan munculnya berbagai penyakit baru seperti AIDS, flu burung adalah “anak resmi” dari modernisasi dan globalisasi. Usaha-usaha untuk melawan gelaja itulah yang kemudian memunculkan fenomena Islam fundamentalis dan Islam radikal.

Walaupun sulit untuk menyimpulkan bahwa Islam radikal adalah anti modernisasi, namun untuk menyatukan elemen-eleman modern tanpa menghapus nilai-nilai tradisional (agama) adalah sulit dan komplek, untuk tidak mengatakan tidak mungkin. Selain itu, ada keyakinan kuat di kalangan Islam radikal bahwa, (1) Islam memiliki konsep yang bisa membangun masyarakat yang ideal, (2) Masyarakat ideal hanya bisa dicapai dengan Islam. Kedua keyakinan di atas menjadikan pihak yang meyakininya tidak mempercayai hal-hal modern yang muncul dari Barat. Dan bahkan mereka menganggap bahwa nilai-nilai yang muncul bersamaan dengan modernisasi tidak baik untuk umat Islam. Akhirnya, beberapa kelompok Islam menolak nilai-nilai dari Barat seperti demokrasi, pluralisme, persamaan gender dll.

Dakwah Islam sebagai Gerakan Sosial
Dengan tidak berusaha untuk menafikan pemahaman normatif dalam Islam tentang kewajiban untuk berdakwah dan berjihad, saya melihat bahwa gejala modernisasi dan globalisasi lebih bisa dilihat sebagai sebuah tantangan yang harus diantisipasi daripada sebagai “musuh” yang harus dikalahkan (baca: dihancurkan). Tantangan adalah sunnatullah, sehingga tugas dan kewajiban berdakwah dalam Islam akan hilang bila tidak ada tantangan.

Oleh karena itu, yang menjadi permasalahan sekarang adalah mengapa gerakan Islam yang muncul sebagai gerakan untuk menangkis arus modernisasi Barat adalah dalam bentuk yang radikal seperti kekerasan, dan bukan dalam bentuk lain seperti lembut dan santunnya Islam. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah kekerasan memang menjadi bagian integral dari tradisi Islam. Tentu mayoritas umat Islam akan menjawab, TIDAK. Tapi fakta dengan tegas mengamini hal tersebut.

Menurut hemat saya, sudah tidak saatnya gerakan-gerakan Islam memilih jalan radikal dan kekerasan sebagai upaya untuk berdakwah. Dalam prakteknya, cara ini justru kaunter produktif, dan bahkan semakin membuat stigma Islam semakin buruk. Saya meyakini bahwa banyak orang yang semula simpati atau bahkan empati terhadap Islam justru akan menarik diri mereka ketika melihat Islam penuh dengan fenomena-fenomena yang kurang manusiawi.

Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam dan juga gerakan-gerakan Islam mulai mengevaluasi cara-cara berdakwah yang lebih produktif dan mendatangkan simpati banyak pihak. Di alam yang demokratis ini, cara-cara yang santun justru akan diminati oleh banyak pihak, baik teman atau musuh. Saya yakin bahwa jika Islam banyak diwakili oleh gerakan-gerakan Islam yang santun dan ramah, justru ini adalah sebuah “dakwah” yang sangat produktif. Al-thariqah khairu min al-madah sering dijadikan prinsip para pendakwah, yaitu cara berdakwah lebih penting daripada materi dakwah itu sediri. Dengan memperhatikan berbagai aspek di atas, Islam harus dikembalikan kepada inti ajarannya yang maha luhur, yaitu sebagai rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lamu bissawab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: