Aksi Damai 411-212, Kesalehan Populer, & Identitas Muslim Perkotaan Indonesia
Muhammad Wildan
(Dimuat di Jurnal MAARIF, Vol. 11, No. 2 Desember 2016)

Pendahuluan
Demonstrasi kolosal yang lebih dikenal dengan Aksi Damai 411 dan 212 menyisakan banyak hal menarik. Selain karena aksi itu diikuti oleh jutaan orang yang datang dari berbagai daerah dengan berbagai moda transportasi, aksi itu juga diikuti oleh berbagai elemen masyarakat. Genderang yang ditabuh oleh Habieb Rizieq sebagai imam besar Front Pembela Islam (FPI) diikuti dan diamini oleh hampir semua organisasi Islam baik secara individu maupun organisasi. Di luar tuntutan politis untuk segera menghukum Ahok yang diduga menistakan agama (#PenjarakanAhok), aksi damai ini bisa dilihat dari beberapa perspektif diantaranya adalah dari budaya popular.
Di tengah maraknya Islamisasi Indonesia dan juga penetrasi Islam trans-nasional, Islam perkotaan mulai menjamur dan menampakkan eksistensinya. Secara umum bisa ditengarai bahwa aksi bela Islam I hingga III lebih banyak diwarnai oleh kelompok Muslim perkotaan. Di tengah memudarnya batasan-batasan Islam tradisional, gugus Muslim moderat perkotaan mulai terbentuk seiring dengan munculnya banyak program keagamaan di televisi dan ustaz seleb. Isu politik saja mungkin tidak akan cukup untuk menarik jutaan orang ke Jakarta, tapi karena dibarengi isu etnis dan agama. Oleh karena itulah, aksi damai yang berawal dari isu pemilihan gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta bisa menjadi isu nasional yang bisa jadi terus berkembang dan bahkan melebar ke isu yang lain. Read More…

Islamism and Democratization in the Post 411 and 212 Rallies of Indonesia
Muhammad Wildan
(Published in Thinking ASEAN Issue 19 January 2017)

The boisterous but peaceful rallies that occurred in Jakarta on 4 November and 2 December 2016 (commonly referred to as the ‘411’ and ‘212’ rallies respectively) were important phenomenon in the Indonesian Islamic political scene. The alleged defamation of Holy Qur’an by Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) and the formation of National Movement of the Guardians of the Indonesian Ulama Council’s Fatwa (GNPF MUI) attracted many people to participate in the rallies. As was seen, almost all elements of society were involved either organizationally or individually. Indonesian Muslims, which in many cases had been fragmented into many different streams, were united into carrying out one action and under one command during those peaceful actions.
On the one hand, it was truly a great phenomenon for Indonesian Muslims. Many reports reported that the crowd reached several millions Muslims. Their enthusiasm to join the event using all means of transportations, including some that even walked from such remote areas as Ciamis were seen as heroic and momentous actions. The most interesting thing was that Habieb Rizieq Shihab, the grand cleric of Front Pembela Islam (FPI or Islamic Defenders Front), who is normally found on the periphery of Indonesia’s political Islam, played a central role in the rallies. Read More…

Posted by: Muhammad Wildan | 16 November 2016

WHAT IS FRIENDSHIP TO ME

WHAT IS FRIENDSHIP TO ME
Muhammad Wildan

Although we may have a lot or even thousand friends, we may have difficulties to define what friendship is. Friendship is the hardest thing in the world to explain. It is not something you learn in school. But if you haven’t learned the meaning of friendship, you really haven’t learned anything. Many people said that “a friend in need is a friend indeed.” It reminds me of a good quote:
“I would rather walk with a friend in the dark, than alone in the light.”
― Helen Keller

Some other people may say that friend would only last for a certain period, but for me a friend is forever relationship. I do agree with people said “there is no ex-friend”. We may loose our friend “physically” because they died or live in unreachable areas, they are still our friends. Even, don’t loose even any single of your friends. It may be true, but a true friend is who care about small things of you; asking your daily life or even ask you such silly things. Read More…

Posted by: Muhammad Wildan | 16 November 2016

CATATAN AKSI DAMAI 4/11

CATATAN AKSI DAMAI 4/11
Muhammad Wildan

Terlepas dari hasil aksi damai 4/11, demontrasi besar itu menyisakan banyak hal yang bisa kita diskusikan. Di medsos, diskusi seputar itu juga sangat ramai dari pembahasan pribadi AHOK sampai yang HOAX juga banyak. Ada beberapa catatan saya tentang peristiwa itu:
1. Demo 4/11 sebuah momentum luar biasa
Jarang berbagai elemen umat islam bersatu. Kasus dugaan penistaan agama telah menyatukan berbagai elemen masyarakat Muslim untuk bersatu dari kelompok Islam moderat hingga paling kanan. Bisa jadi ada juga elemen ultra-konservatif juga terlibat di dalamnya. Sangat dimungkinkan kasus dugaan penistaan agama ini dianggap sebagai entry terhadap isu “common enemy” umat Islam. Terlepas dari itu semua, saya tetap mengapresiasi berkumpulnya umat Islam hingga 2 jutaan. Bisa dibanyangkan biaya yang tersedot untuk terselenggaranya acara tersebut. Read More…

Posted by: Muhammad Wildan | 25 July 2015

BERPUASA DI EROPA

BERPUASA DI EROPA
Muhammad Wildan

Sekilas mungkin orang menduga bahwa puasa di Eropa saat ini yang 18-20 jam (tergantung negaranya) itu amat sangat berat Saya cenderung mengatakan tidak, tidak seberat yang orang lain bayangkan. Kalau disuruh milih puasa di Eropa atau di Indonesia, tentu puasa di Indonesia yang ‘hanya’ 14 jam lebih nyaman. Atau kalau dibandingkan dengan puasa di musim dingin seperti di Australia saat ini yang hanya berkisar 11 jam, tentu puasa 11 jam lebih enak. Berdasarkan pengalaman, berikut ini beberapa alasan puasa musim panas di Eropa tidak terlalu berat. Read More…

Posted by: Muhammad Wildan | 25 July 2015

RAMADHAN DI EROPA

RAMADHAN DI EROPA
Muhammad Wildan

Terkadang saya berpikir bahwa Islam memang tidak cocok di Eropa (juga di negara Barat), apalagi berpuasa di Eropa. Ada beberapa fenomena yang mendasari asumsi saya. Pertama, waktu berpuasa yang relatif lebih panjang. Berpuasa Ramadhan di negara Eropa saat ini adalah di musim panas yang panjangnya berfariasi dari 18-21 jam. Di beberapa negara di Scandinavia seperti Norwegia dan Denmark, puasa akan jauh lebih panjang lagi karena matahari sudah tidak jelas kapan terbit dan tenggelamnya. Berpuasa panjang tahun ini alhamdulillah tidak begitu berat karena musim panasnya tetap dingin. Jauh lebih berat puasa di Pakistan yang terik hingga 45 drajat walaupun dengan waktu relatif lebih pendek. Berpuasa di Eropa akan menjadi lebih berat jika waktunya panjang sekaligus cuaca juga panas. Read More…

The End of Innocence? Indonesian Islam and the Temptations of Radicalism [La fin de l’innocence? L’islam indonésien face à la tentation radicale de 1967 à nos jours], by Andrée Feillard and Rémy Madinier (translated into English by Wong Wee; Singapore: NUS [National University of Singapore] Press in association with IRASEC, 2011), 336 pp., ISBN: 978-9971-69-512-5, US$30.00 & S$38.00 (pb)

The basic premise of the book is that radicalism in Indonesia is not a new phenomenon. Although Islam has spread widely and peacefully in the country since the 13th century, Islamism and radicalism are significant challenges to Indonesian Islam. Islamism and radicalism have been a part of Indonesian history since its emergence as a nation-state. These phenomena have emerged in conjunction with Indonesia’s development up to the end of the 20th century. Islamism and radicalism in Indonesia have intensified with the rise of globalization over the last ten years and put pressure on Indonesian Islam. Read More…

Posted by: Muhammad Wildan | 5 March 2014

THE NATURE OF RADICAL ISLAMIC GROUPS IN SOLO

The nature of radical Islamic groups in Solo
(Published in Journal of Indonesian Islam Vol. 7 No. 1 June 2013)
Muhammad Wildan

Abstract
Radical Islamism is a challenging new phenomenon in the modern world, including Indonesia. Solo presents an especially interesting case because a disproportionate number of radical Islamic groups have emerged from there such as Pondok Ngruki, Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS) and other Islamic vigilante groups that are among the most radical in the city. This paper will explore and map the nature of Islam in Solo that finally led to the emergence of radical groups. Dramatic changes at the national level have made Solo more politically conducive to radical Islamic groups, but this is not the only reason why they have proliferated. In addition, historical and sociological accounts of the city are also necessary to study to see this phenomenon more thoroughly. The heavily abangan (nominal Muslims) majority of the city has been subject to deprivation because of ethnic, economic and political factors. On the other hand, the intense of dakwah (proselytizing) conducted by some Islamic groups has given rise to ‘instant’ Muslims who see Islam as the ultimate solution to their problems. The call for jihād, sharī‘ah and contentious political style are among the ways of some radical Islam groups to endeavour for the victory of Islam. It is interesting to see how all the above phenomena have given the rise of radical Islamic groups in the town. Read More…

Posted by: Muhammad Wildan | 6 October 2013

POLARISASI MASYARAKAT DAN GEJALA RADIKALISME DI PEDESAAN INDONESIA

Muhammad Wildan

Abstrak
Masyarakat pedesaan dikenal mempunyai peran signifikan secara kultural bagi bangsa Indonesia. Adalah masyarakat pedesaan yang masih menyimpan budaya kekerabatan, dan tradisi komunal seperti saling mengenal, gotong-royong, dan juga kerukunan beragama. Krakteristik utama masyarakat pedesaan lebih mengedepankan keharmonisan dan cenderung menghindari konflik. Seiring dengan modernisasi dan globalisasi, masyarakat pedesaan mengalami perkembangan yang sangat signifikan yang pada gilirannya merubah struktur dan budaya masyarakat pedesaan secara drastis. Globalisasi-lah yang telah menyamarkan batas-batas geografis dan kultural masyarakat pedesaan. Budaya dan agama yang pada awalnya bersinergis membentuk tatanan adat di masyarakat kemudian menjadi dua poros yang berseberangan. Merebaknya radikalisme agama dalam 12 tahun terakhir ini tidak hanya rentan pada masyarakat perkotaan, tapi juga masyarakat pedesaan. Tulisan ini berusaha untuk melihat bagaimana modernisasi dan globalisasi telah mengoyak dan mempolarisasikan masyarakat pedesaan sehingga radikalisme agama yang merupakan gejala trans-nasional akhirnya juga merebak di pedesaan. Tulisan ini memberikan beberapa langkah-langkah alternatif yang sebaiknya dilakukan oleh pengambil kebijakan untuk bisa mengembalikan pedesaan sebagai kantong-kantong kultural bangsa ini.

Keyword: komunal, modernisasi, globalisasi, polarisasi, radikalisme. Read More…

Posted by: Muhammad Wildan | 30 March 2013

MULTIKULTURALISME DAN ISLAMISME DI INDONESIA

Pendahuluan
Tak diragukan lagi bahwa Indonesia merupakan sebuah negara-bangsa yang mempunyai beraneka ragam budaya (multikultur). Berbagai ras, etnis, agama, dan juga bahasa menjadikan Indonesia sebagai negara yang plural akan budaya. Keragaman budaya yang sekaligus kekayaan budaya Indonesia ini adalah sebuah keuntungan di satu sisi, tapi bisa juga sebagai sebuah ancaman bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sayangnya, keragaman budaya ini dikelola oleh pemerintah Orde Baru ke dalam suatu keseragaman yang represif, sehingga multikulturalitas bangsa Indonesia menjelma menjadi suatu sosok yang membahayakan, dan bahkan bisa menjadi bom yang bisa meledak sewaktu-waktu. Sebetulnya, keragaman budaya bangsa ini sudah disadari sepenuhnya oleh founding fathers Indonesia yang kemudian melahirkan sebuah konsep Bhinneka Tunggal Ika (keragaman dalam kesatuan). Walaupun belum sepenuhnya berparadigma multikultural, Pancasila sebagai dasar negara dalam beberapa disusun berdasarkan keragaman budaya Indonesia. Namun dalam prakteknya, selama masa Orde Baru multikulturalime telah diterjemahkan secara salah sehingga mengarah pada keseragaman, bukan keragaman. Read More…

Older Posts »

Categories