Oleh: Muhammad Wildan | 5 Maret 2014

THE NATURE OF RADICAL ISLAMIC GROUPS IN SOLO

The nature of radical Islamic groups in Solo
(Published in Journal of Indonesian Islam Vol. 7 No. 1 June 2013)
Muhammad Wildan

Abstract
Radical Islamism is a challenging new phenomenon in the modern world, including Indonesia. Solo presents an especially interesting case because a disproportionate number of radical Islamic groups have emerged from there such as Pondok Ngruki, Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS) and other Islamic vigilante groups that are among the most radical in the city. This paper will explore and map the nature of Islam in Solo that finally led to the emergence of radical groups. Dramatic changes at the national level have made Solo more politically conducive to radical Islamic groups, but this is not the only reason why they have proliferated. In addition, historical and sociological accounts of the city are also necessary to study to see this phenomenon more thoroughly. The heavily abangan (nominal Muslims) majority of the city has been subject to deprivation because of ethnic, economic and political factors. On the other hand, the intense of dakwah (proselytizing) conducted by some Islamic groups has given rise to ‘instant’ Muslims who see Islam as the ultimate solution to their problems. The call for jihād, sharī‘ah and contentious political style are among the ways of some radical Islam groups to endeavour for the victory of Islam. It is interesting to see how all the above phenomena have given the rise of radical Islamic groups in the town. Baca Lanjutannya…

Muhammad Wildan

Abstrak
Masyarakat pedesaan dikenal mempunyai peran signifikan secara kultural bagi bangsa Indonesia. Adalah masyarakat pedesaan yang masih menyimpan budaya kekerabatan, dan tradisi komunal seperti saling mengenal, gotong-royong, dan juga kerukunan beragama. Krakteristik utama masyarakat pedesaan lebih mengedepankan keharmonisan dan cenderung menghindari konflik. Seiring dengan modernisasi dan globalisasi, masyarakat pedesaan mengalami perkembangan yang sangat signifikan yang pada gilirannya merubah struktur dan budaya masyarakat pedesaan secara drastis. Globalisasi-lah yang telah menyamarkan batas-batas geografis dan kultural masyarakat pedesaan. Budaya dan agama yang pada awalnya bersinergis membentuk tatanan adat di masyarakat kemudian menjadi dua poros yang berseberangan. Merebaknya radikalisme agama dalam 12 tahun terakhir ini tidak hanya rentan pada masyarakat perkotaan, tapi juga masyarakat pedesaan. Tulisan ini berusaha untuk melihat bagaimana modernisasi dan globalisasi telah mengoyak dan mempolarisasikan masyarakat pedesaan sehingga radikalisme agama yang merupakan gejala trans-nasional akhirnya juga merebak di pedesaan. Tulisan ini memberikan beberapa langkah-langkah alternatif yang sebaiknya dilakukan oleh pengambil kebijakan untuk bisa mengembalikan pedesaan sebagai kantong-kantong kultural bangsa ini.

Keyword: komunal, modernisasi, globalisasi, polarisasi, radikalisme. Baca Lanjutannya…

Oleh: Muhammad Wildan | 30 Maret 2013

MULTIKULTURALISME DAN ISLAMISME DI INDONESIA

Pendahuluan
Tak diragukan lagi bahwa Indonesia merupakan sebuah negara-bangsa yang mempunyai beraneka ragam budaya (multikultur). Berbagai ras, etnis, agama, dan juga bahasa menjadikan Indonesia sebagai negara yang plural akan budaya. Keragaman budaya yang sekaligus kekayaan budaya Indonesia ini adalah sebuah keuntungan di satu sisi, tapi bisa juga sebagai sebuah ancaman bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sayangnya, keragaman budaya ini dikelola oleh pemerintah Orde Baru ke dalam suatu keseragaman yang represif, sehingga multikulturalitas bangsa Indonesia menjelma menjadi suatu sosok yang membahayakan, dan bahkan bisa menjadi bom yang bisa meledak sewaktu-waktu. Sebetulnya, keragaman budaya bangsa ini sudah disadari sepenuhnya oleh founding fathers Indonesia yang kemudian melahirkan sebuah konsep Bhinneka Tunggal Ika (keragaman dalam kesatuan). Walaupun belum sepenuhnya berparadigma multikultural, Pancasila sebagai dasar negara dalam beberapa disusun berdasarkan keragaman budaya Indonesia. Namun dalam prakteknya, selama masa Orde Baru multikulturalime telah diterjemahkan secara salah sehingga mengarah pada keseragaman, bukan keragaman. Baca Lanjutannya…

Abstrak
Masyakarat Jawa memiliki kekayaan budaya yang luar biasa berupa naskah yang sangat banyak. Naskah-naskah peninggalan abad 18 dan 19 itu itu menyimpan berbagai pengetahuan dan budaya masa lampau yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Naskah-naskah tersebut saat ini banyak tersebar di beberapa kraton, museum, atau koleksi pribadi baik di dalam maupun luar negeri. Sayangnya banyak manuskrip yang kurang terawat dengan baik sehingga banyak diantaranya yang rusak, khususnya yang berada di Jawa. Selain itu informasi mengenai naskah tersebut juga kurang tersedia dengan baik yang bisa diakses dengan mudah oleh para pengguna/peneliti. Dengan harapan naskah-naskah tersebut bisa dimanfaatkan secara terus-menerus oleh generasi-generasi yang akan datang, maka proyek konservasi naskah itu sangat perlu dilakukan. Berbagai tantangan proyek adalah pemilik yang kurang perhatian terhadap koleksi naskahnya, para pengelola perpustakaan yang kurang mengetahui cara menangani naskah, hingga para pengguna (users) yang tidak tahu cara memperlakukan naskah dengan baik. Baca Lanjutannya…

Oleh: Muhammad Wildan | 15 Maret 2012

Kampus basis gerakan Islam radikal?

Muhammad Wildan

Maraknya berbagai ancaman bom akhir-akhir ini dari bom buku hingga bom Serpong menandakan masih suburnya gerakan Islam radikal di Indonesia. Salah satu faktor penting dalam gerakan Islam radikal seperti NII adalah rekruitmen anggota. Dalam melakukan rekruitmen, gerakan Islam radikal menggunakan beberapa cara tergantung pada calon korbannya. Beberapa kasus pencucian otak (brain washing) yang marak akhir-akhir ini hanyalah salah satu cara rekruitment anggota gerakan Islam radikal seperti NII.
Baca Lanjutannya…

Muhammad Wildan

Abstract
Radical Islamism is becoming a challenging new phenomenon in the modern world. In the Indonesian context, Solo is interesting because some radical Islamic groups have emerged in the region—Pondok Ngruki, Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS), and others. One basic assumption is that Solo is prolific for radical Islamic groups. This paper will explore and map the nature of Islam, especially radical, in Solo. Obviously, political conduciveness at the national level is not the only factor supporting the peculiarity of the city. Some historical and sociological accounts of the city are also necessary to study to thoroughly understand this phenomenon. The heavily abangan (nominal Muslims) majority of the city has been deprived by ethnic, economic and political factors. On the other hand, the intense dakwah (proselytizing) conducted by some Islamic groups has given rise to ‘instant’ Muslims who see Islam as the ultimate solution to their problems. The call of jihād, sharī‘ah, and contentious politics are among the ways some radical Islamists’ endeavour for the victory of Islam. Baca Lanjutannya…

Oleh: Muhammad Wildan | 26 September 2010

PONDOK NGRUKI DAN RADIKALISME AGAMA DI INDONESIA

Muhammad Wildan

Abstract
The bomb explosion in WTC US in 11 September 2001 has shocked the world. Moreover, the authority considered that a certain Muslim group did the bombing. This accusation has certainly labeled Islam as one of the great threat of the world; Islam is terrorism. In Indonesian context, the Bali bombings in 12 October 2002 has made Indonesian authority to blame a certain Muslim group as the doer of the bombing. One of the results then, Pondok Ngruki has been becoming a “famous” boarding school in Indonesia. It is due to the involvement of some Pondok Ngruki graduates and the possibility involvements of KH Abu Bakar Ba’asyir as he was involved in some radicalism during the New Order period. Baca Lanjutannya…

Oleh: Muhammad Wildan | 18 Juli 2010

Jihad dan Teror: Sebuah Wacana Tak Berujung

Muhammad Wildan

Bom yang terjadi tanggal 17 Juli 2009 di Mega Kuningan atau bom-bom lain yang terjadi di negeri ini menyisakan pertentangan wacana di masyarakat. Sebagian masyarakat menyatakan bahwa itu adalah teror dan sebagian lain menyakini sebagai jihad. Bom-bom itu dikatakan teror karena hal itu menimbulkan rasa takut dan cemas di masyarakat. Di pihak lain, tindakan itu dikatakan jihad karena dimaknai sebagai “balasan” atas ketidakadilan dan hegemoni Amerika terhadap umat Islam di berbagai belahan dunia selama ini. Baca Lanjutannya…

Muhammad Wildan

Abstrak
Pemerintah Orde Baru muncul dengan dukungan penuh dari umat Islam yang merasa banyak diuntungkan dengan pembasmian pemberontakan PKI. Pada periode awal hubungan umat Islam dengan pemerintah masih cukup bagus, yaitu sejak berdirinya Orde Baru hingga awal tahun 1970-an. Keinginan umat Islam yang tidak diakomodasi oleh pemerintah menjadikan mereka putus asa dan enggan untuk bergandengan tangan dan bersama-sama membangun masyarakat. Respon negatif umat Islam terhadap upaya pemerintah untuk bersama-sama inilah yang kemudian ditanggapi secara dingin oleh pemerintah. Resistensi umat Islam ini kemudian oleh pemerintah dianggap secara serius dan berakhir dengan rasa curiga. Kecurigaan pemerintah terhadap umat Islam inilah yang kemudian berlanjut dengan berbagai tindak kekerasan pemerintah terhadap umat Islam dan yang terakhir adalah kebijakan asas tunggal pada tahun 1985. Di pentas politik, praktis peran umat Islam secara formal telah di banyak dipangkas. Walaupun demikian, patut dicatat di sini bahwa, beberapa organisasi pemuda, seperti HMI, PII dan GPII, mempunyai peran yang cukup signifikan dalam percaturan politik pada awal periode Orde Baru. beberapa tokoh organisasi inilah yang ikut berperan dalam menyumbangkan pemikiran-pemikiran positif terhadap pola perjuangan umat Islam Indonesia.
Baca Lanjutannya…

Muhammad Wildan

Abstrak
Sejak awal kemerdekaan sampai pada akhir masa Orde Lama, umat Islam Indonesia mengalami banyak tantangan. Sebagai umat beragama mayoritas di Indonesia, umat Islam merasa berhak bahwa Islam menjiwai kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itulah banyak pemimpin umat Islam yang keberatan terhadap dihapusnya tujuh kata dalam Pancasila dalam Piagam Jakarta (yaitu, dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) dan juga pemakaian Pancasila sebagai dasar negara. Mereka beranggapan bahwa tujuh kata dalam Pancasila itu harus tetap ada karena itu merupakan kompromi final ketika Pancasila itu dirumuskan. Ketika Pancasila sudah tidak lagi mengandung tujuh kata tersebut di atas, mereka juga beranggapan bahwa Pancasila tidak lagi sesuai sebagai dasar negara Republik Indonesia. Sebagian di antara mereka berjuang lewat politik dan sebagian lain memperjuangkan lewat jalur keras atau radikal. Dalam bidang politik, lewat organisasi politik Masyumi umat Islam terus memperjuangkan aspirasi mereka. Namun akhirnya mereka harus sadar bahwa kesadaran umat Islam secara umum tidak seperti yang mereka harapkan.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.